
Pak Aksa : Selamat pagi.
Nelam tersenyum hangat, kemudian dia membalas pesan singkat yang manis itu.
Nelam : Selamat pagi, Pak Aksa.
Aksa : Jangan lupa sarapan, aku diperjalanan menuju rumah sakit. Sekarang sudah di loby.
Nelam : Dokter sudah melepas selang infus, Raka sudah bisa pulang sekarang.
Aksa : Benarkah? Raka sudah sembuh?"
Nelam melihat Raka yang sedang digendong Reno. Air mata Nelam mengalir di pipi, kemudian tangannya menghapus jejak air matanya.
Nelam : Kamu benar, Raka anak yang kuat.
Aksa : Dia sepertiku.
Nelam mengantongi handphone-nya, dia menghampiri Reno, kemudian mencium pipi Raka.
"Raka berat banget, makannya banyak banget," keluh Reno.
"Aka gak oleh endut, Aka gak usah potong pelut," ucapnya polos. "Nanti perutnya banyak dagingnya."
Nelam tertawa kecil kemudian mengusap punggung Raka. "Raka anak yang kuat, harus jadi anak yang baik hati terus apa lagi nak?"
"Nulut sama Mama dan uga Papa."
__ADS_1
Nelam melirik Reno kemudian melihat Raka kembali. "Raka kan punya Om Eno, berati nurut sama Mama dan juga Om Eno."
Raka cemberut. "Tapi kan ada Papa Aksa."
"Panggil Om, ya Raka."
Ceklek..
"Raka!" panggil seorang Ibu berumuran 50 tahun.
Nyonya Kinan menghampiri Raka, kemudian menggendongnya. Nelam dan Reno mengerutkan keningnya heran.
"Cucuku.., kenapa bisa sakit?"
"Raka cuma demam Nyonya."
Nyonya Kinan memelototi Nelam dengan matanya yang tajam. "APA KAMU BILANG! CUMA DEMAM!" sentaknya.
Nyonya Kinan masih melihat Nelam dengan sinis, bahkan dia menjauh saat Nelam mengulurkan tangannya untuk mengambil Raka.
"JANGAN AMBIL RAKA! DIA CUCUKU!"
"Bu, dia anakku!" Nelam dengan nada sedikit tinggi.
Ibu itu tersenyum hambar. "Saya tau, tapi bapaknya lebih berhak!"
"Mama!" suara berat itu membuat mereka melihat Aksa yang berjalan ke arah Nyonya Kinan.
__ADS_1
"Serahin Raka ke Nelam."
"GAK BISA AKSA! DIA CUCUKU, DAN DIA ANAK-" ucapannya tergantung kemudian dia melanjutkan ucapannya. "Dia anak Debi! Aku akan mengambilnya!"
Air mata Nelam sudah menggenang, dia berlutut di hadapan Ibu Kinan. "Bu, dia anakku, jangan pisahkan aku dengan anakku Bu, aku berjuang sendiri untuk membesarkannya, Raka masih butuh aku, hiks.. hiks.."
Raka menangis mengulurkan tangannya pada Nelam. "Mamaaaa!"
"Mam, kasihkan pada Nelam!" ucap Aksa.
"Aksa, diam ya kamu! Mama berhak membawa Raka! Wanita ini tidak becus mengurus Raka, bahkan kemarin dia bawa Raka menjauh dari ayahnya, Ibu macam apa dia!"
"Bu, tolong Bu, jangan bawa anakku.. hiks.. hiks.."
"Kamu kasih makan cucu saya apa! Sampai dia sakit begitu! Kamu wanita munafik, kamu licik!"
"MAM!" teriak Aksa.
"Bahkan Aksa berani meneriaki ibunya, cuma gara-gara membela wanita murahan seper-"
"CUKUP BU!" teriak Nelam.
"AKU SUDAH LELAH DENGAN SEMUA INI! AKU HANYA INGIN HIDUP SEPERTI DULU!" teriaknya dengan dada naik turun. "Aku ingin hidup bersama Raka dan Reno, tapi kenapa kalian muncul, lalu semakin membuat saya menderita, apalagi anak Ibu, meniduri saya hingga saya hamil, bahkan saya sempat akan dikeluarkan dari sekolah, saya di-bully satu sekolah. Saya memperjuangkan Raka dengan uang seratus ribu untuk mempertahankan hidup dalam sembilan bulan. Saya harap saya tidak akan pernah bertemu dengan ayah kandung Raka, namun takdir mempertemukan kami kembali. Dan aku sangat membenci anak Ibu, sampai detik ini!"
Aksa terdiam, dia menunduk dengan wajah yang memerah, rahang yang menegas, dia sangat terpukul dengan ucapan Nelam. Dia merasa sangat merasa bersalah terhadap Nelam.
'Penyesalan membunuh diriku sendiri,' batin Aksa.
__ADS_1
***
Vote dan komen nya ya..