
Milan pulang dari kantor, dia memasuki rumahnya, lalu melihat Aisyah yang sedang menyiapkan makanan.
"Dua hari lagi pernikahan kita, kamu makan yang banyak ya."
Milan acuh tak acuh, dia melenggang pergi begitu saja menuju dapur. Aisyah menghela napas pelan, walaupun hatinya tidak benar-benar dalam kondisi baik. Bahkan Milan tidak mengucapkan sepatah kata pun.
'Aku tau, kamu masih sangat mencintai Nelam,' batin Aisyah.
Setelah menyiapkan makanan, harusnya setelah magrib Aisyah mengajar ngaji di pesantren. Tapi Aisyah meminta temannya untuk menggantikannya dulu.
Wanita itu duduk di kursi yang di depannya sudah terdapat makanan yang dia tutup dengan tudung saji.
30 menit kemudian.
'Milan tidak akan pernah membuka hatinya untukku, sebenarnya aku tidak mau memaksanya untuk menikahiku, tapi ini wasiat ibunya," batin Aisyah.
Aisyah melihat kedatangan Milan dari kamarnya setelah mandi dan mengganti baju. Pria itu duduk di sebelah Aisyah.
"Ini kamu yang masak?" tanyanya dengan manis.
Aisyah mengangguk. "I-iya, tapi udah agak dingin."
Milan dengan semangat memegang centong nasi. "Pasti enak banget masakan kamu."
Aisyah tersenyum kecil memperhatikan Milan, dia tampak berubah. Setelah mengambil nasi dan lauk pauk, Milan terlihat sangat menikmati makanan Aisyah.
"Rasanya kayak masakan Umi."
"Kita emang sering masak bersama, Umi kamu sering ngajarin aku."
Milan terhenti lalu melihat wajah Aisyah dengan mata bergelombang. "Aku kangen Umi yang bawel."
Aisyah mengusap bahu kanan Milan. "Umi udah di surga."
"Masakan kamu enak."
__ADS_1
"Ma-maksudmu?"
Tiba-tiba Aisyah gugup, dia gemetar, namun perkataan Milan cukup membuat hati berbunga. Aisyah tidak bisa mendeskripsikan rasa bahagianya.
"Masakannya enak."
"Ka-kamu? Apa masih mencintai Nelam?
Milan memasukan makanan pada mulutnya. "Aku gak bisa berhenti buat cinta sama Nelam, walaupun aku akan menikah denganmu, hatiku tetap untuk Nelam selamanya."
"Apa karena aku kurang cantik?"
"Ini masalah hati, aku mencintai Nelam dari dulu."
"Bukannya puncak cinta adalah merelakan?"
Milan malah terdiam dan hanya menikmati makanannya dan mengacuhkan ucapan Aisyah.
"Bila kita menikah dan kamu masih mencintai Nelam, bagaimana kita akan bahagia?"
Aisyah bangkit dari duduknya. "Aku pulang ya."
"Iya."
"Di luar hujan, kamu ada payung?"
"Aku gak punya payung."
'Bahkan Milan tidak memintaku untuk tetap di sini walau hujan deras,' batin Aisyah.
Aisyah langsung pergi dari hadapan Milan, dia berlari dengan kencang menerobos hujan. Walaupun rumahnya tidak jauh dari rumah Milan.
Aisyah menangis, air mata bercampur air hujan. Rasanya sakit mendengar perkataan Milan.
'Aku harus sabar, aku yakin, Milan akan berubah,' batin Aisyah.
__ADS_1
'Aku tau Mil, mencintai sulit, dan melupakan seseorang yang sangat berarti di masa lalu juga sangat sulit, karena kenangan itu masih berputar di kepalamu," batin Aisyah.
***
Aksa dan Debi sudah dua kali mengelilingi kota Jakarta, namun tidak bisa menemukan keberadaan Nelam. Jalan satu-satunya hanya Dirga, namun pria itu tampak sibuk.
Aksa memandang kaca mobil, hujan deras di luar, dia memikirkan Nelam dan Raka yang entah dimana mereka berada. Perasaannya hampa, gelisah dan khawatir.
"Kita tidak menemukan mereka."
"Aku akan tetap mencarinya."
"Kau pikirkan bagaimana cara menyingkirkan Rania."
"Aku tidak ada waktu untuk itu."
Kit..
Debi memberhentikan mobilnya di sebuah rumah, matanya membelalak memperhatikan sesuatu, sedangkan Aksa masih dengan pandangannya yang kosong.
"Dia Rania! Sedang apa dia membawa plastik besar."
Aksa segera turun dari mobilnya kemudian menghampiri Rania. Aksa ingin sekali menarik wanita itu ke kantor polisi karena pernah menenggelamkan Nelam waktu di hotel.
"Kau! Sedang apa!" tegurnya, wanita itu terlihat sangat panik kemudian dia tersenyum.
"Aku mau buang sampah."
Aksa menelisik namun dia melihat tangan kanan Rania yang dia sembunyikan di belakangnya.
"Kenapa tanganmu banyak darah?"
***
Vote dan komennya ya!
__ADS_1