
Tibalah di hotel megah. Kebetulan acara ini, untuk merayakan kesuksesan tempat yang mereka pijak.
Mereka berjalan memasukinya dengan komandan Hans di depannya.
Berjalan ke arah balkon, pemain musik sudah siap, lalu suara bass dan dentuman keras di balkon itu membuat lantai bergetar. Kelap-kelip menghiasi satu ruangan. Biduannya menaiki balkon yang agak besar. Mereka duduk di kursi yang telah di siapkan untuk menunggu giliran menyanyi.
Kerena merasa agak pening, Nelam memijat kepalanya. Kak Nia refleks, dan memberikannya fresh-care. Satu-satunya biduan yang akrab hanya Kak Nia, mungkin jika tidak ada dia, Nelam tidak akan bertahan karena sikap biduan lain yang iri terhadapnya.
"Nel, giliran kamu tuh.." Kata Kak Nia, menyenggol bahunya.
Nelam berdiri di atas balkon dan memegang sebuah micropon.
"Selamat menikmati hidangan, Mellody Grup akan membawakan lagu kedua." Ujarnya memberi sambutan.
Musik mulai berbunyi, dentuman keras sudah terdengar lagi. Nada mengiringi irama. Kali ini Nelam membawakan lagu Baby Zee- jangan bilang sayang.
Jangan pernah bilang cinta
Jika kau tak mampu setia
Jangan pernah bilang rindu
Jika cintamu itu palsu
Sayang
Mengapa kamu pergi
Pergi tinggalkan ku
sendiri
Sayang
Mangapa kau jauh
Jauh dariku
Tinggalkan ku
Kau pergi bersamanya
Kau berpaling padanya
Suaranya yang merdu dan menggairahkan membuat para tamu undangan memandanginya.
Pria tua menaiki balkon, dia mengeluarkan uang ratusan ribu. Agak jijik sih, namun Nelam harus tetap menerimanya. Di sini banyak bos-bos besar, bahkan tadi ada yang mengirim pesan ke Pak Hans untuk membawa Nelam makan bersama tapi Nelam menolak. Di sampingnya, Kak Nia mensejajarkan tubuhnya untuk menerima saweran dari seorang lelaki paruh baya yang juga menyawernya dengan uang ratusan.
'Mereka bahkan menghambur-hamburkannya begitu saja' Batin Nelam.
Pemilik hotel ini bernama adalah Aksa Dalvi Mahendra, pemilik perusahan 'Mahendra Corp' yang telah memecahkan rekor kesuksesannya untuk tahun ini.
Perusahaan yang bergerak di bidang resort, perhotelan dan pertambangan ini, mampu membuat Aksa dikenal dengan CEO muda dan berprestasi. Karena ketampanan dan ketegasan sikapnya, dia dijuluki sebagai bos killer. Tatapan matanya, bisa membuat orang mati berdiri.
__ADS_1
Aksa Dalvi Mahendra
Debi Mahendra
Billioner tampan dengan sejuta pesona tidak henti-henti memandangi biduan muda yang cantik itu. Apakah ada yang aneh?
"Bos, biduannya cantik, loh. Gak ada niatan buat nyawer atau jadi partner night?" tanya Debi.
Pria itu adiknya Aksa. Debi memang agak muda satu tahun darinya, dia juga salah satu CEO di 'Mahendra Corp.' Dia menghendel cabang perusahaan ayahnya yang bertebaran dimana-mana.
Nampaknya, Debi ingin menantang sang Kakak. Dia menceluk sakunya dan mengeluarkan uang seratus ribuan.
"Jika aku menginginkannya, dia sudah berada di kamarku detik ini juga," ucap Aksa.
"Jadi kau menginginkannya Bos?"
Aksa menggibas kemejanya.
"Tumben Anda begitu bersemangat? Tapi dia milikku," ucap Debi
Aksa menoyor kepala Debi, membuatnya merintih kesakitan.
Dia berjalan ke arah balkon panggung. Adiknya memang terkenal buas dan nakal, apalagi melihat yang bening-bening. Aksa melihat punggung Debi dengan tajam.
"Ingin mati rupanya," ucap Aksa.
