SIAPA YANG MENGHAMILIKU?

SIAPA YANG MENGHAMILIKU?
Mengerjai


__ADS_3

Aksa melihat jam tangannya. "Seharusnya saya meeting, tapi saya tunda."


"Kenapa Anda tunda, Pak?"


"Saya ingin berdua denganmu."


Nelam mengacuhkan Aksa, tidak menggubris perkataannya. Aksa mendekatinya, Nelam menghindar.


"Pak.. mau apa, nanti orang lain liat."


"Enggak, saya cuma mau liat itu."


Nelam mengerutkan keningnya, lalu dia memperlihatkan kalungnya. "Kalung hati ini?"


"Apa kamu memakainya setiap hari? Apa itu istimewa untuk mu?"


"Kenapa dengan ini?"


"Kamu terlihat cantik memakai kalung seperti itu."


"Iya, makasih Pak."


"Ayok masuk."


Nelam berjalan mendahului Aksa lalu dia berhenti. "Bapak duluan."


"Kenapa?"


"Bapak atasan saya, tidak sopan kal-" Nelam terhenti karena Aksa merangkul bahu kirinya.


"Tidak ada atasan, kita teman."


Aksa memasuki ruangan kembali, dia duduk di kursinya yang agak jauh dengan meja Nelam. Aksa melihat macbook-nya lalu dia melihat jam tangannya. Aksa bangkit lalu menghampiri Nelam dengan tangan kiri di sakunya dan tangan kanannya mengelus kepala Nelam.


Nelam sempat terhenti lalu tengadah melihat Aksa tersenyum hangat padanya.


"Ada kesulitan?"


"Aku sedikit paham, ini gak terlalu sulit."


"Saya tinggal dulu ya, saya harus meeting, tidak lama kok."


"Baik Pak."


Nelam membuka handphone-nya lalu melihat pesan wa dari Reno.


Reno : Gimana Kak? Kakak keterima gak?

__ADS_1


Nelam : Kakak diterima!


Reno : Yang bener Kak! Berarti nanti Reno bisa bayar SPP.


Nelam : Tentu Reno, nanti Reno kuliah di tempat yang Bagus ya.


Reno : Kakak makasih :')


Nelam : Reno pinter, pasti bisa raih cita-cita.


Reno : Pasti Kak :') Reno masih belum menyangka.


Nelam : Iya Ren, Kakak bersyukur bisa dapet kerjaan yang lebih layak. Raka gimana?


Reno : Tadi udah makan, eh iya Kak, Raka nangis terus tadi nanyain Kakak.


Nelam : Pengasuh buat Raka udah dateng belum.


Reno : Udah tapi Raka masih gak mau digendong.


Nelam : Namanya juga awal perkenalan. Udah ya, Kakak lanjut kerja lagi.


Nelam menutup bukunya, dia berniat ke toilet. Setelah di depan pintu otomatis, pintu itu tidak terbuka.


"Ini rusak?!" tanya Nelam panik. "Aku mau pipis. "


***


Setelah dari toilet dia melihat Aksa yang duduk di kursinya.


"Pak, tadi pintunya gak ke buka."


"Sengaja saya kunciin kamu, takutnya Debi masuk."


"Hm, saya kira rusak."


Nelam berjalan ke kursinya, namun dia mengernyitkan dahinya.


"Ini apa Pak?"


"Hand-phone baru buat kamu."


"Tapi kan ini iPhone mahal."


"Sudah pakai saja, atau aku harus membanting hand-phone mu yang jelek itu? Aku punya banyak uang, kamu gak bakal nyesel kalo nikah sama saya."


'Dasar sombong,' batin Nelam.

__ADS_1


"Saya berhak sombong karena saya punya segalanya."


"Kenapa Bapak bisa tau kalo saya.."


Aksa terkekeh kecil. "Berarti benar kan, kamu bilang saya sombong."


"Enggak, maksud saya..."


Aksa mendekati Nelam, lalu memegang dagu Nelam, tidak dipungkiri, bosnya memang sangat tampan.


"Alasan apa lagi, hm?"


Aksa mendekatkan bibirnya pada bibir Nelam namun terhenti saat Nelam menutup bibirnya.


"Memangnya saya kurang tampan sampai kamu menolak saya? Tipe lelaki mu seperti apa?"


Nelam menjauh dari Aksa. "Maaf Pak."


Aksa berjalan ke tempat duduknya dengan kecewa. "Jangan bilang kalau kamu punya suami."


Nelam tidak menjawab.


"Jika kamu punya suami, aku akan menunggu kamu menjanda, atau saya bayar suami mu buat ceraikan kamu."


Nelam mengerutkan dahinya. "Bapak gak berhak seperti itu."


"Dengan uang saya bisa lakukan apapun, termasuk mendapatkanmu."


"Saya takut Bapak obsesi pada saya."


"Saya sudah terobsesi, saya akan paksa kamu, saya tidak akan membiarkan kamu pulang pada suamimu."


Tangan Nelam gemetar. "Pak, saya punya keluarga."


Aksa terkekeh kecil. "Ternyata kamu orang yang sangat serius."


"Jadi Bapak cuma mengerjai saya!"


"Saya tidak mungkin paksa kamu."


Nelam mendecak lalu membereskan bukunya. "Sabar Nel."


"Kamu lucu kalau sedang marah seperti itu."


***


vote dan komen ya..

__ADS_1


__ADS_2