SIAPA YANG MENGHAMILIKU?

SIAPA YANG MENGHAMILIKU?
Dia sepertiku


__ADS_3

Debi menutup mulutnya yang membulat. "Seriously?"


"Raka anakku, Nelam hamil anakku setelah aku menidurinya dulu."


Debi melipat tangan sambil melihat Aksa dengan kagum. "Mungkin kau terlalu nafsu, sampai dia hamil, subur juga."


"Kau sudah berjanji akan menutup rahasia ini rapat-rapat pada Nelam."


Debi menghela napas pelan. "Sampai kapan kau akan menutupinya, eouh?"


"Sampai aku menikahinya, dan kalau Nelam marah ingin aku menceraikannya, aku tidak akan pernah menalaknya. Aku percaya, dia akan memaafkan ku."


"Kau yakin, dia akan memaafkanmu?"


Aksa menempatkan jari telunjuk pada bibirnya. "Syutt!"


Debi mendelik ke belakang saat Nelam datang dari balik pintu. Dia melihat Aksa dengan panik. "Selang infus!"


Aksa segera menarik selang infusnya dan memegangnya, mungkin Nelam akan memarahinya kalau dia mencopot selang infus. Nelam berjalan ke arah Aksa dengan panik, dia memegang kedua pipi Aksa.


"Kamu sudah pulih? Ka-kamu benar-benar sadar?"


Aksa memegang tangan Nelam hingga selang infusnya jatuh. "Kamu mengkhawatirkanku, sayang?"


"Bu-" Nelam melihat selang infusnya. "Kenapa kau lepas!" Nelam setengah berteriak.


"Aku pamit keluar," ucap Debi.


"Aku ingin menemui Raka."


"Kenapa?"

__ADS_1


"Aku rindu padanya."


Nelam menghembuskan napasnya pelan. "Jadi kau hanya rindu sama Raka?"


Aksa tersenyum kecil lalu menarik tangan Nelam agar lebih dekat dengannya. "Yang pasti aku juga merindukanmu, Nelam."


"Kenapa bisa, hm?"


"Sudah ku bilang kalau kau segalanya."


"Ada satu fakta yang tidak bisa aku sembunyikan padamu."


"Tentang apa?"


"Tentang Raka."


'Pasti Nelam bakal bilang kalo Raka keponakanku,' batin Aksa.


Aksa membuka mulutnya menahan rasa bersalahnya. Dia keliru sampai tidak mengenali putra kandungnya. Setelah berada di samping kiri brankarnya, Aksa memegang tangan mungil Raka.


'Dia tumbuh baik dijaga seorang bidadari tak bersayap. Aku seorang ayah, aku memiliki seorang putra yang tampan, dia sepertiku, dia pintar dan kuat,' batin Aksa.


"Om Papa sakit apa? kenapa duduk teyus di kasul?"


'Aku tidak akan membiarkan Nelam dan Raka pergi dari hidupku, aku tidak mau kehilangan mereka untuk yang kedua kalinya,' batin Aksa.


Aksa meneguk salivanya kuat, kemudian melihat lutut Raka yang memar. Tatapannya berubah drastis, dia melihat Nelam dengan khawatir.


"Kenapa lutut Raka sampai seperti ini! Kamu tidak mengawasinya!?" ucapnya sedikit amarah.


Nelam mengerutkan keningnya. 'Kenapa dia jadi sangat peduli pada Raka?' batin Nelam.

__ADS_1


"Aku sedang bekerja, Raka main di luar," balasnya jujur.


Nyonya Kinan memperhatikan tingkah Aksa. "Cuma luka segini aja kok jadi masalah?"


Aksa masih belum nerima ini, dia terlihat sangat posesif pada Raka. "Aku akan mengirimkan baby sister yang paling handal."


Nelam menggeleng. "Aku gak mau, kalau Raka diurus oleh orang lain, aku bakal ngerasa jauh sama dia."


Aksa mengerutkan keningnya, sedikit keras kepala. "Kamu bahkan lalai sampai lututnya memar, gimana kalo Raka main di jalan? Bukannya banyak kendaraan berlewatan?!" tegasnya malah membuat semua orang bingung, ada apa dengan Aksa?


"A-aku, iya mengerti Pak."


Aksa menghembuskan napasnya pelan. "Aku hanya khawatir karena aku sangat menyayanginya, maaf kan aku Nelam."


"Aku mengerti."


Nyonya Kinan melepaskan Raka, anak itu berlari dan naik ke atas sofa.


"Aksa sangat sayang pada Raka, apalagi kalau kalian menikah dan memiliki anak. Cepat lah menikah," perintah Nyonya Kinan.


"Maaf Bu, tapi..."


Aksa meraih tangan Nelam. "Kamu masih trauma?"


Nelam mengangguk lalu melihat ke arah Ibu Aksa. "Bu Kinan memang harus menyayanginya karena... " Nelam menggantungkan ucapannya.


***


Vote dan komen ya..


masih berlajutkok..

__ADS_1


__ADS_2