
Nelam harus membawa banyak buku karena hari ini dia piket, banyak buku di tangannya hingga dia menjatuhkan beberapa buku. Nelam melihat pria yang memungut bukunya.
"Kamu jangan bawa yang berat-berat."
Milan bangkit mengambil tumpukan buku di tangan Nelam. "Biar aku yang bawa, kamu bawa sedikit aja."
"Mil, gak usah."
"Ayok gak papa, mau ke Pak Restu kan."
"Tapi aku ngerepotin kamu."
"Gak ada yang namanya kamu ngerepotin aku Nel."
"Udah, aku aja Mil."
"Ya gak mungkin lah Nel, orang kamu lagi ha-" Milan langsung memotong ucapannya lalu melirik kiri kanan, untung saja suasana kelas sedang ramai. "Harus aku yang bawa."
""Mil, biarin aku sendiri Mil, biarin aku hadepin masalah aku tanpa kamu."
"Maaf Nel, kali ini aku gak mau dengerin kamu, aku cuma mau sibuk bantuin kamu."
"Kamu terlalu baik Mil, kamu gak sadar kalo aku cuma manfaatin kebaikan kamu."
"Man-maanfatin?"
Nelam mengangguk. "Aku cuma manfaatin kamu, aku sama sekali gak cinta sama kamu."
Sungguh perkataan Nelam menyayat hati Milan, Yang jelas Milan marah, kesal dan kecewa.
Milan menaruh buku itu di atas meja guru. "Kamu sadar gak sih Nel, aku tulus sama kamu, kamu malah sebaliknya."
"Maafin aku Mil."
"Dari kemarin aku belum ke rumah kamu lagi Nel, aku kangen kamu tapi kamunya malah ngehindar terus."
"Aku gak pantes kamu kangenin Mil."
__ADS_1
"Aku cuma kangen sama kamu aja dilarang, apalagi kalo aku udah cinta banget sama kamu."
"Cinta itu gak ada Mil."
"Ya karena kamu belum Cinta sama aku Nel, jadi kamu belum rasain gimana rasanya mencintai seseorang tanpa orang itu mau ngebalas perasaan kita."
"Karena aku gak mau ngerepotin kamu Mil."
"Gak usah repot-repot maksain diri kamu buat Cinta sama aku, kalo kita jodoh kita bisa Cinta satu sama lain."
"Berarti kita gak jodoh Mil."
"Bukannya gak jodoh, kita cuma butuh waktu, hati kamu juga Nel."
"Jadi, kamu gak mau buka hati kamu buat Cinta sama yang lain?"
"Susah Nel, aku udah terjebak, aku jatuh ke hatimu yang beku Nel."
Nelam menghela napas pelan. "Yaudah Mil, aku mau nganterin buku dulu."
"Tapi Nel, boleh kan aku bantuin kamu," ujarnya. "Bukan maksud aku kepengen kamu cinta sama aku, aku cuma mau kita temenan."
"Boleh aja Nel, siapa tau mantan kamu ini jodoh kamu."
Nelam hanya tersenyum lalu berjalan keluar diikuti Milan yang sudah membawa tumpukan buku.
***
Aisyah keluar ruang guru bersama ibunya, tujuan mereka yaitu perpustakaan.
"Umi, emang masih zaman jodoh-jodohin segala."
"Umi sama orang tua Milan udah setuju buat jodohin kalian."
"Milan udah punya pacar Mi, dia juga Cinta banget sama pacarnya."
"Pacar bakal kalah sama yang udah dihalalin."
__ADS_1
"Tapi kasian Milan, Umi."
"Kenapa Ai?"
"Masa kalian tega misahin Milan sama Nelam?"
"Milan itu nurut banget sama uminya, jadi dia bakal nikahin kamu."
Aisyah berhenti berjalan dibarengi ibunya, Umi Dewi melihat tingkah anaknya yang terlihat agak cemburu melihat Milan dan Nelam.
"Ayok i, kenapa bengong?"
"Eh, enggak kok, Mi."
Mereka melanjutkan langkahnya.
"Kamu pasti cemburu, hayo ngaku."
"Ih Umi."
"Tapi jujur ya, Ai suka juga kan sama Milan?"
Ai langsung membulatkan matanya lalu melihat ibunya. "Eh, eng-enggak kok." Elaknya.
"Jujur aja, Ai suka kan sama Milan?" tanyanya memastikan.
Ai hanya tersenyum malu.
Sang Ibu masih menggodanya. "Anak Umi lagi jatuh cinta."
"Apa Ai bisa dapetin hati Milan?"
"Bisa Sayang, kamu tulus sama Milan, pasti Milan bakal cinta sama kamu."
***
Vote dan komen ya..
__ADS_1
Aisyah.