
Nelam berlari diikuti Aksa, segeralah dia mencoba menerobos ruangan yang di depannya sudah ada Ibu dan Ayah Aksa.
"Tahan dia!" perintah Ibu itu membuat para bodyguardnya menghalangi tubuh Nelam.
"Nyonya.. Tolong nyonya.."
Nelam menjatuhkan tubuhnya di hadapan Nyonya Kinan lalu memegang kaki Ibu Aksa.
"Saya akan lakukan apa saja, asalkan saya bisa bertemu dengan Raka.. Nyonya.. saya mohon.. "
Aksa jongkok di sebelah Nelam memegang kedua bahu Nelam. "Berdiri, jangan seperti ini."
"AKSA! KAMU APA-APAAN SIH!" bentaknya.
Aksa tengadah melihat wajah Sang Ibu. "Kembalikan Raka pada Nelam," perintahnya membuat nyonya Kinan mengerutkan keningnya.
"JADI KAMU LEBIH MEMBELA WANITA MURAHAN INI! KAMU SUDAH MAMA JODIHKAN DENGAN WANITA BAIK-BAIK!"
Aksa membangunkan Nelam, mereka berdiri di hadapan Ibu dan Ayah Aksa.
"MAMA SUDAH KETERLALUAN!"
Plakkk!
__ADS_1
"Shh.. aww.." rintih Aksa setelah Sang Ayah menampar pipi mulusnya.
"Yang sopan kamu bicara sama Mama kamu!" balas Tuan Gilang setengah teriak. "MAU JADI ANAK DURHAKA KAMU!"
Aksa membuka mulutnya tak percaya. "Aksa udah nurutin kemauan kalian, pertama menikah dengan Rania si kriminal sadis itu, kedua melawan Rayhan sendiri, ketiga aku harus bertahan dari kesibukanku, sedangkan kalian gak pernah menghargai kerja kerasku selama ini!" ucap Aksa dengan nada bicara bergemuruh.
"Lelaki dilihat dari tanggung jawabnya, dan kamu memang harus tanggung jawab atas kerjaanmu!"
Aksa tersenyum hambar. "PERUSAHAAN INI GAK BAKAL BESAR TANPA KU! KALIAN MEMPERKERJAKANKU, MEMANFAATKAN KEPINTARANKU, DAN TAK MAU MEMBANTUKU SEDIKIT SAJA!"
Tuan Gilang mengusap wajahnya dengan gusar. "Baik lah, Ayah mengaku, kalau selama ini Ayah sangat mengandalkanmu, Ayah hanya tidak suka kamu berteriak pada Ibu mu."
"Sekarang Aksa minta, kembalikan Raka pada Ibunya."
Nyonya Kinan mengusap pipinya yang basah. "Tapi Nelam bisa membawa pengaruh yang buruk pada anak dan cucuku, kemarin saja dia membawa cucuku pergi jauh, aku gak mau kehilangan cucu satu-satunya."
Nelam meraih tangan Nyonya Kinan. "Saya janji, saya tidak akan memisahkan Raka dari kalian, tapi saya mohon, jangan pisahkan saya dengan anak saya."
Nyonya Kinan melirik Tuang Gilang lalu mengedipkan mata kiri pada suaminya kemudian Tuan Gilang berbisik. "Rencana kita berhasil," bisiknya.
Nyonya Kinan tiba-tiba memeluk tubuh Nelam, spontan membuat wanita itu membeku. "Akhirnya kamu nerima lamaran anak saya. Saya percaya sama kamu dari awal, pokoknya saya sangat berharap kalau kamu mau jadi menantu saya."
Nelam melihat mata Kinan yang semula dingin, kini menjadi hangat. "Nelam akan menikah dengan Pak Aksa, karena Nelam memang mencintainya."
__ADS_1
Aksa menghembuskan napasnya frustasi. "Ternyata ini sudah direncanakan." Aksa dengan tangan di pinggang sedikit melepas napas berat.
Tuan Gilang memegang bahu kiri Aksa. "Semua butuh taktik, bro."
"I agree with your idea! Good job bro!" Aksa, kemudian melakukan tos dengan ayahnya. Mereka memang seperti adik dan kakak.
"Jadi, kapan kalian menikah, Mama udah gak sabar mau punya cucu lagi," ucap Nyonya Kinan.
"Secepatnya," balas Aksa membuat Nelam menatapnya tidak percaya.
"Minggu depan lebih Bagus," usul Tuan Gilang.
"Aku setuju!" balas Aksa kembali.
Nelam melihat wajah Aksa di sampingnya. "Kau serius?" tanya Nelam.
Aksa tersenyum pada Nelam. "Tentu Sayang, aku ingin cepat, kalau bisa besok kita menikah."
Nyonya Kinan menghela napas pelan. "Gak besok juga, anak kalian sedang sakit, tau."
'Anak kalian?' batin Nelam.
***
__ADS_1
Vote dan komennya ya..