SIAPA YANG MENGHAMILIKU?

SIAPA YANG MENGHAMILIKU?
Janggal


__ADS_3

"Mil, gimana keadaan Ibu kamu."


"Tadi Ibu sempat krisis Nel."


Nelam membawakan parsel buah-buahan karena mendengar kabar bahwa Ibunya Milan sakit. Ayahnya Milan juga terlihat sangat khawatir dengan kondisi istrinya itu.


"Bahkan Ayah gak mau makan Nel."


Tak lama selang beberapa menit Aisyah datang, sebenarnya lebih awal dari kedatangan Nelam. Namun Aisyah sedang mengurus keperluan Ibu Milan, karena Aisyah cukup dekat dengan Sang Ibu.


Milan bangkit setelah dokter keluar dari ruangan, mereka segera menghampiri Sang Dokter. "Ibu Aminah sudah sadar."


"Boleh masuk Dok?"


"Boleh, tapi maksimal dua orang."


Ayah Milan segera memasuki ruangan, namun Milan mendelik ke arah Nelam. "Aku masuk dulu ya Nel."


Nelam mengangguk mengiyakan.


Sesudah di ruangan, Milan menatap Ibunya dengan lirih. "Bu, Ibu pasti kuat."


"Ibu pasti sembuh," ucap Ayah Milan.


"Mil," panggil Ibu.


Milan menyeka air matanya.


"Menikah Mil. Sebelum Ibu meninggal, menikahlah."


"Iya Bu, Milan akan menikah secepatnya."


Milan segera keluar dari ruangan, setelah keluar, dia langsung menemui Nelam dan memegang kedua tangan Nelam. Spontan membuat wanita itu mengerutkan keningnya.


Aisyah hanya diam melihat Milan dan Nelam, namun diam-diam dia cemburu.


"Nel, aku mohon, nikah sama aku Nel."


"Ni-nikah?" tanyanya sedikit mengagetkan. "ta-tapi Milan."


Milan sedikit melengos tidak peduli alasan Nelam. "Demi Ibu aku Nel, dia mau aku segera menikah. Ini wasiat Nel."

__ADS_1


"Tapi Ibu kamu belum meninggal Mil!"


"Tetep aja Nel, Ibu udah sakit, mungkin dengan kita menikah besok, dia bakal sembuh."


Nelam masih berpikir, urusan menikah adalah hal yang sangat serius. Dan yang paling penting karena dia tidak mencintai Milan. Aisyah memegang punggung tangan Nelam.


"Nelam, ini demi nyawa seseorang," Ai menambahkan.


'Aku harus apa, aku didesak banyak orang,' batin Nelam.


"A-aku..."


"Mau ya, akhirnya kamu nerima aku Nel," ucap Milan kemudian mencium punggung tangan Nelam.


Tak lama kemudian setelah dua menit Ayah Milan keluar dari ruangan. "Ibu mau bicara sama Aisyah dan juga Nelam."


Milan mengerutkan keningnya. "Ada apa Yah?"


Nelam dan Aisyah memasuki ruangan bernuansa putih dengan aroma bau obat. Dua wanita itu berdiri di samping kiri Ibu Milan yang berbaring dengan selang oksigen di hidungnya.


"Ibu mau minta sesuatu sama kalian."


"Iya Bu, Ibu minta apa," ucap Nelam lembut.


Nelam saling tatapan dengan Aisyah kemudian kembali menatap Ibu Milan. "Iya Bu, Nelam gak akan pernah ganggu Milan lagi, karena Nelam ingin mereka bahagia."


Aisyah memegang tangan Nelam. "Apa kamu ikhlas Nel?"


Nelam tersenyum ikhlas. "Aku sama sekali gak keberatan I, karena aku yakin Milan bakal beruntung nikah sama kamu."


Nelam dan Aisyah panik karena Ibu Milan kejang-kejang.


"Nelam! panggil dokter!"


Nelam keluar ruangan dengan cepat. Dia panik menemui dokter yang akan masuk ke ruang sebelah namun Nelam memanggilnya.


"Ada apa Nel!" tanya Milan namun Nelam mengabaikannya.


Segeralah dokter memasuki ruangan itu. Seketika suasana menjadi duka saat dokter bilang kalau Ibu Milan sudah tiada.


"Waktu kematian pukul 14.00."

__ADS_1


"Mil, permintaan terakhir Ibumu, dia ingin kamu menikah dengan Aisyah."


***


Mengingat kejadian kemarin memang membuat Nelam sedih karena dia juga merasakan apa yang Milan rasakan yaitu kehilangan seorang Ibu.


Nelam berjalan dengan cepat menuju ruang staf keuangan, namun dia menabrak seorang wanita hingga mapnya terjatuh. Segeralah dia memungutnya dan meminta maaf pada orang itu.


Nelam tengadah melihat sosok wanita yang baru dia tabrak "Vera!" ucapnya syok lalu Nelam bangkit.


"Nelam," balasnya dengan lirih.


Nelam memegang bahu kanan Vera. "Kamu kerja di sini?"


Tiba-tiba Vera menjatuhkan diri untuk berlutut di depan Nelam. "Nelam! Aku nyesel dulu pernah jahat sama kamu, aku udah dapat karma setimpal atas perbuatanku dulu sama kamu."


"Karma apa?" Nelam memegang kedua lengan atas Vera untuk membangunkannya. "Bangun Vera.


"Rumahku kebakaran, gak lama Ayah ku meninggal Nel."


"Ver, aku turut berduka cita," ujarnya. "Aku udah maafin kamu Ver."


"Aku sekarang ngekost."


"Syukurlah Ver, kamu kerja di sini?"


"Aku baru aja keterima kerja kemarin."


"Wah, selamat ya."


"Kamu kerja di sini?"


"Iya, aku jadi sekretaris."


Mata Vera membulat kaget. "Wah, kamu beruntung banget Nel."


"Nelam," panggil seorang lelaki.


Dia menghampiri Nelam dan Vera, namun ada kejanggalan. Vera melotot melihat pria tinggi itu, ada apa dengannya, apakah ada yang salah dengan lelaki itu?


'Di-dia, pria yang menghamili Nelam,' batinnya.

__ADS_1


***


Vote dan komennya ya..


__ADS_2