
Dilihatnya, kenan dan kefa sedang tertidur, dan Nelam sedang duduk di sofa. Aksa melihat bayinya di boks bayi.
"Udah lama tidur?"
"I-iya, udah lama."
Nelam menahan tawanya saat melihat Debi berjalan pelan ke belakang lemari.
"Kenapa berantakan seperti ini, hm?" Aksa berjalan ke arah Nelam kemudian duduk di sebelahnya.
"Kan aku sendiri sayang, gak ada yang bantuin."
Aksa memegang tangan Nelam. "Aku tau Sayang, maafin aku ya? Tapi kita udah konsisten buat jadi orang tua yang baik buat mereka."
"Ayah, Ibu, sama adik kamu gak boleh bantuin kita? Kamu cemburu karena gak gak kebagian gendong anak mu?"
Aksa menghela nafas pelan. "Aku ingin mengurus mereka berdua denganmu saja."
"Baiklah jika itu mau mu."
Aksa menautkan anak rambut Nelam pada telinganya. "Raka sudah pulang?"
"Dia langsung tidur di kamarnya."
"Baiklah, mereka semua sudah tidur."
"Maksudmu?" tanya Nelam panik.
Aksa membuka sabuk celananya.
"Sayang, kamu haus? Atau laper?" aku buatkan makanan ya?"
Nelam sudah bangkit dari duduknya, takut suaminya akan melakukannya di sini. Bisa gawat, apalagi keluarganya sedang sembunyi bisa malu mereka.
Aksa menarik tangan Nelam. "Aku hanya haus, semenjak melahirkan, kau terlihat lebih cantik. Sini layani aku, aku akan melakukannya di sini."
"Tapi sayang."
"Katanya kau ingin menjadi istri yang baik, kan?"
__ADS_1
Nelam sudah duduk di sofa, Aksa mulai naik ke atasnya.
Debi, Ayah Gilang, Mama Kinan terkekeh kecil, kemudian Firly menggeleng.
"Oh ****, i dont see," ucapnya pelan.
pluk..
Sesuatu jatuh, Aksa menengok ke belakang, karena Mama Kinan sudah terlihat oleh mata Aksa, mereka keluar. Mama Kinan berjalan menuju pintu keluar, Aksa panik membetulkan kancing kemejanya.
"Suasana kamarnya begitu panas ya," ucap Mama Kinan sembari melenggang pergi.
"Mama? ke-kenapa?" tanya Aksa masih panik.
Disusul oleh Ayah Gilang. "Buat dua lagi."
"Papah?"
Firly berjalan sembari menutup matanya. "Oh ****, i don't see!"
Debi menimpuk Aksa dengan boneka babi. "Gaya kupu-kupu lebih bagus."
Nelam tersenyum lalu mengusap pipi suaminya. "Mereka tiba-tiba datang, aku tidak mungkin mengusirnya."
Aksa menghembuskan napasnya pelan, kemudian berjalan menuju keluar kamar.
Dilihatnya, mereka sedang menonton TV, Debi menggendong Raka, mereka tertawa bersama. "Akhirnya kita bisa berkumpul harmonis seperti ini," ucap Aksa.
Aksa menutup pintu kamarnya, mengunci, kemudian menghampiri Nelam kembali.
"Ayok kita lanjutkan."
"Tapi Kefa bangun, aku akan menyusuinya dulu."
"Baiklah, dia sebelah kiri, aku sebelah kanan?"
Nelam melotot tak percaya.
***
__ADS_1
Rapat keluarga di mulai.
Di ruang tengah, sudah ada Mama Kinan yang mengais Kefa dan juga Ayah Gilang yang memgais Kenan. Firly dan Debi bermain bersama Raka. Begini lah, Aksa hanya bisa melihatnya. Sungguh menyebalkan.
"Aksa sudah mendaftarkan Mama dan Papa untuk terapi di Eropa dan liburan di sana berdua, kalian bisa santai dan menikmati pemandangan di sana."
"Satu bulan lagi saja berangkatnya, kami masih ingin bersama cucu kami," ucap Tuan Gilang.
"Ini demi kebaikan Mama sama Papa, kesehatan nomor satu. Setelah pulang dari terapi, kalian boleh melihat cucu kalian lagi."
"Baiklah."
"Dan juga kamu, Firly, ikut ke Eropa temani Papa Mama."
"What? Tapi Kak, aku ada perlu di sini."
"Temani Mama Papa tanpa penolakan."
"Mama setuju dengan kamu Aksa, kita akan segera berangkat dengan Firly."
"Tapi Mam!" tolak Firly.
Mama Kinan berdiri. "KAMU INGIN TINGGAL FI SINI KARENA KAMU PACARAN SAMA PEMUDA BERANDAL ITU!" teriak Mama Kinan. "DIA GAK BAIK BUAT KAMU!"
Firly berdiri dengan mata yang berkaca-kaca. "Mam please, i love him, i want with him. Aku sama Andre gak mungkin di pisahkan."
"DIA DAN KITA BERBEDA FIR! DIA CUMA PEMUDA PENGANGGURAN DAN MISKIN! CARILAH PRIA YANG KAYA SEPERTI KAKAK MU AKSA DAN DEBI!"
Papa Gilang berdiri di sebelah Aksa. Sungguh, Aksa baru tahu masalah ini, pantas saja ada yang beda antara Mama dan Firly. Kefa menangis di gendongan Omahnya karena wanita paruh baya itu berbicara sangat lantang.
"MAH! BIARKAN FIRLY MEMILIH CALON SUAMINYA SENDIRI!"
"SUDAH! SUDAH!" teriak Aksa.
"Besok, bawa pacarmu kehadapan Kakak."
Firly menyeka air matanya lalu mengangguk.
***
__ADS_1