SIAPA YANG MENGHAMILIKU?

SIAPA YANG MENGHAMILIKU?
Ragu


__ADS_3

Nelam memeluk tubuh anak kecil itu, kemudian mengusap pucuk kepala Raka penuh kasih sayang.


"Mama, Aka kangen."


"Mama juga kangen Raka."


Aksa duduk di sebelah Nelam membawa sebuah mobil-mobilan.


"Jagoan, jangan sakit lagi ya!" Aksa, kemudian melakukan tos dengan Raka.


Raka tersenyum pada Aksa. "Kan ada Papa."


"Om Aksa, Raka," Nelam membetulkan.


Aksa mengerutkan keningnya. "Bukannya kita akan menikah, Raka sudah jadi anakku."


"Oh iya, ini buat jagoannya Papa!" Aksa, kemudian memberikan mobil-mobilan berikut dengan remotnya.


"Yeay! Aka puna mobil balu.. di rumah banyak, omah opah beli Aka banyak mainan."


Nelam mengusap pucuk kepala Raka. "Raka betah tinggal sama Omah?"


Raka mengangguk bersemangat. "Betah, ada mainan banyak."


"Raka gak betah tinggal sama Mama?"


"Betah, Raka maunya sama Mama, bialin Aka gak main mobilan lagi, tapi mau Mama aja."


'"Uang gak bisa membeli kebahagiaan dan kasih sayang," ucap Aksa. Kemudian dia mengusap punggung Nelam. "Sehat terus, wanita baik."


Nelam tersenyum pada Aksa, kata-katanya membuat hatinya berbunga. Yang jelas, Nelam sungguh mencintai Aksa, dia pria yang sangat baik. Dan kata Nelam, Aksa orangnya jujur dan bertanggung jawab. Hm, benarkah?


Aksa meraih tangan Nelam. "Menurutmu, apa aku bisa jadi Ayah yang baik untuk Raka?"


Nelam mengangguk, kemudian mengusap kepala Aksa. "Tentu, Sayang."


Dag-dug-dug.

__ADS_1


Yang jelas, jantung Aksa berdetak kencang serasa akan terbang keluar ketika Nelam mengusap kepalanya. Sungguh, hatinya berpesta.


"Apakah kamu akan memaafkan ku?"


"Manusia memang tidak luput dari kesalahan, tidak baik menaruh dendam. Memangnya kau salah apa?"


"Banyak terhadap mu."


"Apa? Kesalahan apa?"


'Apa aku ceritakan semuanya sekarang? Aku tidak bisa membohonginya, semakin lama, aku malah menyakitinya," batin Aksa.


"Kau akan memaafkanku?"


"Tentu, aku akan memaafkanmu."


"Sebenarnya ak-"


"Oh, ternyata Kakak di sini," ucap seorang pria yang baru datang itu.


"Aku hanya ingin memberikan ini padamu."


"Oh iya, akan ku tandatangani nanti."


Nelam melihat Debi, 'Bahkan dia tidak peduli, walaupun anaknya sakit,' batin Nelam.


"Dia sakit?" tanya Debi.


"Iya, Raka sakit, tapi sudah membaik kok, keadaannya," ucap Aksa.


Debi melihat Nelam. "Semoga cepat sembuh, anakmu."


'Bahkan dia tidak mau mengakui Raka, sakitnya hatiku,' batin Nelam.


Debi pergi begitu saja, kemudian Nelam sadar akan air matanya yang menggenang. Aksa meraup pipinya. "Kamu kenapa?"


"Aku sakit hati, aku terus membencinya, walaupun aku berusaha untuk tidak menyimpan dendam, bahkan dia terlihat biasa saja saat tau Raka sakit, hatiku sakit. hiks.. hiks.. "

__ADS_1


'Aku tidak mau dia membenciku seperti ini, aku akan membicarakan kebenarannya nanti, saat aku telah menikahinya,' batin Aksa.


Nelam bersandar di bahu Aksa. "Tidak apa-apa, yang penting aku sangat menyayangi Raka lebih dari apapun."


"Janji, kau akan menganggap Raka seperti anakmu sendiri?"


"Tentu Sayang, kau boleh menamparku kalau aku bohong."


Nelam melihat layar handphone-nya ketika seseorang menelponnya.


"Hallo, Kamu mau kesini? Yaudah kesini aja."


"Aku ada di loby, ruangan apa?"


"Ruang Mawar nomer 4."


"okey."


Aksa mengernyitkan keningnya. "Siapa dia? suara laki-laki?"


"Dia sahabat aku, baru pulang dari Amerika."


"Pria?"


"Iya, tapi cuma sebatas teman saja."


"Kamu tau, rintangan saat akan menikah itu berat, aku tidak mau kamu berhubungan dia lagi." Aksa dengan tegas, terlihat bahwa dia cemburu.


"Enggak kok, aku akan tetap memilihmu, " Nelam mengusap pipi Aksa.


"Aku akan tetap di sini sampai temanmu datang."


"Dewi," panggil seorang pria membuat Nelam dan Aksa menoleh.


***


Vote dan komennya ya..

__ADS_1


Vote dan


__ADS_2