
Aksa hanya tidur satu jam saja, kemudian dia harus kembali ke kantor untuk menyusun bukti-bukti korupsi pamannya itu. Dia duduk sambil memijat keningnya. Dari kemarin dia mendapat ancaman dari pamannya itu, namun Aksa tidak punya rasa takut sedikit pun.
Aksa berjalan keluar ruangannya, mungkin di luar dia akan sedikit melepas stressnya. Coba saja ada Nelam, dia akan lebih semangat. Aksa berdiri di dekat besi pegangan, namun dia melihat teman lama Nelam, Vera namanya. Dia langsung masuk ke ruangannya saat tercyduk mengobrol dengan Rania.
'Awas kau jika berani bersekongkol,' batin Aksa.
Aksa mengerutkan keningnya melihat Rania melambaikan tangannya.
Aksa melihat Vera yang ketakutan saat dia keluar dari ruangannya. Segeralah Aksa mencengkal tangan Vera, matanya yang tajam itu melihat wajah Vera serasa menakutkan.
"Apa yang kau rencanakan!"
Vera meringis. "Pak lepasin, aku gak rencanain apa-apa."
Aksa melepaskan cekalan tangan Vera. "Awas saja kalau kau berani macam-macam!"
Vera hanya meringis lalu dia menangis. "Aku gak mungkin kayak gitu lagi ke Nelam, Pak. Kasian dia, bahkan dia trauma sama laki-laki sampai sekarang."
Aksa mengerutkan dahinya semakin heran. "Trauma maksudmu apa?"
"Semenjak dia hamil, dia trauma."
"Bicaramu tidak jelas!"
Vera menghela napas pelan. "Pak, aku tidak bisa merahasiakan ini tap-" Vera terhenti dengan arah pandang ke belakang Aksa. Hal ini membuat Aksa segera menengok ke belakang karena dia seperti diancam seseorang untuk bungkam.
"Kenapa? Kau harus lanjutkan bicaramu!" tegasnya.
"Ma-maaf Pak, kerjaan saya banyak."
Aksa semakin heran dengan sikap Vera, percuma berusaha mencari jawaban ini kalau kunci jawabannya pun enggan memberitahu.
***
Aksa, menyetir malam ini dengan kantuk yang merajainya. Namun sebisa mungkin dia harus antarkan file itu, agar sampai ke tangan KPK.
"Cukup!" teriak Aksa karena dia melihat sosok pria bertopeng di belakangnya.
Bugh...!
Satu pukulan itu membuat Aksa memberhentikan mobilnya di pinggir jalan.
Seorang pria bertopeng itu menaikkan kemeja bagian bawahnya sedikit dan mengambil sebuah pisau.
Bugh..
Srtt..
Aksa memegang pisau oleh tangan kanannya, dia keluar dari mobil kemudian mengejar pria bertopeng. Meskipun begitu, tangan kanannya terluka hingga tangan kiri menahan darah yang keluar.
Kali ini pria itu berhenti dengan sebuah map di tangannya, membuat Aksa berhenti mengejarnya, dia tersenyum senang sepertinya mangsanya telah terjebak!
__ADS_1
Pria itu menodongkan pistol! Aksa mengangkat kedua tangannya.
"Dua langkah kau mendekat, dua kali kepalamu tertembak!"
Aksa tahu, pasti Rayhan akan membidik kepalanya, tujuannya memang membunuh Aksa.
"Aksa, ucapkan selamat tinggal pada dunia mu ini!"
"Apa maksudmu!"
"Jika kamu bergerak, maka aku akan menembakmu!"
"Sialan! bicaramu omong kosong!"
"Apalagi kau sudah memiliki anak."
Aksa semakin heran, Rayhan mendekati Aksa dengan pistolnya. Aksa masih terpaku karena sebentar lagi Rayhan benar-benar akan menghabisinya.
"Wanita yang kau tiduri itu hamil, kamu bahkan kurang informasi, dan aku lah pengamat paling hebat!"
Aksa masih terpaku. Dia tengadah menahan air mata yang mengumpul di pelupuk matanya.
'Raka? Jadi selama ini?" batin Aksa.
flashback kata-kata Nelam.
"Aku trauma hingga aku membenci lelaki!"
"Aku bertahan sendiri, aku sangat kesakitan."
"Raka tidak akan pernah bertemu ayahnya!"
"Raka mirip sekali dengan Aksa ya."
Aksa meneguk salivanya, setelah mengetahui kebenarannya. Aksa menunduk meski pistol pamannya itu di arahkan padanya.
"Aku ingin hidup demi anakku, dia membutuhkanku," ucapnya.
Rayhan tersenyum miring, dia tertawa kemenangan. "O.. Ow... Kau penakut rupanya."
"Jangan sakiti mereka!" teriaknya.
"Aku tidak akan menyakiti mereka, aku hanya akan melenyapkanmu sekarang, Aksa."
Angin berdesir terasa sangat dingin malam ini. Dengan Aksa yang berada di bawah kendali pamannya yang tidak punya hati nurani itu.
Aksa menunduk dengan sejuta penyesalan.
'Aku memang Ayah yang tidak bertanggung jawab," batin Aksa.
'Tuhan, berilah aku waktu untuk memeluk anakku, aku menyayanginya,' batin Aksa.
__ADS_1
"Aku kasih waktu lima menit, kau bisa menelpon seseorang untuk berbicara terakhir kalinya, sebelum aku menembakmu."
Aksa melihat layar handphone-nya lalu menelpon seseorang, dia menempelkan hand-phone di telinganya.
Aksa tidak bisa lagi melawan air mata yang terjun dari matanya.
"Hallo..."
"Apa kau baik-baik saja?"
"Iya Pak, ada apa?"
"Ra-Raka sedang apa?" Aksa menyeka pipinya yang basah.
"Dia sudah tidur, Pak? Bapak menangis? ada apa?"
"Nelam, apa kau sudah mencintaiku?"
"A-apa?"
"Aku butuh jawaban darimu sekarang, sebelum aku pergi."
"Maksudnya apa Pak! Kau mau pergi kemana?!"
"Aku mencintaimu, aku sungguh mencintaimu. Kalau pada akhirnya kita tidak bisa bersama, aku cuma mau bilang kalau kau wanita tercantik yang pernah aku temui."
"Kenapa kamu berbicara seperti itu, hiks.. hiks.."
"Aku akan pergi."
"Pergi kemana? Aku juga mencintaimu."
"Terimakasih sudah menjadi bagian dalam hidupku walaupun hanya sekejap."
"Ucapkan selamat tinggal pada dunia, Aksa!"
Aksa melihat Rayhan panik saat pria itu menarik pelatuknya.
Dor..
Dor..
Dor..
Peluru itu berhasil melukai anggota tubuhnya, terasa sakit bertubi-tubi. Tubuhnya bagai ditusuk beberapa besi. Mungkin sakit ini tidak terlalu sakit dibandingkan sakit yang di derita Nelam selama ini. Aksa ikhlas, mungkin ini karma yang harus dia dapatkan.
Dengan deru napas yang memburu, Aksa tumbang. Kemejanya berbasah darah dari kulitnya.
***
Vote dan komennya.. Huhu.. jangan nangis ya..
__ADS_1