
"Dirga!"
"Aksa!"
Segeralah Nelam dan Aksa bangkit dari duduknya menunggu Dirga yang berjalan ke arah mereka.
"Kenapa kami di sini!" ucapnya dengan ketus.
"Dir, Nelam itu calon istriku, oh iya, kamu sama Nelam udah berteman lama, kan?"
"BAJINGAN!" teriak Dirga, pria itu meraih kerah kemeja Aksa. "JADI KAMU MANTAN SUAMI NELAM!"
"BUKAN DIRGA!" teriak Nelam. "DIRGA LEPASIN! LEPASIN ATAU AKU BAKAL MARAH SAMA KAMU!"
Dirga melepaskan pegangan tangannya. "APA INI!"
"AKU CINTA SAMA PAK AKSA, AKU AKAN MENIKAH!"
"GAK BOLEH DEWI! KAMU GAK PUNYA HATI, APA HAH!"
Dirga memegang leher Nelam kemudian mencekiknya, membuat Aksa melotot tek percaya, segeralah Aksa berusaha melepaskan tautan tangan itu hingga terlepas.
"KALAU AKU GAK BISA DAPETIN KAMU! SIAPAPUN GAK BOLEH NIKAH SAMA KAMU!"
"KAMU EGOIS DIRGA!"
PLAKK!
"AWW, SAKIT DIRGA!"
"MAMAA!" teriak Raka sambil menangis di brankar rumah sakit.
Nelam segera menghampiri Raka dan menutup matanya.
Aksa memegang kerah kemeja Dirga kemudian menghajar pipinya dengan kencang membuat Dirga jatuh ke bawah. Aksa memegang kendali, dia berada di atas Dirga.
__ADS_1
"LUPAKAN KERJA SAMA KITA! LUPAKAN PERTEMANAN KITA!" teriak Aksa.
BUGH..
BUGH..
"AKU TIDAK TERIMA ATAS PERLAKUAN MU PADA NELAM!"
Dirga menghajar pipi Aksa hingga posisi terbalik. "AKU GAK RELA KAMU MENIKAH DENGAN DEWI! DIA PACARKU!"
Keributan ini membuat Mama dan Papa Aksa beserta para bodyguard-nya memasuki ruang inap Raka.
"Lerai mereka!" perintah Tuan Gilang.
Mereka mencoba memisahkan Aksa dan Dirga, kemudian Tuan Gilang menghampiri mereka. Satu per satu dia tampar.
"Kalian itu! Sebagai saudara, harus saling menjaga!"
Dirga tersenyum hambar. "Aku tidak mau mempunyai saudara pengecut seperti dia."
"Dia nyakitin Nelam Pah, dia nampar Nelam! Aksa gak terima perlakuannya!"
Plakk..
Tuan Gilang menampar pipi Dirga, lelaki itu mendengus kesal.
"Begitu kah perlakuannya pada seorang wanita?"
"Dia memang pantas ditampar," ucap Aksa.
"ARGGH!" Geram Dirga, kemudian berlalu begitu saja dari hadapan mereka. "Aku bakal rebut dia darimu! Lihat saja!" ucap Dirga, terlihat sangat obsesi pada Nelam.
Aksa menyeka darah dari sudut bibirnya kemudian mengusap rambutnya yang basah karena keringat. "Aku tidak takut sedikit pun."
Nyonya Kinan menggerakan pipi Aksa ke kiri dan kanan. "Memar sekali, awas saja, aku akan beritahu ibunya. Kak Clarisa pasti akan memarahi anak itu!" dendamnya.
__ADS_1
Aksa berjalan menghampiri Raka dan Nelam yang terlihat ketakutan. Tangannya terulur, anak itu mengisyaratkan agar Aksa memeluknya, sungguh, membuat Mama dan Papa Aksa menggeng air matanya.
"Papa gak kenapa?" tanya anak itu.
Aksa mengusap pucuk kepala Raka. "Jagoan Papa, udah sembuh ya! Papa kan udah bilang, kalau laki-laki harus?"
"Kuat," balas Raka.
"Laki-laki kuat itu harus bisa?"
"Ngelindungin Mama."
"Harus bisa jadi anak yang?"
"Berbakti sama orang tua."
Nelam memegang dadanya, sungguh perkataan Aksa membuat hatinya tenang. Dia memang calon Ayah yang baik.
Aksa melihat wajah Nelam, kemudian Nelam memegang sudut bibirnya yang berdarah.
"Kamu bonyok, tau."
Aksa memegang kedua tangan Nelam. "Aku akan berdarah-darah hanya untukmu."
Aksa merengkuh Nelam kepelukannya. "Tetaplah di sini, akan ku tunjukan betapa berharganya dirimu bagiku, tidak perduli bagaimana kehidupan selanjutnya, yang jelas aku akan terus memperjuangkanmu. Aku akan bertahan, aku akan terus meminta maaf padamu."
"Jangan meminta maaf, karena kau cukup baik."
"Tapi sebenarnya pelakunya aku."
"Pelakunya?"
***
Vote dan komennya.
__ADS_1