
***
Nelam memasuki ruang kerjanya lagi, dia berjalan menuju kursinya namun Aksa menghadangnya.
"Aku harus kerja tau."
Aksa memegang dagu Nelam. "Kerja apa, hm?"
"Ya banyak, pertama aku harus menyiapkan schejule, kedua aku harus meminta tanda tangan Pak Deri dan keti-"
cup..
"Kamu terlalu cerewet."
Ciuman singkat itu, membuat Nelam bengong. Bagaimana mungkin ini terjadi? Ini adalah ciuman pertamanya. Sungguh, jantungnya berdebar serasa ingin keluar.
"Pak! Jika ada yang liat di CCTV gimana!"
Aksa menghela napas dalam. "Tidak peduli, aku hanya ingin mengespresikan cintaku."
"Pak, aku bawahanmu, dan kita sedang bekerja jang-"
Aksa berjalan maju membuat Nelam mundur hingga tubuhnya menempel dengan tembok. "I want you so bad," bisiknya.
Suara berat Aksa malah terdengar nyaman di telinga Nelam. Biasanya dia akan memberontak, kenapa Nelam diam saja? Apakah diam-diam dia menyimpan rasa. Aksa memegang dagu Nelam lalu menciumi pipi Nelam beberapa kali.
Cupp..
Cuppp...
Cuppp..
Cupp..
Nelam mengeratkan pegangan pada bahu Aksa, lalu menjauhkannya, bahkan Nelam memalingkan wajahnya. Ciuman Aksa yang menggebu-gebu itu membuat perasaanya tidak karuan.
__ADS_1
"Ada dua hal yang aku sukai dari dirimu," ujarnya yang sudah mengurung tubuh Nelam. "Pertama hatimu, kedua ketangguhanmu."
"Aku gak setangguh itu."
Aksa tersenyum kecil. "Lalu?"
Nelam masih memalingkan wajah. "Aku gak bisa natap mata kamu terlalu lama."
"Kenapa? Ada yang salah dengan mataku?"
'Tatapan tajam itu, mempesona dalam waktu yang bersamaan,' batin Nelam.
"Kamu belum jawab, Nel."
"A-aku.., Aku harus bekerja."
Nelam berniat lepas dari sebelah kiri namun Aksa malah menempelkan tangan kirinya.
"Aku menahanmu untuk mendengar jawabanmu."
Aksa masih dengan tatapannya yang terlihat tajam. "Aku sudah suka padamu, buat apa aku cari yang lain? Bagiku kamu yang sempurna."
Jujur, baru kali ini Nelam merasa nyaman jika Aksa di dekatnya. Dia tipenya, namun Nelam seperti jual mahal, dia menolak cintanya Aksa, entah karena apa.
"Tapi aku gak bisa."
Tatapannya melemah, Aksa memegang tangan Nelam. "Kamu terlihat menutupi perasaanmu. Ada apa, hm?"
"A-aku menganggapmu seba-"
sttttt.....
"Anggap saja perlakuanku ini hanya karena aku tidak mau kehilanganmu."
Nelam mengerutkan keningnya saat Aksa membuka kancing atas kemejanya menampilkan dadanya yang bidang.
__ADS_1
"Jika kita tidak menikah, aku akan memaksamu. Maka, menikahlah denganku."
"Pak! Tolong jangan seperti itu!"
"Kenapa?"
"Kamu gak cinta, kamu cuma nafsu!"
Aksa menghela napas pelan. "Aku cinta, jadi ada hasrat untuk memilikimu seutuhnya, artinya aku tidak mau kehilanganmu."
"Jika kamu lakuin itu, dan aku menolak, kamu malah akan kehilanganku."
'Aku juga cinta sama kamu, namun keadaan yang membuat kita gak bisa sama-sama,' batin Nelam.
"Aku ingin menikah denganmu, aku juga ingin memiliki anak dengan mu. Apakah itu mustahil bagi kita?"
Nelam memalingkan wajahnya, matanya juga berkaca-kaca. "Mungkin mustahil."
"Apa ada yang mengancammu?" tanyanya dengan mata yang berkaca-kaca, apakah dia selemah ini di depan Nelam. "Aku yakin, orang itu mengancammu."
Aksa mengancingkan kemejanya, lalu melihat Nelam kembali. "Aku tidak akan pernah memaksamu, aku mengerti kamu. Yang perlu kamu tau, aku mencintaimu, maafkan aku jika aku mencintaimu."
"Kamu orang yang tegas, seharusnya kamu tegas juga padaku, Pak."
"Untuk apa? kamu orang yang aku cinta, aku tidak mungkin melukaimu, apalagi hatimu."
"Aku harus bekerja."
Nelam berniat ke tempatnya kembali, namun Aksa menahan tangannya. "Jangan mendekati pria lain, apalagi memberikan hatimu pada orang lain. Aku tidak akan pernah ikhlas. Kalau kau tidak mau jujur siapa yang membuatmu seperti ini, aku akan cari tahu sendiri."
Aksa melepaskan pegangan tangannya, Nelam berjalan menuju kursinya dan menghiraukan Aksa. Hatinya teriris, pria itu terlihat lemah di depannya.
***
Vote dan komen ya, supaya double update.
__ADS_1