"Kau cantik sekali." Perkataan Debi tidak digubris sedikit pun. Nelam masih menyanyi, Debi menatap wajahnya dengan penuh sambari menyawernya.
"Apakah aku kurang tampan?" tanyanya lagi sembari melangkah maju membuat Nelam melangkah mundur.
Tangannya mendorong tubuh Debi dengan kuat.
"Maaf pak.." Katanya di sela-sela nyanyiannya.
"Sungguh, sangat menggoda!" Sungguh perkataan Debi membuat Nelam risih. Tak lama seorang pria menepis tangannya. Menatap manik matanya dengan tajam.
"Singkirkan tangan kotor mu!" Segaknya.
Tak disangka, pria itu beranjak pergi mengetahui si killer ini datang. Debi tidak pernah menyangka, Kakaknya yang dingin terhadap perempuan ini akhirnya tergoda.
Aksa mengeluarkan uangnya dan menghujani tubuh Nelam dengan uang. Nelam masih bernyanyi, Aksa menatapnya dengan penuh, lelaki itu memang terkenal dingin. Tapi jika seseorang telah meluluhkannya, dia akan sangat lembut.
"Kau.." Kata Aksa membuat Nelam menautkan alisnya.
"Kau jadi milikku sekarang." Lanjutnya lagi membuat Nelam semakin heran.
'Apa-apa-an sih orang ini, datang-datang membicarkan soal kepemilikan. Sudah singting kali." Batin Nelam.
"Aku ingin menciummu." Tuturnya membuat Nelam kaget. Dia menggeleng cepat, aksinya bisa membuat siapa saja membulatkan matanya, bahkan bisa langsung masuk ke sosial media dan juga surat kabar.
__ADS_1
Dia mendekat, semakin dekat,...
Aw.... shhhh...
"Rasakan..."
Nelam menginjak kakinya membuat dia merintih kesakitan. Aksa dengan cepat meraih tubuh Nelam dan mengusap punggungnya yang terekspos.
"Aku tidak akan melepaskanmu!"
"Kurang ajar!"
Plakk...
Aw.....
Satu tamparan itu membuat musik terhenti, semua mata melihat aksinya ingin menghakimi. Pak Hans tangannya sudah di udara berniat menampar Nelam, namun Aksa menahan tangannya.
"Jangan pernah menyakitinya." Titahnya sembari menatap tajam Pak Hans.
"Lanjutkan saja...." Titah Aksa, dia berjalan menuruni balkon menuju toilet. Sedikit mau sih, Nelam telah menampar seorang lelaki malam ini. Karena selama tiga tahun menyanyi, belum pernah dia menemukan pria yang sekurang ajar Aksa
***
Aksa memandangi dirinya di depan cermin. Bukannya marah, Aksa malah tersenyum.
Prok... prok.. prok...
Suara tepuk tangan itu memecah keheningan. Debi dengan seringaiannya, menyandarkan diri ke badan wastafell.
"Jangan berprilaku sembrono seperti tadi, bodoh!" Kata Debi membuat Aksa menjitak kepalanya.
"Dia buat ku saja, wanita tadi." Lanjutya membuat Aksa menatapnya tidak percaya. "Mengalah untuk adikmu."
"Tidak bisa!"
"Kau tidak mau adikmu ini terus menjomblo dan tidak menikah?" tanyanya membuat Aksa menatap adiknya dengan tajam.
"Cari wanita lain. Jangan mendekatinya!" Aksa mengingatkan, namun Debi masih mengacuhkannya.
"Kau sudah memiliki istri walaupun akan bercerai."
"Aku akan segera bercerai."
Tak lama, dua boddyguard-nya datang menghampirinya.
"Ada apa tuan?" tanyanya.
"Kamu ikutin kemana wanita yang nampar aku tadi. Inget, ikuti sampai rumahnya dan tawari pekerjaan sebagai sekretarisku. Kau harus benar-benar bisa membujuknya." Jelasnya membuat dua boddyguard-nya mengangguk.
"Kau harus menyerah, karena dia tipe ku, aku mencarinya," ucap Debi
_________________________
__ADS_1
Bersambung...
Vote dan komen