
"Maksudmu apa? Aku gak mengerti perkataanmu?"
Aksa memegang kedua bahu Nelam. "Aku telah menyakitimu begitu dalam."
Nelam mengerutkan keningnya. "Menyakitiku?"
"Aku lah pria yang telah-"
"Apa?" Nelam dengan kedua bola matanya yang tertuju pada mata tajam Aksa.
"Aku pria yang telah membuatmu jatuh Cinta."
Nelam menghembuskan napasnya lega kemudian menggebuk tangan kanan Aksa. "Kau! Buat ku kaget saja!" ucapnya sambil cemberut.
Aksa meraup pipinya dan menggerakan ke kiri-kanan. "Kau lucu kalau sedang kesal seperti ini."
Tok.. tok..
"Permisi."
Aksa dan Nelam melihat ke arah pintu, ada Nadya, Eva dan Farida yang tampaknya akan menjenguk Raka.
"Ada temanmu, aku tunggu di luar," ucap Aksa.
Aksa perjalanan ke arah pintu, tiga orang wanita itu menunduk sedikit. "Pagi Pak," sapa Nadya.
Mereka berjalan ke arah Nelam, setelah sampai menyodorkan parsel buah-buahan.
__ADS_1
"Makasi ya."
"Iya Bu Nel, kita kangen sama Bu Nel."
"Sama, aku juga kangen kalian," ujar Nelam.
Eva mencubit pipi Raka."Gemesin banget sih."
Raka cemberut melihat Eva dengan sinis."No, no! Gak boleh cubit-cubit."
Nadya. "Elu mah, tangan lu kotor tuh."
Eva cemberut lalu duduk di dekat ranjang Raka. "Eh Ibu, bentar lagi jadi manten ya, Bu."
Farida ikut duduk di sebelah Eva. "Cocok banget Bu Nel sama Pak Aksa. Duda sama janda," ujarnya. "Yang panting sayang sama anak kita ya Bu."
"Iya Bu Nel, bakal jadi nyobes nih."
"Ape sih Nad, elu mah gaje."
***
Dirga sedang mencari sebuah map, setelah menemukannya, tiba-tiba sebuah kertas terjatuh, segeralah dia melihat kertas itu dan membaca tulisan di dalamnya.
Dari Dewi untuk Dirga.
Terimakasih telah menjadi sahabat paling baik. Kamu selalu ada untukku, kamu melindungiku. Maaf Dir, aku gak bisa balas perasaanmu karena aku ingin kamu tetap jadi sahabat ku. Karena aku yakin, mencintai itu akan saling menyakiti. Jadi aku gak mau menyakitimu dan sebaliknya. Jangan biarkan perasaanmu itu membuat kita bertengkar, dan perasan cinta kamu itu membuat kita canggung. Tetap lah menjadi sahabat ku, dan belajarlah mencintai orang lain.
__ADS_1
"Kamu benar Dew, perasaan ku pada mu itu membunuh kita perlahan, aku tidak mau hubunganku dan kamu, begitu juga kerja sama ku dengan Aksa hancur berantakan. Bodohnya aku, berpikir kalau kamu menerima cintaku lalu melupakan itu semua dan mengkhianati ku, sekarang aku mengerti Dew," gumam Dirga.
Dirga kembali duduk di kursinya, kemudian melihat pesan dari Aksa.
Aksa Brother : Mari bicarakan masalah ini dengan kepala dingin. Aku yakin, kamu salah paham.
Dirga : Baiklah, temui aku di rumahku.
"Aku sudah di sini," ucap seorang lelaki masuk ke ruangan Dirga.
Aksa berjalan menuju sofa di dekat meja Dirga, kemudian dia duduk.
"Badanku lelah karena tiba-tiba saja aku baku hantam."
Dirga masih membereskan file-nya. "Aku tidak menyangka, kalau kau dan Dewi ternyata sudah saling kenal."
"Aku memang sangat mencintainya, kalau aku tau dia pacarmu dulu, aku tidak akan menyukainya, tapi maaf, aku tidak bisa melepaskannya untukmu."
Dirga menghela napas pelan lalu mengangguk kecil. "Aku mengerti, segeralah menikahinya, jangan kau sakiti dia."
Aksa tersenyum lega. "Terimakasih telah merelakan dia untukku."
"Karena cinta tidak bisa dipaksa, obsesi ku padanya akan membunuhnya perlahan. Jadi aku tidak mau dia semakin menderita, buat lah dia bahagia."
"Aku akan menjamin hal itu."
***
__ADS_1
Vote dan komennya ya..