SIAPA YANG MENGHAMILIKU?

SIAPA YANG MENGHAMILIKU?
Kelemahan


__ADS_3

Aku mencintaimu, kuharap kamu tujuan terakhirku. -Nelam.


***


TETT...


TETT...


Aksa menekan bel pintu kamar hotel Nelam, wanita itu menampilkan kepalanya saja, karena dia hanya memakai handuk.


Aksa menyodorkan tote-bag berisi baju yang baru dia beli. "Ini, aku akan mengantarkanmu pulang, aku tunggu di loby."


"Ma-makasih."


Nelam menutup pintunya, Aksa memutar badannya namun dia mengerutkan keningnya saat Sang Paman menghampirinya.


"Aksa, kau pahlawan, menyelamatkan nyawa orang."


"Aku sudah tidak peduli dengan omonganmu," balasnya dingin.


"Ternyata kamu suka wanita bekas."


"Apa maksudmu!"


Rayhan tersenyum miring lalu mendelik. "Dia seorang janda, dan kau perjaka."


"Aku tidak peduli."


Rayhan memasukan tangan pada sakunya. "Cari yang lain saja, dia cocoknya dengan ku, karena aku seorang duda."


Aksa mendorong bahu Rayhan dengan kuat. "Bicaramu tidak ada gunanya! Pergi!"


Rayhan mendekat lalu berbisik di telinga Aksa. "Dengan mudah, aku akan mendapatkannya, aku jadikan wanitaku, aku kasari, dan akan aku siksa."


Aksa memegang kerah kemeja Rayhan lalu mendengus kesal. "Secuil kau menyakitinya, selaut aku akan balas perbuatanmu!" ucapnya dingin tepat di bibir matanya.


"Baik, lepaskan dulu, aku tidak bisa melawanmu jika sendang sendiri, karena bodyguard ku sedang tidak ada."


Aksa membelokan lidahnya ke kiri. "Kau memang pecundang dari dulu."


Aksa mendorongnya agar menjauh dari hadapannya. "Pergi, aku sudah malas lihat wajahmu."


"Tentu, keponakanku, paman akan pergi dan merebut apa yang kau kuasai saat ini."


Aksa hanya tersenyum meremehkan. "Kapan? Kapan kau berhasil, eoh?"

__ADS_1


"Aku sudah tahu kelemahanmu dimana. Ini jalan kesuksesan ku bukan."


"Aku gak bakal biarin kamu menang, karena orang serakah seperti mu tidak akan pernah menang."


"Lihat saja Aksa."


Rayhan pergi, kemudian Nelam membuka pintu kamarnya. Dia sudah mengganti pakaiannya yang basah dengan pakaian casual.


"Pak, biar aku pulang sendiri."


"Aku gak bakal biarin kamu pulang sendiri."


***


Pandangan Nelam lurus, dia melirik Aksa, wajah pria itu memang selalu terlihat menegangkan. Apalagi sekarang sedang menyetir.


"Apa aku boleh tanya sesuatu?"


"Tentu."


"Kenapa paman kamu mau bunuh kamu."


"Dia anak tiri Kakek, namun serakah, ingin menguasai perusahaan yang Kakek rintis sampai bisa sebesar ini. Dulu perusahaan ini tidak begitu besar, tapi aku selalu bekerja dengan keras agar aku dapat membuat perusahaan ini besar."


"Berkat kamu, perusahaan ini menjadi perusahaan besar. Pantes saja mereka mengagumimu."


"Tentang parfume yang kalian pakai, kenapa bisa sama?"


"Parfume ku, Debi dan Reyhan itu parfum keluarga, kita produksi sendiri."


"Banyak yang memakai parfum sepertimu?"


"Banyak."


"Soalnya bau parfume nya mirip sekali."


Aksa meliriknya sekejap. "Mirip siapa?"


Nelam meramas roknya, lalu menggulum bibir. Apakah Nelam akan bercerita tentang masa lalunya yang suram itu.


"Mirip seseorang dimasa laluku, yang bahkan aku gak berharap dia datang kepadaku, dia cukup membawa luka yang masih membekas hingga aku tidak mau membuka hatiku untuk siapapun."


"Maksudmu? Kamu tidak akan membiarkan orang itu kembali? Memangnya kamu tidak akan memaafkannya?"


Nelam menggeleng. "Aku sangat membencinya hingga sekarang, aku sakit hingga sekarang."

__ADS_1


"Sebenci itukah? kalau dia kembali?"


"Aku yang akan pergi, aku akan pergi sangat jauh dari hidupnya."


Kikkkk..


Tiba-tiba mobilnya berhenti.


"Kenapa?" tanya Nelam serius.


Aksa melepaskan sabuk pengamannya. "Sepertinya aku menabrak sesuatu, sebentar."


Aksa berjalan kembali memasuki mobilnya. Nelam menatapnya khawatir. "Kamu menabrak apa?"


"Itu cuma batu."


Aksa menyalakan mobilnya kembali.


"Aku sangat hancur waktu itu, aku berantakan karenanya, aku benar-benar tidak akan memaafkannya."


Aksa melihat Nelam dengan lirih, mungkin dia kasihan mendengar cerita Nelam.


"Bukannya manusia akan melakukan kesalahan? Tuhan saja bisa memaafkan kesalahan hambanya meskipun banyak."


"Mungkin kamu berada di pihaknya karena kamu seorang lelaki, jika kamu perempuan dan mendengarkan ceritaku, pasti akan menyumpahinya." Nelam lalu menyeka air matanya.


Aksa memegang tangan Nelam. "Itu sudah masa lalu, sekarang kamu lupakan masa lalu suram itu, jangan menangis, aku gak kuat liat kamu kayak gini."


"Kamu dan Milan laki-laki baik yang selalu menguatkanku. Kalian tidak sama dengannya."


"Pokoknya masa lalu itu harus dilupakan. Kalau aku menemukan lelaki itu, akan ku hajar sampai babak belur."


"Aku percaya padamu."


"Lalu sekarang, apa kamu mau nikah sama aku?"


Nelam menghembus napas pelan. "Aku butuh waktu."


"Saat ini kamu rumahku, tempat aku pulang dan menemukan kebahagiaan, kalau kamu pergi, aku tidak tau kemana lagi aku akan pulang dan mencari kebahagiaan."


Nelam hanya tersenyum mendengarkan perkataan Aksa yang membuatnya terbawa perasaan.


***


Jangan lupa buat follow ya, supaya gak ketinggalan update..

__ADS_1


Vote dan komen supaya double up ya..



__ADS_2