
Bagaimana rasanya meneriman ciuman pertama dalam hidup kita? Apalagi ciuman itu dari seseorang yang juga kita sukai? Pasti semua akan setuju untuk mengatakan bahwa ada rasa kaget, gemetar, melayang, dan yang paling utama senang.
Fairy mengalaminya malam ini. Ciuman pertama yang membuat tubuhnya sedikit gemetar, ia bagaikan tersengat listrik dengan tegangan sangat tinggi saat bibir Arnold sudah menempel dibibirnya, menggesek perlahan seolah memberi instruksi kepada Fairy untuk membuka mulutnya, memberikan kesempatan bagi Arnold untuk memperdalam ciumannya.
Walaupun gadis itu sudah pernah melihatnya dalam kehidupan nyata dan juga melalui film atau drama Korea kesukaannya bagaimana ciuman itu terjadi, ternyata dalam prakteknya sungguh berbeda.
Tangan Fairy yang awalnya diletakan didepan dadanya, perlahan turun ke bawah. Ia tanpa sadar memegang atau lebih tepatnya mencengkram kedua sisi kemeja Arnold dengan sangat kuat.
Tangan kiri Arnold yang melingkar di pinggang Fairy menarik tubuh gadis itu agar semakin merapat padanya. Sementara tangan kanannya membelai kepala Fairy, mendorongnya perlahan ketika sudah ada di belakang tengkuknya, sehingga ciuman itu memang menjadi semakin dalam, menggoda keduanya untuk menikmatinya sambil memejamkan mata.
Sekalipun bibir Fairy hanya diam saja tanpa membalas ciuman itu, namun penerimaannya, sikap diamnya membuat Arnold bahagia. Dia seakan tak ingin mengahirinya namun keduanya butuh oksigen untuk mengisi pasokan paru-paru yang mulai kosong.
Arnold tak menjauhkan wajahnya ketika ciuman itu berakhir. Ia masih menempelkan dahinya pada dahi Fairy, membiarkan deru napas mereka yang belum stabil karena ciuman panjang itu saling menerpa kulit wajah dan memberikan rasa hangat.
Tersihir dalam pengalaman ciuman pertama untuk sesaat membuat kesadaran gadis tak berpengalaman itu lumpuh. Dan ketika ciuman itu berakhir. Ketika mata Fairy perlahan terbuka, ia menyadari bahwa ini semua terlalu cepat. Tangannya yang memegang kemeja Arnold terlepas, ia mundur beberapa langkah.
"Arnold, kita pulang yuk! Sudah agak larut!" kata Fairy lalu segera berlari meninggalkan cowok itu, menembus hujan yang sudah agak redah, dan masuk ke dalam mobil yang terparkir tak jauh dari sana.
"Fairy...!" seru Arnold lalu mengejar gadis itu.
Saat Arnold sudah masuk ke dalam mobil, ia menyalahkan lampu dan menatap gadis itu.
Wajah Fairy yang agak basah nampak sedikit merona. Namun tangan gadis itu terlihat bergetar.
"Apakah kamu kedinginan?" tanya Arnold lalu meraih tangan Fairy namun gadis itu menarik tangannya ke atas sebelum Arnold menggengamnya.
"Eh...kita pulang ya.." kata Fairy tersenyum agak kaku. Ia tahu tubuhnya gemetar bukan karena hujan tapi karena efek ciuman Arnold.
"Setidaknya, keringkan air di wajahmu !" kata Arnold sambil mengukurkan beberapa lembar tissue pada Fairy yang memang ada didalam mobil Noah.
Arnold menyesal memilih menggunakan mobil Noah. Seandainya ia membawa mobilnya sendiri, di jok belakang selalu tersedia pakaian dan jaket bersih.
Untuk beberapa saat keduanya saling diam. Hanya ada suara gerakan tangan yang mengeringkan wajah dan bagian tubuh mereka masing-masing yang terkena air hujan.
"Fairy....apakah kau marah aku menciummu?" tanya Arnold pelan sambil menatap Fairy lembut.
