
"Pak," Panggil Nelam.
Suara itu membuat pria tinggi itu memberhentikan jalannya sewaktu di lorong dekat ruang staf keuangan.
Aksa memutar badannya, melihat wanita cantik itu melepas cincin di jari manisnya. Aksa mengerutkan keningnya heran.
"Aku kembalikan ini," ucapnya sembari meraih tangan Aksa. Dia tempelkan benda kecil itu di telapak tangan Aksa lalu menutupnya. "Maaf Pak, saya gak bisa nerima lamaran Bapak."
Aksa melihatnya kecewa, lalu mengalihkan pandangannya sekilas. "Kenapa?"
"Saya masih trauma."
Aksa mencoba meraih tangan Nelam untuk memakaikan cincin itu kembali, namun Nelam menghindar dan menyembunyikan tangannya di belakang.
"Maaf Pak."
Pupus sudah harapan Aksa, tatapannya melemah. Dia meneguk salivanya dengan kuat. "Saya cinta sama kamu. Dari awal saya menghargai kamu karena saya tidak main-main."
"Maaf Pak."
"Saya gak berani nyentuh kamu karena kamu larang saya, tapi kenapa kamu masih nolak saya?"
"Karena..." Nelam menggantungkan ucapannya, Aksa semakin mengerutkan keningnya heran. "Karena aku tidak mencintaimu."
Aksa membuka mulutnya tak kuasa, kemudian mendekati Nelam dengan tatapannya yang tajam. "Coba kata kan sekali lagi."
Nelam menunduk dan berjalan ke belakang, hingga punggungnya menempel ke tembok. Kini tubuhnya dan tubuh Aksa sangat dekat menyisakan beberapa cm saja. Degupan jantungnya semakin berdebar serasa ingin keluar. Aksa mengurung tubuhnya, tatapannya masih sangat tajam dan menakutkan.
"Aku tidak suka kamu menolakku!"
"Aku ada pria lain."
__ADS_1
Aksa semakin memanas, dia menonjok tembok dengan tangan kanannya, membuat Nelam menutup mata sekejap.
"Tidak boleh ada pria lain, mengerti!"
"Tapi ak-"
empttt..
"Lep.."
Aksa mencium bibir Nelam membabi buta, karena Nelam menggebuk dadanya, pria itu melepaskan ciumannya namun dia menelusupkan kepalanya pada leher Nelam.
"Pak! Lepas!"
"Sakit!"
Aksa menjauhkan kepalanya karena daritadi dia hanya menerima penolakan. "Kenapa! Kau takut, eouhh?"
"Karena masa lalu mu, kamu jadi seperti ini! Gagal berumah tangga itu sudah takdir, kau jangan menahan diri kamu buat gak nikah lagi!" ucapnya setengah berteriak.
"Kamu gak tau apa-apa!"
"Aku memang gak tau apa-apa!" teriaknya membuat nyali Nelam menciut.
"Maaf Pak."
Aksa mendekati Nelam lalu mengaitkan anak rambut Nelam. "Aku sayang padamu, aku ingin menikahimu, aku ingin kamu menjadi milikku seutuhnya."
"Tapi aku gak bisa."
"Percuma ngomong lembut sama kamu! Sedangkan kamu gak luluh sama sekali! Apa aku harus memaksamu?! eouuhh! Aku sudah tidak bisa menahan diriku!" ucapnya dengan emosinya. Nelam menahan tangan Aksa, karena pria itu terlihat sangat ingin melucuti pakaiannya. Tidak, Nelam harus kabur!
__ADS_1
"Jangan Pak!"
"AKU TRAUMAA! TOLONG PERGII! HIKS.. HIKS.. "
Aksa mengatur napasnya kemudian menjauhkan dirinya, Nelam membetulkan kancing kemejanya.
Nelam menyeka air mata dengan punggung tangannya. "Aku harus kembali ke ruangan."
Aksa melihat layar handphone-nya kemudian mendapatkan pesan WA dari seseorang.
Rania : Sampai kapan pun kamu tidak akan pernah menikahinya.
Aksa : Dasar wanita picik, lihat saja! Aku akan menjebloskan mu!
***
Malam ini Aksa harus lembur seperti biasa, tadinya dia meminta Nelam untuk lembur, namun dia selalu menolak karena Raka. Aksa hanya bisa memaklumi karena dia seorang single parents.
Aksa menghembuskan napasnya pelan karena Nelam sudah pulang diantar oleh supirnya Aksa.
"Kenapa dia harus memiliki anak dengan pria lain, membuatku cemburu saja," ocehnya.
Aksa berjalan menuju ruangan staff namun dia terhenti saat melihat anak buahnya menghampiri dirinya membawa sebuah map.
"Gimana, kamu sudah cukup bukti?"
Bapak berkepala botak itu menyodorkan mapnya. "Semua bukti ada di sini."
Aksa membuka tiap lembar kertas itu lalu tersenyum lega. "Akhirnya, semua terbongkar. Kamu bakal mendekam dipenjara."
***
__ADS_1
Vote dan komennya ya..