
Tiba lah di depan Mansion mewah. Sungguh, orang ini sangat kaya raya. Nelam memimpikan mempunyai rumah seperti ini, tapi mimpinya masih di perawanan.
Aksa menggendong Raka membuat mata Nelam membulat.
"P-pak! Biar Raka jalan sendiri."
"Tidak boleh memangnya? Dia kan calon anakku."
Aksa membuka pintu. Mereka disambut para maid yang berdiri di dekat pintu. Berjalan lah kedua orang ini menuju meja makan karena hari ini Nyonya Kinan berulang tahun. Nelam meneguk salivanya kuat saat melihat furniture mewah dan guci yang serba mahal.
"Bagaimana kau tidak bahagia mempunyai rumah sebesar ini?" tanyanya sambil berjalan.
"Om, kenapa banyak olang?'
"Mereka menyambut kehadiran Raka," balas Aksa.
"Tidak apa-apa, Sayang. Mereka hanya memberikan hormat," jelas Nelam.
"Astaga, kau cantik sekali. Ini anakmu?" tanya wanita tua itu.
"Iya, Bu," jawabnya.
"Panggil Mama Kinan, ya," ucapnya sembari memegang bahu kiri Nelam.
Mama Kinan mengusap wajah Raka. Dia menggelengkan kepalanya dengan pelan.
"Siapa namamu, Sayang?" tanya Nyonya Kinan.
"Aka..." jawabnya membuat Aksa tersenyum.
"Raka, Tante." Nelam menambahkan.
__ADS_1
Tuan Gilang, papanya Aksa mengulurkan tangannya dan menggendongnya.
"Mirip sekali Aksa waktu kecil," ucap Tuan Gilang, dia mengecup pipi Raka. Anak itu memeluknya.
Kehangat sangat dirasakan oleh keluarga ini, mereka terlihat sangat bahagia. Kedua orang tuanya suka sekali pada Raka, bahkan mereka mencium dan mencubit pipinya beberapa kali. Aksa merasakan kehangat sebuah keluarga. Tak disangka, air mata lolos begitu saja dari matanya.
"Jangan menangis, seperti anak kecil saja," bisik Nelam membuat Aksa menyeka air matanya cepat lalu tersenyum bersama Nelam. Tangan kiri Aksa melingkar di pinggang Nelam. Sedikit canggung, Nelam melepaskan pegangan tangan Aksa.
"P-pak."
Mereka duduk di ruang keluarga, anak itu sangat aktif. Meloncat-loncat di sopa kemudian memeluk orang tua Aksa.
"Raka, kalo besar mau jadi apa?" tanya wanita tua itu.
"Au punya lumah besal."
"Mau punya perusahaan enggak?" tanya Tuan Gilang.
Nyonya Kinan mendecak pelan. "Ck, masa anak kecil sudah ditanya begitu Pap."
Mereka tertawa, lalu Tuan Gilang mencium pipi Raka. "Mau gak Raka panggil kita Opah sama Omah?"
Raka mengangguk setuju sambil menampilkan jari jempolnya. "Setuju!" balasnya bersemangat.
Nyonya kinan mendudukan Raka di sebelahnya. "Raka mau sekolah?"
"Mau kuliah, hehe," ucapnya dengan gummy-smile.
Aksa melihat ke arah Sang Ayah. "Papih, Rayhan sudah fitnah Aksa."
"Papih emang gak percaya sama dia, karena dia sama piciknya dengan ibunya."
__ADS_1
"Padahal dia cuma anak tiri Kakek."
"Dia serakah."
Aksa melirik Nelam lalu memegang tangannya. "Cantik."
Nelam hanya tersipu malu, entah kenapa bosnya yang baik ini selalu merajai pikirannya dari kemarin. Apakah ada benih-benih cita?
Nyonya Kinan melihat Nelam. "Aksa sudah menduda dan kau seorang janda, cepat lah menikah."
"Ta-" ucapannya terhenti.
"Secepatnya!" tembal Aksa membuat Nelam melohok tak percaya, Aksa memang sudah sangat menggebu-gebu untuk menikahi Nelam. Secepat itu kah Aksa jatuh Cinta?
Nyonya Kinan bangkit dari duduknya. "Ayok kita makan," ujarnya lalu menggendorong Raka. "Aduh, berat sekali cucu Omah ini."
"Raka mengingatkanku dengan Aksa waktu kecil, dia aktip dan tampan." Tuan Gilang lalu melihat Aksa.
Aksa melirik Nelam. "Bolehkah aku menginap di rumahmu?"
Mata Nelam membelalak. "Rumahku kecil."
"Tidak apa-apa, aku ingin tidur dengan Raka."
"Masalahnya, tetangga ku bakal ngomong yang enggak-enggak."
"Aku beli mulut tetanggamu."
"Tapi aku gak mengizinkannya."
Aksa menghela napas dalam. "Baiklah, kalau kau tidak mengizinkan."
__ADS_1
***
vote dan komennya yang banyak ya, supaya cepet update nya...