SIAPA YANG MENGHAMILIKU?

SIAPA YANG MENGHAMILIKU?
Aku bakal pergi


__ADS_3

Nelam sedang merangkum sejarah. Di sampingnya ada Milan juga sedang mengisi tugas fisika.


"Nel, rumus torsi apa?" tanya Milan.


Nelam masih sibuk menulis namun dia menyahutnya, "Coba lihat di halaman lima."


Milan memindahkan halamannya, dia membulatkan mulut terkejut. "Bahkan kamu bisa hapal halamannya. Kamu pinter banget Nel. "


"Aku udah baca waktu malem."


Nelam mengusap perutnya. "Kamu pasti laper ya Sayang, sabar ya."


Milan melihat Nelam dengan lirih. "Kamu antusias banget nyambut bayi kamu lahir."


"Semua anak anugrah dari Tuhan."


"Jadi, kamu seneng punya anak?"


"Siapa yang gak seneng jadi seorang Ibu, Mil."


"Tapi Nel, kamu kan masih kecil."


"Ada kok yang lebih kecil dari aku yang udah punya anak."


Seorang pria berambut rapi dan memakai kacamata menghampirinya. "Nelam sama Milan, kamu dipanggil kepala sekolah." Katanya membuat Nelam menyerngitkan dahinya.


Wanita itu merasa aneh, kenapa Milan harus terlibat dengan kasusnya yang rumit. 


***


Nelam dan Milan mulai berjalan melewati koridor sekolah. Lagi-lagi mereka menatap Nelam jijik.


"Perutnya buncit..  Benerkan dia hamill.."


"Anak haram yang gak tau mana bapaknya bentar lagi lahir... "


"Ternyata orang pendiam itu lebih berbahaya..."


Nelam hanya menunduk menahan air mata. Hinaan dan celaan mungkin akan terus menimpanya. Terasa saat hujatan itu keluar, hatinya sakit. Dia merasa wanita paling hina di dunia ini, dia merasa bahwa bumi menolak kehadiran anaknya. 


Tok...


Tok..


Tok...


"MASUK..."


Mereka memasuki ruang kepala sekolah. Ibu Bunga, kepala sekolah baru itu melihat perut Nelam yang agak membuncit, mungkin kepsek sedikit mencurigainya. Dan memang gosip di sekolah tentang kehamilan Nelam telah menyebar. 


Milan dan Nelam duduk berhadapan dengan Bu kepsek.

__ADS_1


Bu Bunga menatap mata Nelam serius, "Nelam, apakah benar kamu hamil, coba untuk jujur. Ibu tidak akan memarahimu."


Nelam menunduk.


"Nelam, tenang ya Nak."


Nelam mengangguk, Milan melirik Nelam laku menghembuskan napas pelan.


"Nelam, jawab dengan mengangguk atau menggeleng, Ibu mau nanya."


Nelam mengangguk.


"Hasilnya sudah benar-benar positif? Ya atau tidak?"


Nelam masih terdiam.


"Gak apa-apa Nelam, semua baik-baik aja. Cerita sama ibu," ujarnya. "Siapa tau dengan bicara sama Ibu, kamu jadi sedikit tenang.


Mengangguk sembari meramas roknya.


"Pasangan sex lebih dari satu? Ya atau tidak?"


Menggeleng.


"Banyak perubahan fisik yang kamu alami? Ya atau tidak?"


Mengangguk.


Mengangguk.


"Akan melakukan tindakan aborsi?"


Menggeleng.


"Perut kamu yang buncit itu karena hamil bukan karena kamu gemuk?"


Nelam mengangguk.


"Kamu laluin masa sulit itu sendiri tanpa kamu mau ngomong sama siapa pun?"


Nelam mengangguk.


"Milan tau kamu hamil?"


Nelam mengangguk.


"Kamu jual diri?"


Nelam menggeleng.


"Apakah orang tersebut memaksamu saat kamu tidak ingin berhubungan?"

__ADS_1


Air mata jatuh ke roknya. Isak tangis mulai terdengar dari mulutnya. Nelam malah terdiam. Milan merasakan sakit mendengar pertanyaan itu. Bu Bunga beralih menatap Milan. "Milan, kamu yang udah menghamilinya?" tanya Bu Bunga membuat Milan membelalak. Dia sedikit kaget, karena merasa kasihan dengan Nelam dan bayinya, Milan mengangguk.


"Iya Bu..  Milan yang telah menghamili Nelam." Katanya membuat Nelam yang menunduk mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah Milan dengan cepat.


Bu Bunga memegangi kepalanya merasa pusing dengan kelakuan anak zaman sekarang. "Udah berapa bulan usia kandungan kamu, Nel?" tanyanya, Namun Nelam masih diam tak kuasa menjawab.


"Baru lima bulan, bu." Milan yang menjawab dengan nada normal seakan tidak terjadi apa-apa.


"Tapi terlihat sangat besar. Badan kamu kan kecil. Nelam maafin Ibu, karena sekolah tidak mau saat ujian nanti pengawas dari sekolah lain tau akan kehamilanmu, kamu terpaksa diberhentikan." Tuturnya membuat Nelam dan Milan menatapnya tidak percaya.


"Bu, bagaimana nasib Nelam bu, ini salah Milan. Milan aja yang dikeluarin.l," tawar Milan membuat Bu Bunga menatapnya tajam.


"Kamu gak hamil, Mil! Tetaplah sekolah!" Tegas Bu Bunga.


Bu Bunga mengusap kepala Nelam, gadis itu masih menangis, "Nelam, jadilah Ibu yang baik untuk anak kamu. Semoga kamu berlapang dada menerima keputusan Ibu." Lanjutnya membuat Nelam mengangguk lalu menyeka air matanya.


"Nelam pamit, Bu."


Nelam mencoba tegar dan kuat. Dia bangkit dari duduknya, mencium tangan Bu Bunga dan berjalan keluar dengan pipinya yang basah karena air mata.


Milan mengejarnya.


Nelam berjalan sambil menangis melewati koridor. Teman-temannya masih mencibirnya. Wanita itu masih tegar, dia masih berjalan lesu menuju kelas. Milan menahan tangannya Nelam, lalu memeluk tubuhnya.


"Nel, jangan pergi Nel."


"Aku udah gak pantes di sini Mil."


Milan memegang kedua bahu Nelam. "Kamu pinter, kamu bisa raih cita-cita kamu, katanya kamu mau kuliah."


"Aku gak mungkin kuliah, aku gak punya biaya, aku udah dikeluarin Mil."


"Kamu nyerah gitu aja Nel?"


"Aku gak nyerah Mil, keadaan yang buat aku berhenti."


"Keadaan gak mungkin tega hentiin mimpi kamu Nel."


"Aku bakal jalani ini Mil, walaupun sulit."


"Aku bakal ngomong sama kepala sekolah kalo kamu dijual sama Vera."


"Jangan Mil, kesian Vera, Ayahnya juga bos aku."


"Tapi Nel, Vera udah jahat sama kamu."


"Aku pamit ya Mil."


Nelam berjalan menuju kelas, dia mengusap perutnya lalu menyeka air matanya.


***

__ADS_1


__ADS_2