
Apabila cinta, jangan pernah bilang tidak cinta, karena ketika orang yang kamu cinta pergi, kamu akan sangat kehilangan - Aksa Mahendra.
***
"Ibu, cantik bener dah," puji Nadya.
Mereka berada di dekat meja yang dipenuhi berbagai jenis makanan. Sambil menikmati puding lezat di piring kecil, mereka berempat berbincang. Terlihat sangat anggun dengan dress selutut. Dan Eva, sangat risih dengan bajunya karena dia terbiasa menggunakan baju oversize seperti pria.
"Ribet bener dah!" keluh Eva.
"Latihan Va, elu kan cewek," ucap Nadya.
"Si Eva pake dress tapi makan sambil angkat kaki kanan ke kursi, pan malu-maluin ye,"
"Serah gua dah Ida! Lu mah ribet amat idup nye!"
"Bu, emangnya Ibu udah punya anak ya?"
Nelam memasukan puding ke dalam mulutnya. "Aku udah punya anak umur 4 tahun."
Uhukk...
Mereka syok, Eva batuk, Farida menelan pudingnya dengan kuat, dan Nadya malah melohok.
"Berarti. lulus SMA langsung hmm?" tanya Nadya.
"Hm apaan ya, Dedek masih polos."
"Sok polos elu Va, kan elu yang ngasih tau tata cara hm."
"Gue mah ngasih tau aje Nad, bukan praktek langsung."
Mereka berbarengan melihat Nelam penasaran. "Cara bikin dede bayi gemes gimana Bu?"
Nelam hanya menahan tawanya.
"Tanya ke mantan suaminya Bu Nelam, kok bisa sejago itu."
"Heh Nad! Ngeres banget pikiran lu, giliran bahas kek gini lu semangat."
Tak lama Aksa menghampiri mereka. Mereka menunduk kecuali Nelam.
"Malam Pak," sapanya berbarengan.
"Ya," balasnya singkat.
Aksa memegang tangan Nelam. "Aku ingin berbicara dengan mu."
Aksa membawa Nelam menjauh dari jangkauan mereka. Mereka bertiga melihat kepergian Nelam dan Aksa.
__ADS_1
"Gimana kalo kita tanya ke Pak Aksa."
"Nanya apaan Nad!"
"Nanya gimana cara hm, Va."
"Udah gile nih bocah, kan kemarin Pak Aksa ma gue udah hm."
Eva menoyor kepala Farida. "Mimpi aja sono, Pak Aksa gak bakal selera sama modelan kek lu, cocoknya sama modelan kek Bu Nelam, cantik, langsing, anggun, manis!"
"Tau luh da, lu mah pantesnya jadi pembantunya," tambah Nadya.
"Gini-gini juga udah nguasain berbagai gaya."
"Da, otak lu ye."
"Btw, mereka ngapain ya, duda sama janda jangan-jangan."
"Da, bebas lah, mereka ini," balas Nadya.
"Tau tuh sirik aja, namanya juga pacaran, dunia serasa milik berdua, yang lain ngontrak!"
"Mana gue belum bayar kontrakan lagi."
Eva dan Nadya menepuk jidat berbarengan.
***
Nelam melihat kiri kanan, pemandangan begitu menyegarkan mata. Aksa sengaja mengajaknya dinner berdua, bahkan tempat ini dikhususkan untuk mereka berdua.
Aksa meraih tangan Nelam lalu mencium tangan mulus itu. "Aku sengaja ingin minum berdua dengan mu."
"Tapi aku gak minum alkohol, tapi kamu keliatannya minum banyak."
"Aku ada banyak tamu tadi, jika aku tidak minum berarti aku tidak menghargai mereka. Jujur, aku tidak minum banyak."
"Aku percaya, kamu profesional."
"Sebenarnya aku tidak suka alkohol, tapi karena tuntutan pekerjaan mau bagaimana lagi."
"Kamu mau nginep di sini?"
"Tentu saja, kamu tidak mau menginap?"
"Aku gak bisa ninggalin Raka sendiri."
"Aku mengerti."
__ADS_1
"Aku udah siapkan file untuk besok."
"Aku belum tanda tangani, malem ini kerjaanku banyak."
"Lalu?"
"Bisa gak kamu membantu aku menyusun filenya?"
Nelam mengangguk dengan semangat. "Tentu."
"Aku ingin bertanya satu hal."
Nelam mengerutkan keningnya. "Tetang apa?"
"Apa aku kurang tampan dimata mu?"
Nelam semakin heran. "Maksudnya?"
"Apa aku gak bisa bikin kamu jatuh cinta?"
'Aku masih trauma,' batin Nelam.
Lagi-lagi Nelam mengalihkan pembicaraannya. "Dimana file-nya, biar aku yang susun."
***
Nelam memasuki kamar penginapan Aksa untuk mencari file di laci, tapi dia tidak menemukannya. Nelam terdiam saat sebuah tangan memeluknya dari belakang.
"Aku mencintaimu, tidak peduli berapa banyak penolakan darimu."
Cup..
Aksa mencium punggung Nelam lalu melepaskan pelukannya. Nelam memutar badannya lalu melihat pria tinggi di depannya.
"Kenapa kamu cinta sama aku?"
"Gak ada alasan, itu urusan hati."
"Kamu terlalu sempurna."
Aksa melingkarkan tangannya pada pinggang Nelam. "Tidak ada yang sempurna, kecuali Tuhan."
Aksa menatap mata Nelam dengan penuh lalu menyatukan bibir mereka berdua. Ciumannya semakin dalam, Nelam mengeratkan pegangan pada bahu Aksa. Karena dia terlalu tinggi, Aksa mengangkat tubuh Nelam dan membuatnya duduk di atas ranjang. Tangan kekar pria itu menyangga. Nelam tengadah, lebih tepatnya melihat mata tajam Aksa. Hatinya bergemuruh.
"Aku ingin bercinta denganmu malam ini."
Nelam memegang pipi Aksa, lalu Aksa semakin mendekatkan tubuhnya hingga wanita itu terbaring di kasur sembari melihat wajah Aksa di atasnya. Entah apa yang membuat Nelam terpana pada sosok tampan di depannya. Benar juga, dunia serasa milik berdua.
***
__ADS_1
Vote dan komennya ya..