
...Aku ayam jantan, aku akan berdarah-darah untuk mendapatkanmu-Aksa...
Aksa memasukan telepon genggamnya, kemudian menghampiri Nelam yang sudah bangkit dari kursi besi. Kedatangan Aksa dilihat oleh Nelam dan Reno, kemudian Reno duduk di kursi agak jauh dari Nelam. Lantas Aksa memeluk tubuh Nelam.
"Aku panik, aku takut Raka kenapa-kenapa?!"
Aksa mengusap pucuk kepalanya. "Raka anak kuat, dia hebat sepertiku."
"Tapi Raka kejang-kejang, aku semakin khawatir, hiks.. hiks.."
Aksa memegang kedua bahu Nelam. "Raka baik-baik saja, aku jamin."
Hatinya sedikit tenang. mendapat pelukan dan perkataan lembut dari Aksa. Sungguh Nelam tidak menyangka, lelaki tegas seperti Aksa ternyata bisa iba juga.
"Aku tidak bisa melihatmu menangis."
Nelam duduk di kursi besi diikuti dengan Aksa, lagi-lagi Aksa menatap wajah cantik Nelam di sampingnya.
"Sudah makan?"
Nelam membalas tatapan dalamnya lalu mengangguk. "Aku sudah makan," jawabnya canggung kemudian Aksa meraih tangan kiri Nelam dan menciumnya.
"Aku harap kamu tidak lupa makan."
Aksa bangkit dari duduknya karena melihat seorang dokter keluar dari ruangan. Aksa menghampirinya dibarengi Nelam, di susul oleh Reno.
"Raka hanya demam biasa, harus rawat inap selama dua hari."
"Baik Dok."
__ADS_1
Aksa memasuki ruangan itu dengan cepat, setelah sampai dia membungkuk di dekat bed-crank. Menggenggam tangan mungil itu, kemudian air matanya jatuh ke pipi anak itu.
Nelam menatap wajah Aksa yang terlihat sangat khawatir. "Dia sangat cocok menjadi seorang Ayah."
"Om akan selalu ada buat Raka, maafkan Om."
Aksa terlihat sangat menyayangi Raka setelah tahu kalau anak itu adalah darah dagingnya. Padahal dia sangat sibuk akhir-akhir ini, namun demi Raka, Aksa akan menunda pekerjaannya.
Aksa melihat wajah Nelam, kemudian dia tersenyum. "Terimakasih sudah menjaga Raka."
Nelam tersenyum kecil. "Aku ibunya, sudah kewajiban ku menjaganya."
Aksa ikut memberinya senyuman. "Akhirnya kau tersenyum lagi, tidak apa-apa kalau Raka sakit, kau sudah bekerja dengan baik untuk menjaga Raka dengan kasih sayang yang tulus, aku berhutang Budi padamu."
Nelam memegang bahu kiri Aksa. "Kamu paman yang baik."
Aksa memegang tangan kanan Nelam. "Aku akan selalu menjadi baik untukmu dan Raka, aku tidak akan berubah, dan aku tidak akan menyerah untuk mendapatkan mu."
"Aku ingin memberikan saham perusahaan ku untuk Raka."
Nelam melotot tidak percaya. "Tapi kan Raka hanya kepo-"
"Shhhtt."
Aksa menempatkan jari telunjuk di bibir ranum Nelam. "Diam, atau aku cium?"
Nelam salah tingkah lalu menurunkan pandangannya. "Kamu terlalu baik untuk ku."
Aksa mengerutkan keningnya. "Apa aku harus jadi kriminal dulu, supaya kau terima cintaku?"
__ADS_1
'Aku ingin menerima lamaranmu, tapi aku takut Dirga celakain kamu," batin Nelam.
Aksa menceluk saku celananya lalu menyodorkan sebuah surat. "Aku tolak surat pengunduran dirimu, maafkan aku."
"Kenapa begitu?"
"Aku membutuhkanmu, kerjamu sangat bagus, kau juga pintar."
Nelam menerima surat itu, lalu tersenyum kecil. "Aku suka jika bos memujiku begitu, aku juga pernah bekerja di tempat lain, dan bosku tidak pernah menghargaiku, tapi kau tegas dan juga menghargai pegawainya, aku salut padamu."
Aksa mencium tangan kanan Nelam. "Aku bukan apa-apa tanpamu, tetap lah di sini sampai kita berdua menikah dan memiliki anak lagi."
"Bukannya orang sepertimu suka meniduri wanita?"
"Aku bukan binatang, aku tidak mau berganti pasangan. Jika aku telah menyukai satu wanita, aku akan menyukainya seumur hidupku."
"Jadi, kau tidak mau punya istri banyak?"
Aksa masih menggenggam tangan Nelam. "Buat apa? Satu saja cukup. Percuma aku punya banyak istri, aku cuma mencintaimu. Karena aku tidak bisa berbagi hati."
"Jika ada pria yang menyukaiku?"
Aksa mengerutkan keningnya. "Tidak boleh, kau milikku!"
"Tapi dia juga berbicara seperti itu."
"Aku ayam jantan perkasa, jika masuk satu jantan dalam kandangku, aku akan melawannya hingga berdarah-darah, kalau aku yang mati, baru dia boleh memilikimu."
***
__ADS_1
Vote dan komen ya.. udah mulai mau tamat ya..