
Ini berat namun kita harus berpisah - Milan
***
Milan melihat google maps memastikan kalau dia benar-benar sampai di tujuan. Tanpa pikir panjang setelah memarkirkan motornya di halaman rumah, Milan berjalan ke depan pintu kemudian mengetuknya.
"Aku yakin, Nelam gak salah ngasih share lock."
ceklek..
"Kak Milan?"
"Ren, Nelam ada?"
"Kak Nelam lagi beli makanan Kak, belum pulang juga."
Milan melihat sebuah kertas dengan mata yabg berkaca-kaca, dia menghembuskan napasnya pelan.
'Andai yang ada di kertas ini nama kamu Nel,' batin Milan.
Milan menyodorkan kertas undangan pada Reno. "Datang ya ke acara pernikahan Kakak."
Reno melihatnya tidak percaya, dia membulatkan matanya kemudian memegang lengan atas Milan dengan panik. "Kakak mau nikah sama Kak Aisyah?!"
Milan mengangguk. "I-iya."
Reno memegang tangan kanan Milan dengan cepat, dia ikut bahagia. "Selamat ya Kak! Kalau punya anak kabarin lagi."
'Kalau aku punya anak perempuan, aku bakal kasih nama Nelam,' batin Milan.
Setelah surat itu di pegang Reno, Milan menarik kemejanya. "Yasudah Ren, Kakak pamit ya, salam juga ke Kak Nelam."
Milan membalikan badannya namun Reno menahan tangannya.
"Kak makasih."
__ADS_1
Milan terdiam dengan posisi membelakangi Reno, kemudian meneguk salivanya dengan kuat. "Terimakasih untuk apa?"
"Selama ini udah jagain Kak Nelam, walaupun pada akhirnya kalian gak berjodoh."
Milan menyeka air matanya. "Kamu gak perlu berterima kasih, ini tugas Kakak menjaga Nelam. Tapi Kakak udah selesai, nanti ada kok laki-laki yang lebih tangguh buat jagain Kakak kamu."
Milan melenggang pergi begitu saja, Reno sangat paham kalau Milan masih belum ikhlas. Terlihat dari gelombang di matanya menandakan kalau dia tidak benar-benar siap kehilangan Nelam.
***
"Dew? Kamu masih inget aku kan?" tanya pria itu sembari mengguncangkan bahu Nelam. "Aku Dirga, anak bandel yang gangguin kamu waktu SD sampai SMP."
Nelam menutup mulutnya tak percaya. "Dirga! Itu kamu!"
Dirga mengangguk lalu memeluk Nelam kembali. "Akhirnya kamu inget aku, aku takut Nel, aku takut kamu berubah."
Nelam melepaskan pelukannya. "Kamu sekarang udah dewasa, udah sukses, berbeda dengan ku, aku sampai sekarang masih susah juga."
"Aku kangen banget sama kamu dan aku-"
Dirga menggantungkan ucapannya.
Nelam mengangguk kemudian Dirga berjalan menuju mobil namun terhenti karena Nelam tidak mengikutinya.
"Di depan tempat favorit aku!" ucapnya.
Dirga mengalihkan pandangannya melihat tempat makan kecil bertulisan 'Mie ayam'.
"Aku kangen makan di tempat kayak gitu apalagi bareng kamu," ucap Dirga.
Nelam berjalan mendahului Dirga, dia sudah berdiri di dekat kursi kayu panjang dan ada Dirga di depannya.
"Ayok duduk."
Dirga duduk di depan Nelam.
__ADS_1
"Pak, pesan dua, gak pake sambel."
"Oke siap Neng."
Dirga tersenyum melihat Nelam. "Kamu gak berubah Nel, kamu selalu kelihatan santai padahal beban hidupmu besar."
Nelam tersenyum hambar. "Aku terlalu sering terluka sampai aku gak bisa nangis."
"Aku kagum sama kamu, kita dulu sedekat nadi, namun saat aku pergi, sudah sejauh angkasa."
"Aku sedih waktu kamu kirim surat perpisahan."
"Gimana aku gak bisa lupain kamu, dari SD aku nempel terus sama kamu."
Nelam tersenyum, kemudian Dirga menceluk saku celananya.
Dirga menyodorkn iphone-nya. "Ketik nomormu."
Setelah memberikan nomor ponsel pada Dirga, kemudian Dirga memasukan benda pipih itu ke sakunya.
"Jujur, kamu perempuan tercantik yang pernah aku temuin."
"Eh gimana? Kenalin istri kamu ke aku dong."
"Aku belum menikah, tapi kalau calon ada."
"Benarkah? Pasti dia cantik banget, tinggal dimana dia sekarang."
"Dia gak jauh. Akhirnya Tuhan pertemukan aku dengannya lagi."
Nelam semakin mengerutkan keningnya. "Maksudmu?"
"Calonku ada di depan mataku."
"Maksudmu? Aku?"
__ADS_1
***
Vote dan komen ya, supaya double up