
"KAU! APA YANG KAU LAKUKAN!"
Bugh..
Bugh..
Rania memberontak, lalu mengambil kayu dekat pintu dan menghajar Aksa, hingga seorang pria memegang kayu itu. Segera lah Debi mendapatkan kayu itu, sedangkan Rania pergi begitu saja.
"Shhh, aww.. " erangnya sembari memegang perutnya.
"Untung jahitanku tidak membuka," ucap Aksa.
Aksa melihat kantong plastik besar yang bagian atasnya menghadap ke arahnya. Spontan membuat Aksa mengalihkan pandangannya.
"Sialan, orang itu pedofil gila."
Aksa segera menelpon polisi, setelah itu dia memasuki rumah kontrakan ini. Mata Aksa melebar ke segala arah hingga melihat beberapa poto di atas lemari pendek.
"Ini kan pegawai baru ku, wanita yang menjual Nelam padaku seharga lima puluh juta. Apa hubungannya dengan Rania?"
***
Aksa memegang telepon genggamnya kemudian keluar dari rumah kost Vera, Aksa melihat layar hand-phone.
"Hallo Haris, kamu udah tau keberadaan Nelam?"
"Sudah dilacak Pak, saya sudah tau lokasi rumahnya, dan sekarang Bu Nelam sedang bekerja."
"Hah! Bekerja dimana!"
__ADS_1
"Saya share sekarang Pak."
Aksa melihat beberapa polisi berdatangan, dan Debi yang mencengkal tangan Vera. Cepat juga dia mengejar Vera. Akhirnya Aksa bisa tertawa puas melihat gadis itu akan dibawa polisi.
"Pak Debi, Anda juga harus memberikan ke saksian."
"Baik Pak, Saya akan memberi kesaksian. Saya ikut Bapak," ucap Debi.
Aksa tersenyum kecil lalu menghampiri Rania.
"Wanita seperti mu itu memang pantas mendekam di penjara!"
Rania menunduk dengan tangan di belakang, karena polisi memborgol tangannya, lalu tengadah. "Aksa, aku bakal balas dendam!"
Aksa tersenyum meremehkan. "Bagaimana bisa kau balas dendam, sedangkan kau mendekam di penjara."
"LAKI-LAKI BRENGSEK!" teriaknya.
Rania di dorong dua polisi menuju mobil.
Aksa memegang bahu kiri Debi. "Kamu urus ini, aku ada urusan."
Debi menahan tangan kiri Aksa. "Kamu udah membaik Kak?"
Aksa mengangguk. "Jangan khawatirkan aku."
Aksa berjalan menuju mobilnya, dia harus menyetir sendiri walaupun perutnya agak sedikit sakit. Tapi itu lah Aksa, tidak kenal lelah, baginya rasa sakit itu tidak ada artinya selain rasa sakit karena kehilangan orang yang dia cinta.
'Aku merindukan Nelam, aku juga merindukan anak ku,' batin Aksa.
__ADS_1
***
Aksa berhenti di depan tenda biru, kemudian seseorang mengetuk pintu rumahnya. Aksa menurunkan kaca mobilnya.
"Pak, parkirnya sebelah sana, ini ngalangin tamu yang mau masuk."
"Kantornya dimana?" tanya Aksa.
"Pak, ini acara hajatan, gak ada kantor, kalo kantor di gedung-gedung Pak."
Aksa mendecak pelan. "Haris gimana sih! pasti dia salah mencari informasi," gumam Aksa.
Aksa berniat menaikan kaca mobilnya namun terhenti saat matanya tak sengaja melihat ke arah panggung. Lebih jelasnya, dia melihat Nelam berpakaian seksi. Dan yang membuat darahnya mendadak tinggi dan bergejolak, yaitu melihat pria-pria itu mendekatinya.
"Awas kau Nelam!"
Aksa segera menurunkan badannya, dan menghiraukan perintah Pak Satpam. Hingga Satpam itu menahan tangannya.
"Pak mobilnya parkirkan dulu!"
"Singkirkan tangan mu, atau aku akan ubrak abrik semuanya!"
"Ta tapi?"
"Aku akan mengamuk!" ancamnya membuat Pak Satpam melepaskan pegangannya hingga Aksa berjalan cepat tanpa jeda. Dia sudah sangat berapi, ingin rasanya dia menghajar semua pria yang sangat lancang menyentuh tangan Nelam. Ada yang mengobrol dengan Nelam saja Aksa larang, apalagi bergoyang bersama. Menurut Aksa, Nelam sudah sangat keterlaluan.
'Aku tidak akan memaafkan mu kali ini, aku benar-benar akan berbuat nekat malam ini!' batin Aksa.
***
__ADS_1
Vote dan komen nya ya.