SIAPA YANG MENGHAMILIKU?

SIAPA YANG MENGHAMILIKU?
Perintah Direktur utama


__ADS_3

Nelam berpakaian sangat rapi dengan pleated blouse aksen lipit di kemeja. Terlihat sangat cantik dan elegan.


Nelam berjalan ke meja resepsionis.


"Permisi, dimana ruang interview untuk sekretaris baru?"


"Dengan siapa?"


"Saya Nelam, katanya ada lowongan kerja untuk sekretaris."


"Sebentar ya."


Resepsionis sedang menelpon atasannya.


"Untuk interview sekretaris baru Pak."


"Baik Pak."


Resepsionis menaruh teleponnya.


"Langsung ke ruang direktur utama Bu, saya antar ke ruang interviewnya, mari Bu."


Nelam merasa gugup, bahkan dia langsung diantar resepsionis. Nelam masih belum percaya, apakah lowongan kerja ini tidak formal? Bahkan dia langsung ke ruang direktur utama.


"Bu, Anda cantik sekali," ucapnya membuat Nelam tersipu malu.


"Terimakasih, kamu lebih cantik."


"Apa Ibu pernah dekat dengan Pak Aksa?"


Nelam mengerutkan keningnya. "Saya tidak mengenali Pak Aksa sebelumnya."


"O-oh.., tapi sepertinya Anda istimewa."


"Kenapa begitu?"


"Pak Aksa menyuruh saya mengantar Anda, lalu membantu Anda menaiki tangga agar tidak terjatuh."


Nelam semakin mengernyit heran. 'Ada apa sebenarnya? Siapa Aksa?"


'Think'


Nelam memasuki lift dibarengi resepsionis. "Hati-hati Bu."


"I-iya," ucap Nelam canggung.


Di lift, ada beberapa karyawan dan karyawati.


"Cantik sekali, siapa dia?" tanya salah satu karyawan.


"Badannya Bagus banget, nyesel makan mi rebus."


"Manis, anggun elegan."


Nelam menunduk malu, mereka terlalu berlebihan memujinya. Resepsionis itu melihat Nelam. "Ibu emang cantik."


'Think'


Mereka keluar lift, menuju tangga, resepsionis itu mengulurkan tangannya. "Sini saya bantu Bu."


"Enggak usah."

__ADS_1


"Tolong Bu, takutnya Pak Aksa melihat CCTV dan saya tidak melakukan tugas dengan baik."


Nelam dengan ragu memberikan tangannya lalu dituntun menaiki tangga. Karena Nelam tidak bisa memakai sepatu saat menaiki tangga, dia memilih membuka sepatunya.


"Gak papa kan?"


"Tidak apa-apa Bu."


Bahkan resepsionis itu memegang sepatu Nelam.


'Ini sangat berlebihan,' batin Nelam.


Setelah di depan ruangan bertulisan 'Direktur Utama' Nelam semakin bergetar gugup. Yang pasti, malam itu dia sudah berlatih dengan keras.


"Masuk Bu, saya tinggal."


Pintu terbuka otomatis, dengan gugup Nelam memasuki ruangan itu.


"Pagi Pak."


"Silakan duduk."


Nelam duduk di depan pria yang sedari tadi menunduk menatap macbook-nya.


"Perkenalkan diri kamu."


"Perkenalkan, nama saya Nelam Dewi Permata, saya lulusan tahun 2016, di sini saya bermaksud melamar pekerjaan."


Pria itu menyimpan macbooknya lalu melihat wajah Nelam.


"Ka-kamu?" tanya Nelam, dia menutup mulutnya yang membulat.


Nelam bangkit untuk kabur dari tempat itu. Dia berlari dengan cepat.


"Jegat wanita yang baru keluar," ucapnya di telepon.


Nelam keluar ruangan, namun beberapa bodyguard Aksa menahan tangannya.


"Kamu gak bisa kabur!"


"Ini apa!"


Dia menahan tangan Nelam, dan direktur utama itu keluar dari ruangannya.


Aksa berdiri di depan Nelam yang tangannya dicengkal bodyguard Aksa.


Aksa mengulurkan tangannya. "Selamat, Anda diterima menjadi sekretaris Aksa Mahendra."


"Kamu kan orang mesum yang lancang itu!"


"Maafkan saya, tapi karena waktu itu saya mengagumimu, jadi saya terlalu agresif."


"Saya tidak menerima pekerjaan ini."


"Baiklah, kamu tidak bisa keluar."


Nelam menghembuskan napasnya pelan.


"Saya mau kamu bekerja, dan gaji mu besar."


"Tapi saya gak suka dipegang oleh lelaki seperti ini, Anda paham!"

__ADS_1


"Tapi Anda jangan kabur, Nyonya Mahendra?"


"Nyonya Mahendra?"


"Maksud saya, kamu tidak bisa kabur Nyonya Nelam."


Aksa melihat kedua bodyguard-nya. "Lepaskan tangannya."


"Jadi, kamu menerima saya?"


"Hah? Maksudnya?"


"Menerima pekerjaan yang saya tawarkan Nyonya Nelam."


"Tapi Saya hanya lulusan SMA."


"Tidak apa-apa, kalau kamu tidak bisa menuntaskan pekerjaan mu, biar saya yang kerjakan."


"Tidak bisa seperti itu, Pak."


"Bisa saja, saya pemilik perusahaan ini. Atau kalau kamu tidak bisa atau belum paham, kamu menjadi direktur di sini, biar saya yang jadi sekretarismu."


"Pak, Anda berlebihan."


"Kamu cuma hongkang kaki saja."


"Baik Pak, saya akan jadi sekretaris Bapak, tapi saya harus belajar dulu."


"Saya akan ajari kamu sampai bisa, anggap saja saya temanmu."


"Baik lah, tapi ada satu syarat."


"Syarat? Apa itu?"


"Bapak jangan macem-macem lagi sama saya."


"Baik, saya janji."


"Kapan saya mulai bekerja?"


"Hari ini!"


Nelam membulatkan matanya syok. "Sekarang? "


"Detik ini saya ajarkan."


"Baik lah."


Nelam mengekori Aksa masuk ke ruangannya.


"Kalo kamu kesakitan pakai sepatu tinggi, pakai saja sepatu yang membuat mu nyaman."


'Apa dia melihatku di cctv?' batin Nelam.


***


vote dan komennya ya..


Aksa


__ADS_1


__ADS_2