"Tentu saja. Kau bukan pacarku namun sudah mengambil ciuman pertamaku!" kata Fairy dengan wajah dibuat agak cemberut namun dalam hatinya gadis itu berbisik,"Mana mungkin aku marah? Tadi itu sungguh indah"
Arnold tersenyum bahagia mendengar pengakuan Fairy. Jadi aku yang pertama menciumnya? Wah, sungguh aku ini sangat beruntung. Aku ingin menjadi pria pertama dan satu-satunya yang akan mencium dia.
"Kalau begitu, jadilah pacarku!" kata Arnold dengan suara yang sangat bergetar. Dia tak pernah segugup ini ketika meminta seorang gadis untuk menjadi pacarnya.
Apakah Fairy senang mendengar pengakuan Arnold? Tentu saja senang. Kepalanya hampir saja mengangguk dan bibirnya hampir mengucapkan kata "ya". Tapi saat ia kembali mengingat nama besar Arnold Manola, gadis itu menggeleng.
"Tidak. Aku....aku...rasa ini terlalu cepat, Arnold. Kita pulang saja ya..." kata Fairy lalu memakai sabuk pengamannya.
"Fairy...aku serius memintamu untuk menjadi pacarku!"
Fairy menatap Arnold "Aku juga serius ingin pulang saat ini. Jadi, kau mau mengantarku atau aku pesan taxi saja?" tanya Fairy dengan nada sedikit mengancam sambil membuka tas gendongnya untuk mengeluarkan hp nya.Namun perkataan Arnold menghentikan gerakan tangannya.
__ADS_1
"Baiklah. Kita pulang!" kata Arnold dengan nada putus asa lalu menyalahkan mobil itu dan bergerak perlahan meninggalkan Fairy Garden.
Tak ada percakapan yang tercipta selama perjalanan menuju ke asramanya. Keduanya saling diam dengan pikiran masing-masing. Hujan sudah berhenti saat mereka memasuki kawasan asrama.
Begitu mobil berhenti, Fairy cepat-cepat membuka sabuk pengamannya dan langsung membuka pintu mobil.
"Terima kasih!" katanya lalu segera keluar dari mobil.
"Fairy....tungguh!" panggil Arnold. Cowok itu juga keluar dari mobil dan melangkah mendekati Fairy yang sedang berhenti sambil menatapnya.
"Ada apa?" tanya Fairy.
"Kau melupakan boneka perinya" kata Arnold sambil mengulurkan boneka itu.
"Terima kasih!" Fairy menerima boneka itu lalu segera berbalik namun sebelum ia melangkah, ia kembali menghadapkan tubuhnya pada Arnold. Tangannya membuka penutup tas gendongnya dan mengambil hp yang diberikan Arnold padanya.
"Kau sudah kembali jadi hp mu ku kembalikan" kata Fairy.
Arnold menggeleng. Ia mengeluarkan hp nya dari dalam saku celananya yang model, merk serta warnanya sama persis dengan yang dipegang oleh Fairy.
"Ini hp ku dan itu hp mu!" kata Arnold.
"Tapi...!"
"Tidak sopan mengembalikan hadiah yang sudah diberikan padamu dengan segenap hatiku. Aku juga memberikan hp itu bukan karena kau gadis matre atau karena aku ingin membuatmu terpesona padaku dengan hadiah yang mahal. Karena bagiku, kau tidak dapat dibandingkan dengan apapun"
Perkataan Arnold kembali membuat Fairy bergetar. Ia menatap Arnold dengan senyum yang dibuat sewajar mungkin "Terima kasih ya...paman"
"Baiklah. Kau boleh memanggilku paman sesuka hatimu. Namun bolehkah kau membalas semua pesanku, mengangkat semua panggilan teleponku padamu?"
Fairy mengangguk "Akan ku usahakan. Good ninght, Uncle..!" ujarnya lalu melambaikan tangannya dan melangkah masuk.
Arnold menatap Fairy sampai gadis itu menghilang dari pandangannya.Ia tersenyum. Semangat Arnold. Kau pasti bisa menaklukannya.
Arnold kembali masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan kawasan asrama itu.
************
Cassie merasa heran karena Fairy belum juga pulang. Ia menelepon gadis itu namun hp nya tidak aktif.
