SIAPA YANG MENGHAMILIKU?

SIAPA YANG MENGHAMILIKU?
Seolah..


__ADS_3

Nelam berjalan menuju ruangan Aksa dengan sebuah berkas di tangannya. Dia berhenti di tempat saat Debi menghampirinya. Tentu saja dia akan melayangkan tatapan kebencian pada Debi, padahal pria itu bukan orangnya.


Plakkk..


Satu tamparan mendarat di pipi Debi, pria itu tampak heran dengan kelakuan Nelam. Rasa sakit membuatnya lupa kalau dia itu siapa di sini, harusnya lebih hormat pada Debi yang masih atasannya.


"Nelam kamu sal-"


"Bertahun-tahun kamu ngilang! Bahkan kamu gak tanggung jawab!"


"Tanggung jawab untuk apa?"


"Aku menanggung sakit sendirian!" ucapnya setengah berteriak.


"Aku minta maaf!"


Setelah memanas, mata Nelam berkaca-kaca kemudian dia berlari sekencang mungkin menahan rasa sakit di hatinya. Bisa-bisanya dia berbicara seperti itu, dengan gampangnya dia hanya meminta maaf.


Nelam menyeka air matanya berlari menuju ruangan Aksa, dia tidak bisa menahan hatinya untuk mematah. Ada beberapa pecahan hati di dalamnya, dia membiarkannya pulih kalau itu bisa pulih.


Pintu terbuka otomatis, dia berhadapan dengan pria tinggi yang melihatnya dengan heran. Dia semakin mendekat dan memeluk erat pria itu. Aksa mencium pucuk kepalanya.


"Aku benci dia, semakin aku melihatnya aku membencinya, hiks.. hiks.."


"Siapa dia? Biar aku hajar!"


"Aku menderita sendirian, dia ngilang bertahun-tahun."

__ADS_1


Aksa cukup pintar bahwa yang dimaksud oleh Nelam adalah Debi. Padahal pelaku sebenarnya adalah dia sendiri.


"Sudahlah, itu sudah terjadi, jangan kamu ungkit."


Nelam melepaskan pelukannya, karena mendengar pijakan kaki seorang pria. Debi masuk, keadaan menjadi semakin canggung.


Nelam kembali menghadap Debi, "Kamu gak tau betapa menderitanya aku! Bahkan aku hampir bunuh diri! kamu sudah merebut keperawanan ku, dan kamu pergi begitu saja, aku seperti barang bekas dan tidak punya harga diri!" Jelasnya dengan perasaan yang amat hancur.


"Aku membencimu seumur hidupku!" Nelam menyeka air matanya, lalu menggebuk-gebuk dada Debi dengan kencang.


Aksa yang mendengar perkataan itu merasa sangat bersalah. Aksa menarik tangan Nelam dan berdiri di tengah-tengah mereka. Aksa malah seperti lempar batu sembunyi tangan, dia menarik kerah kemeja Debi.


"Brengsek!"


"BEDEBAH SIALAN!"


Aksa menonjok pipi Debi dengan kencang, Debi hanya bisa mendesis kesakitan.


"Pergi dari sini! Kakak gak nyangka sama kamu Deb!" Teriak Aksa.


Debi kagum dengan kelakuan kakaknya itu, dia hanya tersenyum hambar lalu pergi begitu saja. Aksa memang keterlaluan, harusnya dia mengaku kalau pelaku sebenarnya bukan Debi, tapi dia sendiri. Apalah daya Aksa, dia tidak mau Nelam membencinya seperti itu. Apalagi setelah tau menderitanya Nelam saat itu. Aksa bukan tipe orang yang tidak bertanggung jawab, malam itu Aksa mencari keberadaan Nelam karena dia telah jatuh hati pada Nelam.


Takdir belum memihak mereka, hingga mereka bisa bertemu setelah lima tahun lamanya.


Aksa memegang kedua bahu Nelam, dia menatap kedua matanya dengan dalam, "Aku mencintaimu, tidak perduli siapa yang ada di masa lalumu. Aku hanya mencintaimu, maaf kan aku jika aku mencintaimu. Kamu hanya perlu berjanji tidak akan meninggalkanku," jelasnya membuat Nelam tersenyum, dia memeluknya lagi.


***

__ADS_1


Kejadian tadi sungguh membuat kepala Nelam pening, untung sedikit meredakan sakit itu, dia meminum obat sakit kepala lalu memakan roti yang tadi pagi dia beli di alfamart.


Sebelum istirahat pertama, dia berencana ke ruangan staff untuk kerjaan yang masih belum selesai, namun dia masih menunggu Aksa di ruangannya ini.


Nelam membuka m-banking-nya untuk memastikan kalau gaji ketiganya sudah ada. Sesudah memasukan pin-nya, dia membulatkan matanya kaget saat ada notifikasi bahwa seseorang mentransfer uang padanya. Jumlahnya juga sangat banyak.


Aksa masuk namun masih berbicara di telepon, seperti biasa, Aksa menyandarkan bokongnya ke meja Nelam, dia berbicara sambil melihat Nelam di samping kirinya. Setelah menutup teleponnya, dia tiba-tiba mengusap pucuk kepala Nelam.


"Bapak kenapa transfer uang banyak banget buat saya?"


Aksa mengangkat bahunya. "Mungkin iseng."


"Lima puluh juta itu besar banget."


"Biarkan saja, buat uang jajanmu."


"Maksudnya?"


"Aku hanya ingin berbagi denganmu, gak ada maksud lain."


"Tapi?"


Aksa mendecak. "Ck, sudah lah, itu buat Raka."


***


Vote dan komennya ya..

__ADS_1


__ADS_2