
"Oek.. Oek.."
Sepanjang jalan Raka menangis, wanita itu tidak tau lagi mau kemana kakinya berpijak.
"Kak, dingin banget malem ini, kita mau tidur dimana, kesian Raka. Duduk dulu yuk, di sana." Jari telunjuknya menunjuk ke depan rumah entah rumah siapa.
Nelam mengangguk panik, bayinya masih menangis. Mereka duduk di teras rumah agar Nelam bisa dengan tenang memberi ASI pada Raka. Nelam menutupi bagian dadanya dengan kain bedongan Raka.
Tak lama, pemilik rumah keluar dari rumahnya, seorang ibu yang memakai baju dater itu menghampiri Nelam.
"HEH! BERISIK! PERGI DARI SINI!"
"Kita cuma numpang duduk aja Bu, bayi kakak saya nangis terus belum minum susu."
"Saya gak peduli! Nanti anak saya bangun! Pergi!"
Reno bangkit dari duduknya. "Ibu wanita, tapi gak punya rasa kasihan sama wanita juga, cuma Tuhan yang bisa balas ibu!"
"Ngotot ya kamu! Saya laporin Pak RT ya!"
Nelam bangkit sembari membawa tasnya. "Udah Bu, saya bakal pergi sekarang," Nelam menarik tangan Reno. "Ayok Ren."
Mereka masih berjalan tanpa arah tujuan malam ini hingga mekihat pos ronda yang kosong.
Raka yang menyusu akhirnya terdiam dan tangisnya tidak terdengar, mungkin bayi itu tidur. Reno masih memegangi kain itu. Hingga mereka duduk di pos ronda.
Karena merasa lapar, Nelam merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah roti. Dia membagi dua dengan Reno, saat ini mereka hanya bisa memakan sepotong roti. Hati Reno teriris, dia meneguk salivanya kuat. Air mata membendung lagi di matanya, Reno bertekad kuat untuk rajin belajar lagi supaya dapat menggapai cita-citanya dan mengubah nasib malangnya ini.
Saat hendak memasukan roti ke dalam mulut, seorang anak perempuan berbaju lusuh dan kotor membawa karung di punggungnya berjalan melihatnya sambil memegangi perutnya.
Nelam refleks, lalu memanggilnya. "De... sini, kamu pasti laper. Ini buat kamu." Nelam memberikannya, namun sempat terhenti oleh Reno. "Tapi Kak.." Reno terhenti karena Nelam mengisyaratkan untuk diam.
Roti itu berhasil di ambilnya, anak itu melahapnya dengan cepat. "Makasih ya kak, aku gak kelaparan lagi. Aku pergi dulu ya kak, soalnya aku harus memulung lagi. Semoga kakak dapat kebaikan hari ini." Katanya membuat Nelam mengangguk.
Bayi mungilnya membuka matanya. Reno mengusap-usap pipi mulus bayi itu, lalu matanya menatap ke arah wajah Nelam. Tampaknya ada hal yang ingin Reno tanyakan. Tapi apakah Nelam tidak akan marah, kalau Reno menanyakan soal ayah bayi ini.
"Kak, aku boleh nanya gak?" tanyanya ragu.
"Tanya aja, gak apa-apa, kok." Sahutnya masih menggendong bayinya. Walaupun agak pegal sedikit.
"Ten-tang a-ayahnya Raka." Katanya ragu membuat Nelam terdiam, dia menatap wajah adiknya datar.
__ADS_1
"Kita gak mau cari?"
Nelam semakin memasang ekspresi datar.
"Ayahnya Raka gak ada, Ren. Sampai kapan pun, Raka gak akan pernah ketemu sama ayahnya, Jangan nanyain dia!" Nelam dengan nada suara agak tinggi membuat Reno merasa bersalah menanyakan hal itu, dia tak menyangkan kakaknya akan sangat marah tentang pembicaraan tadi.
"I-iya kak... ma-maaf." Ucap Reno menunduk.
"Kakak pegel ya," ucap Reno, kemudian remaja itu menggendong Raka.
Dua orang pria berdiri di depan Nelam, gadis itu panik saat salah satunya mencolek dagunya.
"Hey cantik, mau kemana malem-malem gini?"
Reno bangkit. "Singkirin tangan kotor kalian!"
"Wuihhh, tau apa lu anak kecil! Mau mati lo lawan kita!"
Pria itu menarik tangan Nelam dengan paksa. "Berlian mengkilau dan cantik, kita gak mungkin sia-sia in, malem ini kan."
"Jangan! Lepasin!"
"Tolong lepasin!"
Dua orang itu masih menarik tangan Nelam, entah mau membawa Nelam kemana. Reno masih bingung, dia menggendong Raka lalu mengejar Kakaknya.
"TOLONG!"
"TOLONG!"
Hingga ada beberapa orang, Reno segera meminta pertolongan.
***
"Lepasin!" Nelam masih panik.
"Lo tuh cantik banget walaupun lo gelandangan, jadi istri gue aja."
"Gak mau! Lepasin!"
"Kita main sebentar cantik, abisnya lo bikin gue terpesona."
__ADS_1
"WOY!" beberapa orang meneriaki, dua orang lelaki itu panik lalu melepaskan pegangan tangannya.
"Gak papa Neng?" tanya seorang lelaki tua dengan beberapa temannya.
"Gak papa Pak, makasih ya Pak."
"Iya Neng," bapak-bapak tadi pergi dari hadapan Nelam dan Reno.
"Kakak!"
Nelam memeluk Reno, lalu dia menangis.
"Nelam, Reno," ucap seorang wanita.
Tak lama, seorang wanita berjilbab biru tua dengan motif kupu-kupu, dan memakai baju gamis biru tua polos menghampirinya. Seketika membuat Nelam terlonjak kaget.
"Aisyah.."
"Nelam..."
Aisyah berdiri di depan Nelam, menatapkan penuh kekhawatiran. Ai menggendong bayi Nelam.
"Apa yang terjadi, Nel?" tanyanya sembari mengayunkan Raka dengan pelan.
"Aku diusir dari kontrakan." Sahutnya jujur membuat Ai menghembuskan napasnya pelan.
"Kamu tinggal sama aku aja di kontrakan. Tenang aja, kamu gak usah mikirin biayanya." Jelasnya membuat Nelam menatapnya tidak percaya.
"Aku bisa ngerepotin kamu. Aku janji, kalau udah punya uang, aku bakal nyari kontrakan lagi."
Ai menatap wajah mungil itu lalu senyumnya mengembang. "Iya... jangan sungkan. Kebetulan kamarnya ada dua. Kamu tidur sama aku, Reno sendiri." Jelasnya membuat Nelam mengangguk. Sungguh, seperti malaikat yang telah menjelma menjadi manusia. Gadis itu memang sangat baik.
Aisyah itu pernah duduk satu bangku dengan Nelam waktu SMA. Mereka sempat berkenalan, akhirnya akrab sampai sekarang. Walaupun penampilannya berbeda jauh dengan Nelam, dia tidak pernah menggunjing atau membicarakan penampilan Nelam. Wajarlah seorang penyanyi berpenampilan terbuka seperti itu, Ai menghargainya.
"Yuk kita pergi ke rumah kontrakan aku." Tawarnya membuat mereka beranjak pergi.
________________________
Bersambung...
Vote dan komen... 😍
__ADS_1