
"Saya terima nikah dan kawinnya Nelam Dewi Permata Binti Haris Dermawan dengan maskawin tersebut diatas tunai."
"Bagaimana saksi? Sah?"
Sah...
"Alhamdulillah.."
Setelah membaca doa, pengantin wanita mencium tangan suaminya, begitupun pengantin pria mencium kening istrinya. Sungguh, ini adalah pernikahan pertamanya. Nelam tidak lagi dicap pelakor atau janda muda yang suka disentuh lelaki. Sekarang Nelam berstatus sebagai istri billionare kaya dan tampan.
Mempelai lelaki sedang menemui temannya. Aksa sedang menemui rekan bisnisnya, namun matanya masih melihat ke arah kanan. Dia lagi-lagi terpesona dengan kecantikan istrinya.
"Istrimu sangat cantik. Saat melihat jadi sekretarismu, dia memang mempesona," ucap salah satu rekan kerja Aksa.
"Jadi selama ini kau memperhatikannya?"
"Maaf, jangan cemburu. Aku hanya memujinya," tembal pria itu. Untung dia tidak mengakuinya, kalau itu terjadi, habislah dia oleh bos killer ini.
Setelah menghampiri teman-temannya, Aksa menghampiri istri tercinta. Sang istri sedang berkumpul dengan teman lamanya yaitu Milan dan Aisyah.
"Sayang, ayo kita duduk di pelaminan. Sebentar lagi kita harus berpoto," ucap Aksa. Nelam mengangguk lalu memegang tangan Aisyah.
"Aku kesana dulu, ya, Mil, Ai. Jaga kandunganmu, ya," pesan Nelam membuat Ai mengangguk.
"Aksa, jaga Nelam dengan baik," pesan Milan namun tidak digubris oleh Aksa.
Nelam dan Aksa berpegangan tangan dan naik ke atas pelaminan. Mereka duduk berdua, Aksa masih memandangi wajah cantik istrinya.
"Jangan memandangiku seperti itu," ucap Nelam menjadi gugup seketika.
__ADS_1
"Aku sudah tidak sabar," bisiknya membuat mata Nelam membulat. Dia menggebuk tangan Aksa.
"Bukankah kita harus memberikan adik untuk Raka?" candanya, Nelam hanya mengeratkan pegangan pada gaunnya.
"Kamu sangat manis, jika malu seperti itu. Menggemaskan, " ucap Aksa.
***
Reno dan Raka berada di kamar hotel nomer 03 sedangkan Nelam berada di kamar nomor 04. Resepsi pernikahan ini sungguh melelahkan bagi Nelam, ingin sekali dia rebahan dan tidur nyenyak.
Namun Nelam membuka kado pemberian dari suaminya. Dengan cepat dia membuka pinta dan kotak berwarna biru itu. Dilihatnya, dress pendek yang mungkin akan menampilkan tubuh seksinya. Nelam membuka isi suratnya.
Pakailah untukku... semangat!
"Apa-apaan dia, aku tidak akan memakainya," ucap Nelam.
Clek..
"Kamu gak suka hadiahnya?"
"Gak!"
Nelam menghela napas panjang, mencoba tersenyum pada suaminya. Sebenarnya Nelam tidak terlalu marah akan hal itu.
"Aku tidak marah padamu," ucap Nelam sambil mengusap pipi kiri Aksa membuat Aksa menatapnya dalam.
"Raka udah tidur, aku sudah bisa menidurkannya karena aku sudah tidak sabar,," ucap Aksa sambil mendekatkan dirinya pada Nelam.
"Aku ingin kamu malam ini, bercinta dengan ku di sini."
__ADS_1
Pertanyaan ini seperti rayuan maut yang membuat Nelam tidak ragu untuk menerima pria tampan di depannya. Nelam mengangguk pada pria itu.
Aksa membuka kaosnya menampilkan badan berototnya, dia mencium bibir Nelam dengan cepat dan membabi buta. Tanpa di sadari, Aksa telah melucuti kancing baju Nelam.
Namun tiba-tiba Nelam teringat peristiwa lima tahun lalu.
"Aku menginginkanmu Nona."
"Aku mencintaimu dari tadi."
"Aku menginginkanmu, hingga aku gila seperti ini."
"Aku tidak akan melepaskanmu."
Nelam mendorong tubuh Aksa dengan kuat, lalu terduduk di sisi ranjang. Aksa memperhatikan tingkah istrinya itu. Apakah dia gugup karena setelah sekian lama wanita itu tidak berhubungan?"
"Ada apa istriku?"
"A.. Aku.. teringat masa lalu.. Aku masih trauma."
Aksa memegang bahu Nelam lalu mengusap pipinya. "Pelan-pelan saja, relaxe, biar aku yang melakukannya. Karena kamu wajib melayaniku."
"Aku..."
'Gara-gara aku, dia trauma seperti itu,' batin Aksa.
Aksa menghembuskan napasnya pelan, menatap mata Nelam dengan dalam lalu membujuknya untuk berbaring.
Atmosfer terlalu panas. Kalian pasti tahu adegan selanjutnya
__ADS_1
***
Vote dan komen ya...