
Aku belum selesai mencintaimu, maka tetaplah di sini sampai aku selesai - Aksa.
***
Nelam tiba-tiba berada di ruangan bernuansa putih, dia melhat ke kiri-kanan menelisik di balik jendela putih. Matanya berlinang melihat sosok Ayah dan Ibu. Mereka berada agak jauh dari Nelam.
"Ibu, Ayah.."
"Nelam kangen kalian."
Nelam berlari ke arah Ayah dan Ibunya, namun tiba-tiba mereka menghilang.
"IBU, AYAH... "
"KALIAN DIMANA? NELAM IKUT BU, AYAH.."
***
Aksa membuka jasnya, lantas menyeburkan dirinya ke kolam yang lumayan dalam. Untung saja tinggi Aksa melebihi 170 cm. Sepertinya dia sudah sangat khawatir dengan keadaan Nelam, karena dia cukup memakan waktu yang banyak ditambah keberadaan Nelam yang belum terlihat.
Aksa berenang ke sisi kanan, karena dia melihat Nelam yang terapung. Aksa memeluk tubuh Nelam lalu membawanya ke tepi. Selanjutnya, setelah sampai dan mengangkat tubuh wanita itu ke atas, Aksa ikut naik ke atas.
Terlihat dari raut wajahnya, Aksa sangat mengkhawatirkan wanitanya, bagaimana tidak, dia sudah sangat menyukainya dari detik pertama melihatnya.
Aksa memompa dada Nelam, namun dia tidak kunjung sadar.
Aksa menggerakan pipi Nelam ke kiri-kanan. "Nelam, bangun..., aku mohon padamu."
"Sayang.. Bangun..!"
Aksa memberikan napas buatan. Namun Nelam tidak kunjung sadar, Aksa sempat terpaku kemudian menunduk. "AKU BILANG BANGUN! KAMU HARUS BANGUN!"
Aksa memeluk tubuh Nelam. "Sayang tolong bangun.., aku gak siap kehilanganmu."
__ADS_1
"RANIA! AKU AKAN MEMBUNUHMU!"
"BRENGSEKKK!"
"Kamu meninggalkan aku sendiri di sini, dan aku belum menemukan kebahagiaan, kenapa secepat itu kamu pergi."
"Tuhan, kau tau aku cinta dia, maka kembalikanlah dia padaku."
Aksa memegang pipi Nelam yang dingin. "Tolong sadarlah.. Aku mohonnnn!"
Aksa terkejut saat Nelam memuntahkan air dari mulutnya kemudian dia batuk-batuk. Tidak ada yang bisa mendeskripsikan kebahagiaannya saat ini. Aksa membangunkan badannya untuk duduk, lantas memeluk tubuhnya.
"Akhirnya kamu sadar juga," ucapnya sembari mengusap punggung Nelam.
Nelam masih diam. "Aku tenggelam?"
Aksa melepaskan pelukannya lalu menatap mata Nelam penuh rasa syukur.
"Tadi aku sekarat?"
'Dia begitu khawatir padaku, dia menyelamatkan nyawaku,' batin Nelam.
Aksa tersenyum kecil. "Kenapa, hm? Apa aku keliatan jelek kalau basah kuyup kayak gini?"
Nelam menggeleng. "Enggak kok."
Mereka berjalan menuju kamar hotel namun terhenti saat melihat Rania.
"Nelam, kamu tidak apa-apa?"
Aksa mendengus kesal lalu mencekik leher Rania. Rahangnya mengerat, hidungnya mengempis. "Kenapa kamu lakukan itu!"
Nelam panik, dia memegangi tangan Aksa. "Lepasin dia, kendaliin emosi kamu!"
__ADS_1
"HARUSNYA KAMU YANG MATI!"
"Pak! Lepasin dia! Aku gak mau kamu jadi pembunuh!"
Aksa melogorkan pegangan di leher Rania. "Pembunuh kayak kamu emang gak layak hidup!"
Rania memegangi lehernya karena tadi sempat sesak. Sudah tau Aksa kasar padanya. Dulu sebenarnya Aksa sangat menghargai wanita, karena Rania tidur dengan pria lain dan berganti pasangan, dia rasa wanita sepertinya tidak harus dihargai. Mereka menikah karena perjodohan, dimalam pertamanya, Aksa tidak mau menyentuhnya karena sudah tau kalau Rania kerap kali bersetubuh dengan orang lain.
"Aku Cinta sama kamu Aksa, selama satu tahun ini, kamu seolah-olah gak menganggap aku ada. Aku bisa ngasih kamu kebahagiaan, aku bahkan bisa ngasih kamu anak."
Aksa tersenyum miring. "Aku tidak sudi menyentuh wanita sepertimu!"
Rania memegang tangan Aksa sembari memohon. "Aku bakal perbaiki semua aku ba-"
Aksa menunjuk wajah wanita itu. "Pergi jauh-jauh dari hidupku, dan kamu harus siap-siap."
Rania menggeleng. "Siap-siap untuk apa?"
"Aku punya semua bukti, besok kau akan dipenjara!" tegas Aksa.
Rania malah tertawa meledek. "Bukti apa Aksa? Bahkan bodyguard kamu aja nurutnya sama aku."
"Apa maksudmu!"
"Mulai detik ini mereka sudah gak kerja sama kamu lagi, Bos Aksa. Mereka kerja untukku sama Reyhan, bahkan mereka nurut buat hapus semua bukti kalo aku tenggelamin si jalang itu. Kamu gak bakal menang Aksa! Aku sakit hati sama kamu! Aku bakal balas dendam!" pekiknya mendorong tubuh Aksa, namun pria itu tidak goyah sama sekali.
"Aku tidak peduli," balasnya singkat kemudian menarik tangan Nelam untuk menjauh dari hadapan nenek sihir itu.
Rania melihat punggung mereka lalu mendengus kesal, tatapan tajamnya dia tampilkan. "Aku bakal bikin Nelam nyakitin hati kamu, supaya kamu ngerasain sakitnya aku, " gumamnya.
***
Jangan ambil sisi negatifnya ya.. okey..
__ADS_1
Vote dan komennya ya supaya semangat buat double update.. Supaya cepat terungkap, siapa kira-kira bapaknya Raka, menurut kalian siapa? Aksa, Debi, atau Reyhan? komen ya.. 😉