SIAPA YANG MENGHAMILIKU?

SIAPA YANG MENGHAMILIKU?
Dia pergi?


__ADS_3

"Gak mungkin Dok!"


"Kenapa Anda berbicara seperti itu Dokter! Saya tuntut Anda!" teriak Tuan Gilang.


"Saya pamit," ucap Dokter kemudian melenggang pergi.


Debi menutup wajahnya dengan tangan kiri mengganjal di tembok sedangkan tangan kanannya menonjok tembok dengan kuat. "Kak! Kenapa kamu pergi secepat itu, katanya kamu bekerja agar tidak mati! Kenapa kamu mati! Mana Aksa yang ku kenal dulu! Kamu nyerah gitu aja!"


'Sudah ku bilang, kamu enggak bisa bertahan disituasi ini, kamu butuh bodyguard tapi kamu so kuat!' batin Nelam.


"Aku sakit hati, aku belum bisa nerima ini,' batin Nelam.


Tangis pecah di tempat itu, Rania menyinggungkan senyum miringnya. Wanita itu memegang tangan Debi, lalu mengusap punggungnya.


"Kamu yang sabar ya."


"Diem kamu!" bentaknya pada Rania.


'Aku harus merebut hati Debi, aku tidak mau jadi gelandangan!' batin Rania.


Dokter wanita keluar dari ruang operasi. "Pak Aksa akan melewati pemulihan, untung saja pelurunya tidak mengenai organ vital."


Debi melihat Nelam, kemudian dia menghela napas dalam. "Kakak ku emang paling kuat, peluru baginya bukan apa-apa."


'Aku percaya, kamu akan melewati ini semua,' batin Nelam.


Nyonya Kinan menghela napas pelan, kemudian Rania berjalan ke arahnya dan memegang kedua bahunya. "Mam, Aksa pasti sembuh."


Nyonya Kinan menggidik bahunya. "Apa kamu! Jangan pegang-pegang saya! Dasar wanita pemitnah!"

__ADS_1


Rania mengerutkan keningnya heran. "Mama gak percaya sama aku?"


"Jangan ganggu kehidupan saya, anak saya, atau calon menantu saya!"


Rania mendekati Nyonya Kinan untuk memegang tangannya, namun wanita paruh baya itu menghindar geli.


"Mama gak percaya sama Rania?" dia dengan raut wajah memelas.


"Heh! Gimana saya bisa percaya sama orang pendusta kayak kamu! Kamu tuh sering berbohong, jadi orang-orang gak bakal percaya sama kamu walaupun kamu jujur!" cerewetnya.


Rania cemberut lalu melipat tangannya. "Aku bakal bikin kalian berlutut di depan ku!"


Nyonya Kinan menampar Rania, wanita itu mendesis pelan. "Dasar wanita pendusta! Pergi dari sini!"


Rania masih menatap tajam Ibunya Aksa, hingga pergi meninggalkan mereka dengan rasa kesal.


***


Nelam duduk di samping kiri Aksa kemudian memegang tangan Aksa. "Kamu hebat bisa laluin ini semua."


"Hari ini hari ulang tahunku, aku ingin sekali merayakannya bersamamu, tapi kamu sedang sakit begini."


Nelam menempelkan tangan Aksa dengan jidatnya. "Aku mohon, sadar lah. Aku mencintaimu, aku tidak bisa pungkiri perasaanku. Kamu pria yang baik dan bertanggung jawab, itu lah yang membuat aku suka padamu."


Nelam memperhatikan telunjuk Aksa yang bergerak, kemudian dia segera keluar ruangan untuk memanggil dokter.


Tak lama, Debi masuk ke ruangan Kakaknya itu, dia duduk di samping Aksa yang perlahan membuka matanya. Secepat itukah Aksa pulih?


"Kak! Kamu sudah sadar!" ucap Debi gembira.

__ADS_1


Aksa memegang dahinya kemudian bangkit untuk duduk.


"Kau masih belum sembuh!"


Aksa memperhatikan selang infusnya. "Apa ini? Kenapa aku diberi selang dan memakai baju serba biru!"


Debi menghela napas kasar lalu menunjuknya. "Kau hampir mati, bodoh!"


"Sudah ku bilang! Aku tak akan mati, bodoh!"


Aksa memegang selang infusnya kemudian melepaskannya begitu saja.


Debi benar-benar kwalahan menghadapi sikap Kakaknya yang keras kepala ini.


"Kenapa aku harus menangis saat kau sekarat, kenapa kau tidak mati saja!" ocehnya membuat Aksa mengernyit kesal.


"Dasar kau adik durhaka!"


"Pakai selang infusnya!"


"Aku harus menemui anakku! Kau paham!"


"A-anak? Kau punya anak?"


***



Vote dan komennya ya..

__ADS_1


supaya cepat berlanjut..


__ADS_2