
"Maksud perkataan kakak apa?"
"Enggak kok, Kakak mau gosok baju kamu dulu. "
Nelam bangkit meninggalkan Reno yang duduk di sisi ranjang.
"Kakak dikeluarin?"
Nelam berhenti lalu memutar badannya yang sudah di lawang pintu.
"Ka-kamu tau darimana?"
"Kak Milan cerita sama aku," Reno berjalan ke arah Nelam. "Bahkan Kakak gak mau ngomong ke aku."
"Kakak bakal laluin ini."
"Kakak kuat?" tanyanya dengan air mata yang membendung. "RENO NANYA!" teriaknya membuat Nelam tersentak.
Mata Nelam berkaca-kaca lalu mengusap perutnya yang agak besar. "Kakak bakal kuat demi bayi ini."
"COBA AJA KAKAK GAK HAMIL!"
Isak tangis Nelam terdengar, namun Reno masih sedikit emosi.
"Tadinya Reno nerima ini semua, tapi kenapa masalahnya makin runyam?"
"Ini sudah terjadi Reno."
Reno menyeka air matanya. "Tetangga bahkan cela Reno Kak, ada yang nanyain kenapa perut Kakak besar? Bahkan mereka menyangka kalo Reno yang hamilin Kakak."
"Kita bakal pindah nanti Ren."
"Pindah kemana Kak! Rumah ini aja nunggak, belum bayar kontrakan!"
"Kakak bakal kerja."
"KERJA APA KAKAK! KAKAK AJA LAGI HAMIL! "
"RENO KAMU TUH ADIK KAKAK! KENAPA KAMU TERIAK SAMA KAKAK!"
__ADS_1
Reno mengusap wajahnya dengan gusar. "Udah lah, mending Reno pergi!"
"REN! RENO!"
"NELAM! NELAM!"
Nelam tersentak kaget lalu keluar kamarnya. Dia melihat Kakaknya Doni berjalan cepat ke arahnya. Reno pun mengernyit heran dengan kehadiran Doni dan istrinya.
Doni langsung menarik rambut Nelam dengan kencang. "KAMU TUH UDAH MAU NIKAH SAMA SI GUNTUR! KENAPA KAMU HAMIL! SIAPA YANG MAU BAYAR HUTANG GUA!"
"Awwww, sakit Kak..."
"GUGURIN ANAK INI!"
"KAKAK!" teriak Reno. "LEPASIN BANGSAT!"
Reno memegang tangan Doni agar melepaskan pegangannya pada rambut Nelam.
"DIEM LO ANAK KECIL!"
PLAKKK!
"SELAMA INI GUE DIEM!" teriak Reno dengan rahang mengeras membuat nyali Doni menciut. "GUE GAK MANDANG LO SIAPA! MAU LO KAKAK GUE SEKALIPUN!"
"Ren, lepasin Ren," ucap Doni takut.
"GUE BUKAN ANAK KECIL LAGI! DAN LO GAK BISA SEMENA-MENA SAMA GUE DAN JUGA KAKAK GUE!" teriaknya dengan mata memerah. "LO BUKAN KAKAK GUE!"
"Ren, udah Ren," Nelam memegang tangan Reno, namun Reno masih memegang kerah kemeja Doni.
"LO CUMA ANAK DURHAKA! LO GAK TAU DIRI, LO GAK TAU MALU!"
BUGHHH...
BUGH...
BUGH..
"MATI LO! LO GAK PANTES IDUPPPPP!" teriaknya sambil menendang Doni yang pipinya sudah merah dihantami Reno yang bar-bar.
__ADS_1
Nelam menahan tubuh Reno dari belakang, mata Reno yang memerah itu tiba-tiba mengeluarkan air mata.
"Disaat seperti ini, harusnya lo rangkul kita, lo Kakak paling tua, tapi lo sama sekali gak peduli sama kita," ujarnya. Reno melihat Feni, istrinya Doni, lalu menunjuknya. "WANITA ITU! UDAH NYEBARIN GOSIP ENGGAK-ENGGAK TENTANG KEHAMILAN KAK NELAM!"
Reno mendekati Feni, lalu dia menampar pipi Feni, Nelam mengejarnya lalu menahan tangannya.
"Ren, tenang Reno!"
"LO FITNAH KAKAK GUE, LO BILANG SAMA IBU-IBU KOMPLEK KALO GUE HAMILIN KAKAK GUE SENDIRI!" teriaknya kencang. "LO GAK PUNYA ADAB!"
PLAKKK
Doni menampar pipi Reno.
"LO BERANI TERIAK SAMA ISTRI GUA!"
"KARENA ISTRI LO PENYEBAR FITNAH! DIA JELEK-JELEKIN KAKAK GUE DI DEPAN BANYAK ORANG!"
"KALIAN ADIK GAK TAU DIRI!"
Reno mengepalkan tangannya lalu menggeladah ke lemari. Remaja itu memegang belati.
"SINI, NGOMONG SEKALI LAGI!"
"Ren, udah Ren," ucap Nelam.
Doni mundur dengan cepat dan panik, lalu menarik tangan istrinya untuk pergi dari hadapan Reno.
Nelam memegang tangan Reno lalu memegang belati yang dipegang Reno. "Jangan pegang senjata saat kamu lagi emosi."
Nelam menaruh belati itu di lemari.
Reno memeluk Nelam sambil menangis di bahunya. "Kakak, kenapa kayak gini.. hiks.. hiks.. Reno gak tau harus ngapain buat ngelindungin Kakak, Reno cuma bisa marah-marah."
Nelam mengusap kepala Reno. "Gak papa Ren, tindakan kamu gak salah, cuma kamu jangan terlalu mengandalkan emosi, jadilah pria dewasa walaupun kamu belum 17 tahun."
***
vote dan komen banyak-banyak ya, supaya double update
__ADS_1