
Nelam menjatuhkan mic-nya saat melihat seorang lelaki menuju ke arahnya. Baru juga dia di terima kerja di grup musik ini, namun tampaknya seseorang membuat hari pertamanya ini ancur.
"AWAS SEMUA! MENGHINDAR!"
Aksa mencengkal seorang pria yang memegang tangan Nelam, tampa pikir panjang dia menghantam rahang pria itu hingga jatuh. Aksa ada di atasnya lalu menghajar pipinya beberapa kali.
"LANCANG SEKALI KAU!"
"RASA KAN INI BRENGSEK!"
"STOP! STOP!"
"Ada kerusuhan!"
Seseorang menahan tubuh Aksa dari belakang, namun Aksa tidak tertahankan. Hingga dua orang yang melerainya. Pria itu tampak babak belur. Dadanya naik turun kemudian mencengkal tangan Nelam.
"Ayok pulang!"
"Dia istri saya! Pria itu sudah lancang pada istri saya! Jadi saya menghajarnya."
"Tapi istri kamu kan biduan! kalo gak mau di sentuh, harusnya kamu yang cari duit buat istri kamu!"
"Saya tidak ada waktu untuk ini."
Aksa menarik tangan Nelam dengan cepat menuruni tangga menuju mobilnya.
"Itu mobilnya? Itu kan mobil paling mahal!"
"Iya, suaminya orang kaya, kok masih kerja."
"Udah ganteng, kaya, pemberani, idaman banget sih."
"Sugar dady deh, tapi kelihatan masih muda banget."
***
Tidak ada pembicaraan.
Nelam melihat kaca mobil, tidak ingin melihat wajah tampan pria di samping kanannya.
"Aku akan menghajar pria yang lancang padamu."
"Aku sedang bekerja, dan aku bukan pegawaimu lagi, paham!"
"Kau berani padaku sekarang?"
Nelam meliriknya. "Aku tidak takut, karena aku bukan pegawaimu lagi! Kita tidak ada hubungan apapun!"
__ADS_1
Aksa menghentikan mobilnya di pinggir jalan. "Apa yang kau bilang!"
"Kita bukan teman, kita bukan keluarga, kamu orang asing."
"Aku benci kalau kamu bilang seperti itu!"
"Aku pengen kamu jauh dari aku!"
"Aku gak bisa, aku cinta sama kamu, Nelam."
"Aku gak cinta sama kamu! Aku mau pergi!"
Nelam membuka pintu mobil Aksa lalu keluar dari mobil, segera lah pria itu mengejarnya. Tetap saja, walaupun sedang sakit Aksa terlihat masih kuat.
"NELAM TUNGGU!"
Aksa mencengkal tangannya lalu menggendong Nelam ala bridal style. Nelam menggerak-gerakkan kakinya, namun Aksa berhasil memasukan Nelam kembali ke mobilnya. Aksa menutup pintu dan berlari ke sebelahnya, dan cepat menguncinya.
"Kau harus berpikir, dengan bekerja seperti itu memang tidak bahaya untukmu!"
Aksa menjalankan mobilnya kembali.
"Aku sudah lama bekerja seperti ini."
Aksa semakin memanas, lalu menghentakkan tangannya di setir mobil kemudian melihat Nelam.
"Kau mau di sentuh tangan kotor mereka!"
Aksa tersenyum hambar. "Bahkan kau diperkosa juga tidak menolak, bukan?"
Plakkk..
Aksa melirik Nelam dengan cepat, melihat bola mata Nelam yang semula biasa-biasa saja, kini air mata menggenang hingga turun ke pipinya yang mulus.
"Mungkin kau tau, karena dulu adikmu yang mengotoriku! Aku trauma hampir bunuh diri! Sekarang mana tanggung jawab adikmu, bahkan dia tidak peduli denganku, dan dengan anaknya!"
"Bukannya dia tidak peduli! Dia mencoba tanggung jawab tapi kamu egois?!"
"Tanggung jawab apa! Menanyakan kabar anaknya pun tidak! Bertahun-tahun aku terlantar, aku dibuat sakit, aku menderita karenanya!"
Aksa menghela napasnya pelan. "Dia harus apa? Maaf kan aku jika membuat mu marah. Sudah jangan terlalu terbawa emosi, aku yang salah."
Nelam menyeka air matanya. "Aku tidak akan mau menikah dengannya, aku hanya ingin dia menengok Raka, walau bagaimana pun dia Ayahnya. Malah, kau yang hanya sebatas pamannya, tapi lebih menyayangi Raka."
"Jadi, kau sangat benci padanya? Lalu kenapa kau pergi?"
"Aku diancam orang, aku harus resign."
__ADS_1
"Orang itu sudah dipenjara, teman mu sudah meninggal."
Nelam mengerutkan keningnya. "Teman ku?"
"Vera teman mu itu."
"Vera!"
"Iya, penyebab Rania membunuhnya, masih belum diketahui."
Aksa menurunkan pandangannya lalu melihat baju seksi Nelam yang membuat belahan dadanya sedikit terbuka.
"Jujur, aku menyukainya."
Nelam mengerutkan keningnya, melihat mata nakal Aksa. Segeralah dia menutup belahan dadanya, Aksa meneguk salivanya dengan kuat.
"A-aku harus segera ganti baju."
Aksa menatap lurus jalan. "Ya, kau memang harus segera ganti baju sebelum semua terlambat."
Nelam agak membelakangi Aksa.
"Aku masih bisa menahannya," ucap Aksa.
"Bisa tidak, kau lebih cepat?"
"Mana mungkin bisa cepat, di sebelahku ada wanita cantik."
"Jangan melihatku terus!"
Aksa tertawa kecil. "Kau terlihat panik, tenang saja, aku tidak akan macam-macam padamu."
"Jangan melihatku terus!" laranganya.
"Kalau kau tidak mau aku melihatnya, tutup saja dengan jasku."
Nelam melihat jas di belakang Aksa. "Aku pinjam."
Aksa memberhentikan mobilnya. "Ambil sendiri."
Nelam malah diam.
"Ambil, sebelum terlambat."
Nelam menarik jas yang ada di kepala kursi dengan tangannya di are kepala Aksa, namun pria itu menarik besi di bawah, membuat kursi menanggah, kemudian Aksa menarik tangan Nelam hingga dadanya menempel dengan dada Nelam yang berisi. Aksa menyatukan bibir mereka, setelah itu, mereka saling tatap.
"Aku sedang ingin."
__ADS_1
***
Vote dan komen ya...