Mengusir rasa bosannya, Cassie membuka jendela kaca yang ada di dekat meja belajar Fairy. Matanya langsung terbelalak melihat Fairy sedang berbincang dengan seorang cowok. Wajah cowok itu kurang jelas karena ia memakai topi dan juga penerangan di halaman asrama agak gelap. Namun Cassie sepertinya pernah mengenal cowok itu. Bahkan postur tubuh cowok itu sangat familiar baginya.
"Siapa ya? Sepertinya aku pernah mengenal cowok itu" Cassie memutar otaknya namun ia seakan buntuh. Ia pun langsung menjauh dari jendela saat Fairy terlihat melambaikan tangan pada cowok itu dan segera masuk.
Saat Fairy membuka pintu kamar, Cassie menyambutnya dengan senyum menggoda.
"Oh...begitu ya...ternyata diam-diam sudah punya teman kencan"
Fairy terkejut. Ia menoleh ke arah Cassie dengan sedikit gugup.
__ADS_1
"Dari mana kamu tahu?"
Cassie menunjuk jendela kamar yang memang belum ditutupnya.
"Kau melihat kami?" tanya Fairy semakin gugup.
"Ya. Sayangnya wajah cowok itu kurang jelas karena dia memakai topi dan agak gelap"
Fairy melepaskan tas gendongnya, lalu membuka bajunya yang agak basah dan menggantinya dengan gaun tidur yang berlengan panjang.
"Siapa dia?" tanya Cassie penasaran.
"Arnold Manola" jawab Fairy memutuskan untuk terbuka saja pada temannya itu.
Cassie melipat tangannya di depan dada lalu menghentakan kakinya kesal. "Berhentilah bercanda, Fairy! Katakan padaku siapa cowok itu"
Fairy menatap sahabatnya itu. Cassie saja tak percaya kalau seorang Arnold Manola akan mendekatinya.
"David Jhonson" Fairy menyebutkan sebuah nama yang dia ingat sebagai salah satu penulis buku.
Cassie mengerutkan dahinya "David Jhonson? Mahasiswa?"
"Bukan. Penulis buku"
"Wah...kalian pasti ketemunya di perpustakaan ya? Apakah kalian pacaran?"
Fairy menggeleng "Dia hanya mengajakku makan malam"
"Cie...cie...pasti lama-lama juga mau...Kenalkan dia padaku ya.."
Fairy naik ke atas tempat tidur dan membaringkan tubuhnya "Kau pasti akan pingsan jika bertemu dengannya secara langsung"
"Kenapa? Apakah dia sangat ganteng? Atau kegantengannya melebihi Arnold Manola penyanyi idolaku itu?" tanya Cassie semakin penasaran.
"Aku mengantuk!" Fairy langsung mematikan lamou yang ada di samping tempat tidurnya dan pura-pura memejamkan matanya.
Cassie tak mau memaksa. Ia tahu kalau Fairy orangnya sangat tertutup. Ia akan bicara tentang dirinya kalau dia mau bicara. Selebihnya, gadis itu akan tutup mulut.
Cassie pun memutuskan untuk tidur karena dia memang sudah mengantuk.
Dan Fairy.., apakah gadis itu tertidur? Big NO!
Matanya kembali terbuka saat ia mendengar dengkuran halus Cassie. Hatinya gelisah. Mengingat ciuman Arnold dibibirnya malam ini. Seolah-olah ciuman itu tak pernah berhenti. Ia masih merasa bibir Arnold masih terus menempel dibibirnya. Memberikan rasa hangat. Dan harum tubuh cowok itu seakan menempel di hidungnya. Sungguh memabukan.
Tangan Fairy memegang boneka itu. Menciumnya perlahan seolah sedang mencium si pemberi boneka.
Ah...ada apa dengan diriku ini? Apakah aku sudah gila? Tidak...aku tidak boleh seperti ini. Ya Tuhan, mengapa rasa kantukku belum juga datang? Arnold...oh...Arnold, apakah kau sudah mencuri hatiku???
Siapa yang langsung tertidur setelah menerima ciuman pertama???
__ADS_1
MAKASI SUDAH BACA YA...
JANGAN LUPA LIKE, KOMENT DAN VOTE YA....