
Empat bulan kemudian..
Ijazah, SKHUN sudah di dapat Nelam. Untuk menggapai impian, Nelam harus melanjutkan pendidikannya di salah satu perguruan tinggi.
Memang rencananya harus ditunda dulu setelah melahirkan dan mempunyai anak. Mungkin setelah 3-4 tahun, dan jika dia benar-benar bisa mengumpulkan uang untuk biaya kuliah.
Sekarang, Reno telah bersekolah di SMA unggulan, tepatnya sekolah yang pernah Nelam tempati. Penuh kenangan dan pegalaman di sekolah itu. Nelam tidak akan melupakannya, karena pengalaman yang menyedihkan itu bisa memotivasinya dan menjadikan pelajaran dalam hidup.
Usia kandungan Nelam telah menginjak sembilan bulan. Perutnya semakin membesar, sesekali dia merasakan ada tinjuan keras dari dalam perutnya. Entah berjenis kelamin wanita atau laki-laki, Nelam belum pernah melakukan USG. Dia akan menerima kehadiran buah hatinya dengan penuh cinta dan kasih sayang.
Nelam sedang mengusap perutnya, tiba-tiba terasa kontraksi yang hebat. Kakinya tiba-tiba kram, dia mencoba berdiri untuk meminta bantuan. Apa daya, Reno sedang tidak ada di rumah.
"Tolong!" Teriaknya yang sudah tidak sanggup berjalan.
"YANG ADA DI LUAR!"
Nelam terduduk di lantai, dia benar-benar tak sanggup berdiri.
Apa dia akan melahirkan sekarang, sedangkan tidak ada seorang pun yang membantunya! Bagaimana nasibnya dengan bayinya! Siapa pun tolong Nelam!
Tiba-tiba terasa dorongan yang begitu kuat dari jalan lahir. Darah dan air mengalir membasahi kaki dan lantai dengan gencar. Nelam panik, sungguh panik!
"Air ketubanku sudah pecah. Aku harus tenang, mungkin aku harus melahirkan sendiri di sini. Tenang aja, semua akan baik-baik saja." Sugesti positif membuat Nelam menghela napasnya dalam mencoba tenang, dia harus berjuang sendiri.
Nelam mencopot ****** ********, dia tercekat kaget, mengkatupkan mulutnya yang membuka. Kepala bayi sudah keluar dari lubang rahim. Dia mengejan sekuat tenaga dan berusaha sekuat mungkin demi keselamatannya dan juga sang bayi. Nelam meraih selimut yang tergeletak di dekatnya, dia memegangnya lalu mengeratkan tangannya.
Dia mengatur napasnya lalu mengejan. Dia sedang berjuang sendiri, untung Nelam banyak membaca buku tentang kehamilan dan proses melahirkan.
Suara tangisan itu membuat Nelam mengatur napasnya.
"A-apakah.. dia sudah keluar?" tanyanya kikuk dan panik.
Nelam melihat ke bawah, dia mengeluarkan plasenta dan bayinya sudah terlahir sempurna. Dia meraih seutas tali di dekat nakas. Dengan kepintarannya, dia menjepit tali pusar dengan tali kain berwarna putih. Dia juga mengambil gunting yang kebetulan ada di laci nakas. Nelam menggunting tali pusar bayinya walaupun dengan tangan yang gemetar, lalu menggendongnya.
__ADS_1
Wanita itu memandangi wajah anaknya. Jenis kelaminnya laki-laki dan begitu tampan. Untung saja anaknya mirip dengan Nelam, kalau tidak dia akan terus mengingat pria itu.
"Sayang, Ibu akan melindungimu. Mereka boleh membenci Ibu, tapi tidak boleh sekali pun mereka menjahatimu. Tumbuh dengan baik ya, Sayang. Raka Samudra, kamu suka kan namanya, jangan menanyakan tentang ayah kamu, dia sudah tiada, Ayah mu sudah meninggal." Nelam tersenyum lalu mencium bayi mungilnya.
Tok..
Tok...
"KAK! KAKAK DI DALAM!"
Ceklek...
"Nelam!"
"Kakak!"
Reno dan Milan melotot kaget, mulutnya membulat sempurna melihat Nelam sedang menggendong bayi mungil yang masih berlumur darah.
"Astagfirullah..." Milan berlari ke arah Nelam.
"Nelam, kamu baik-baik aja kan Nel, maafin aku, udah lalai Nel."
"Kita pinjem mobil Pak Lurah, tadi aku liat lagi di rumah Bu Dera."
Masa bodo, Reno langsung keluar dengan menggendong bayi yang berlumuran darah yang sedang menangis itu.
"PAK LURAH!" panggilnya di depan rumah hingga tetangganya keluar.
"Pak cepet! Kita harus ke rumah sakit..!"
"Ayo.. ayo.."
***
__ADS_1
Di rumah sakit
Pukul 17.00
Milan masih khawatir dengan keadaan Nelam. Dia bolak-balik berjalan dengan kecemasan, begitu pun Reno. Tak lama Dokter keluar dari ruang bersalin.
"Ayahnya mana?" tanya Dokter membuat Milan dan Reno menghampirinya.
"Saya, Dok." Ucap Milan membuat Reno menatapnya tak percaya.
"Istri anda baik-baik saja. Dia bahkan telah melahirkan anaknya sendiri dengan baik." Ucapnya. "Saya bangga dengan wanita kuat seperti itu." Lanjutnya sambil mengusap bahu Milan.
"Iya, Dok. Terimakasih." Tutur Milan, Dokter pergi dari hadapannya.
Mereka berdua memasuki ruangan dimana Nelam telah ditangani.
Milan mengusap kepalanya. Menatap manik mata Nelam, wanita itu sedang menggendong anaknya yang baru lahir. Bayi mungil itu melihat wajah ibunya.
'Bayinya Nelam ganteng, hidungnya mancung pasti yang hamilin Nelam orangnya ganteng, masa bodo, yang pasti Nelam benci orang itu," batin Milan.
Milan mencium bayi itu, "Tampan ya, kayak om Milan." Tuturnya membuat Nelam tertawa geli.
Reno mengusap kepala keponakannya dengan jari telunjuknya. "Gantengnya mirip aku tau." Reno yang tidak mau kalah membuat Milan menoyor kepalanya. Milan memang sudah akrab dengan Reno, dia menganggap Reno sebagai adiknya sendiri.
Nelam tersenyum memandangi wajah anaknya, namun air mata keluar dari matanya.
"Udah jangan nangis. Walaupun dia gak punya Ayah, kan dia punya om-om yang ganteng dan kece kayak kita. Iya gak Ren?" Kata Milan membuat Nelam menyinggungkan senyumnya.
"Iya dong!" Jawab Reno bersemangat.
***
__ADS_1
Vote dan komennya ya..