
Proses melahirkan sendiri akan menjadi pengalaman paling berkesan untuk Nelam. Perjuangan seorang Ibu telah dia rasakan, mengingat kejadian itu terkesan membuatnya sedih bercampur bahagia.
Hari demi hari telah Nelam lewati. Dia menggendong Raka, bayi yang baru dilahirkannya seminggu yang lalu. Senyum bahagia terlukis di wajahnya, menatap manik mata polos di depannya begitu menyegukan hati.
Bayi mungil itu menangis, Nelam yang sedang menggendong sekaligus menjemurnya di pagi hari beranjak masuk ke dalam rumah untuk memberikan ASI.
"Uh... Sayang, kamu haus ya nak, jangan nangis sayang.. minum yang banyak. Cup.. cup.. cup.. kalau Raka udah besar, jadilah anak yang baik, jangan pernah menyakiti hati orang lain dan jangan menjadi pendendam." Nelam masih menyusui anaknya. Walaupun masih berumur 19 tahun, pemikiran dan sikapnya terkesan dewasa. Kesadarannya bahwa dia harus menjadi single-parent, membuat dia harus lebih mandiri.
"NELAM!"
Seorang Ibu dengan sikap pongahnya memasuki rumah Nelam. Langkahnya terhenti saat melihat Nelam menyusui anaknya.
"Kamu pergi dari rumah ini, udah dua bulan kamu nunggak. Cepat beresin barang-barang kamu!" Segaknya membuat Nelam terlonjak kaget. Dia berdiri, masih menggendong bayinya.
"Ta-tapi Bu, nanti saya tinggal dimana?"
"Itu sih urusan kamu, bukan urusan saya. Cepet pergi! Kemasin barang-barang kamu!"
"Yaudah kak, kita pergi aja.." ucap Reno yang baru keluar dari kamarnya, Bu Kos itu melipat tangannya lalu menampilkan sringaian kejamnya.
Nelam dan Reno masuk ke kamar untuk membereskan baju-bajunya. Tempat tinggal saja tidak ada untuknya, apakah kehidupan juga ada? Bagi seorang Nelam, cobaan itu hanya akan menguatkannya. Untuk adik dan anaknya, dia akan bertahan. Sekejam apapun perlakuan orang padanya.
__ADS_1
"Kita ke rumah Kak Doni dulu ya.." Ucap Nelam membuat Reno terhenti dia menatap wajah Nelam sambil menggeleng pelan.
Reno masih menggendong Raka sembari menimang bayi mungil itu. "Kak Doni mana mungkin nerima kita," lirihnya.
"Kita coba dulu, siapa tau Kak Doni ngerasa kasian, bagaimana pun kita masih sedarah dengannya. Tidak ada bekas kakak atau pun bekas adik, kita tetap saudara." Nasehatnya menbuat Reno hanya menghela napas panjang.
"Reno cuma kasihan sama Raka, dia pasti kedinginan kalo keluar rumah."
"Nelam! Cepat keluar!" Pekikan dengan nada tinggi itu membuat Nelam bergegas membawa tasnya yang berisi pakaian. Mereka keluar dari kamar, menatap Bu Kos lirih.
"Saya pamit Bu, Assalamualaikum.."
***
Nelam dan Reno beranjak pergi, Nelam menggendong bayi mungilnya lalu tas bayi dia letakan di lengan kirinya. Reno membawa tasnya dan tas milik kakaknya. Sesekali dia menoleh ke belakang melihat Bu Kost yang sedang menggibasi wajah dengan kipas lalu menatap rumah sewa itu.
"Bener kata Ayah, kita gak bakal lama tinggal di sana." Ucap Reno membuatnya melirik sendu.
"Banyak kenangan di rumah itu sama Ayah sama Ibu, tapi bukannya kehidupan bakal terus berjalan sampai aja menjemput. Begitupun dengan kita, mungkin nanti akan mendapat kebahagiaan lagi. Sabar adalah kuncinya," ucap Nelam.
***
__ADS_1
Jarak antar rumah sewa Nelam dan kakaknya Doni tidak terlalu jauh. Telah sampai di depan rumah, Kak Doni dan Istrinya menatap mereka dengan dingin di lawang pintu.
"Mau apa kalian!" Bentaknya membuat Nelam tercekat.
"Kamu di usir dari kontakan?" Tempal istrinya Doni.
"Hmpt-- terus kalian mau tinggal di sini, gitu?" tanyanya ketus, Nelam mengangguk memberi jawaban pada kakak iparnya.
"Boleh." Kata Doni membuat Feni melotot.
"Bayi kamu serahin sama kita, kamu nikah sama si Guntur." Jelasnya membuat Nelam menggeleng cepat.
"Jangan ambil bayi ku! Aku gak mau nikah sama Kakak kejam itu!" Tegasnya lalu Nelam menarik Reno pergi dari hadapan Doni.
"Yasudah! Jadi gelandangan sana!" Teriaknya namun Nelam tidak menggubris perkataannya.
***
Bersambung...
Vote dan komen, ya!! 😍
__ADS_1