SONG IN MY LIFE

SONG IN MY LIFE
Pergi


__ADS_3

Tepuk tangan mengiringi ujian akhir Fairy. Sebagai mahasiswa yang selalu mendapatkan nilai terbaik di semua jenis mata kuliahnya, Fairy pun menjadi orang pertama yang lulus diangkatannya.


"Kamu luar biasa!" Kata Thomas lalu memeluk Fairy erat. Ia sangat bangga dengan gadis ini. Masih 2 bulan baru usianya genap 20 tahun dan dia sudah lulus dengan predikat summa cum laude.


"Terima kasih. Semua ini juga karena dirimu."


Thomas melepaskan pelukannya. "Aku sudah mengatur semuanya, agar kau bisa ikut diwisuda. Memang diangkatanmu belum yang lulus. Kau satu-satunya yang berhasil lulus diangkatan ini dengan waktu kuliah tak sampai 3 tahun."


"Wisudanya kapan?"


"Minggu depan."


"Aku akan.pikirkan apakah aku siap untuk ikut."


"Kenapa?"


"Ada sesuatu yang harus aku kerjakan." Fairy menatap Cassie yang sudah menununggunya di depan pintu masuk. "Aku pergi dulu ya?"


"Segera urus dibagian Tata Usaha menyangkut ijasah dan transkrip nilaimu."


Fairy mengangguk. Ia segera nenemui Cassie. Sahabatnya itu memeluk Fairy dengan erat. Ia tak dapat menahan air matanya. "Aku benci kau lulus ujian akhir. Rasanya belum sanggup aku berpisah denganmu."


"Kita masih bisa saling memberi kabar kan? Sekarang ayo kita makan! Aku sudah lapar."


Cassie mengangguk. Ia melangkah bersama sahabatnya itu. Walaupun hatinya sedih karena Fairy akan pergi namun ia juga mendukung semua cita-citanya. Fairy gadis pintar dan berbakat, masa depannya masih panjang. Cassie yakin Fairy akan berhasil walaupun ia harus mengorbankan cinta terbesar dalam hidupnya.


*********


"Nak, maafkan nenek yang tak bisa hadir di wisudamu. Sakit nenek tiba-tiba saja kambuh."


"Tak apa-apa, nek. Aku juga belum memutuskan apakah akan ikut upacara wisudanya atau tidak."


"Ikut ya, nak. Nanti kirim videonya pada nenek. Biar dari jauh saja nenek melihatnya."


"Baiklah, nek. Tetap jaga kesehatan ya? Bye.."


Fairy mengahiri panggilan telepon dari nenek Anna. Ia kemudian menatap foto pernikahannya dengan Arnold. Ada sesuatu yang sangat perih menusuk hatinya. Membuat ia kembali menangis.


Sudah benarkah keputusan yang dia ambil? Haruskah ia meninggalkan semua kenangan manisnya di Fairy garden ini?


Fairy melihat cinci pernikahan yang melingkar di jari manisnya. Ia ingat dengan hari dimana ia mengucap janji suci dengan Arnold. Perasaannya kembali gelisah. Bayangan Arnold dan nenek Anna secara bergantian melintas di pikiran Fairy.


Ponsel Fairy berbunyi. Sebuah panggilan videocall dari Arnold. Fairy buru-buru menghapus air matanya dan menerima panggilan itu.


"Hai....!" Sapa Arnold dari seberang sambil melambaikan tangannya.


"Hai sayang..."


"Kamu menangis ya?"


"Tidak." Fairy tersenyum.


"Hidungmu merah."


"Aku sedikit flu." Fairy berbohong.


"Jaga kesehatan sayang. Nanti kamu sakit."


Fairy hanya mengangguk.


"5 hari lagi aku akan pulang. Rasanya tak tahan lagi berpisah denganmu. Makanya kita harus segera bertemu dengan nenek Anna. Supaya kita tak harus sembunyi-sembunyi lagi. Aku ingin kau ikut denganku dalam tour keliling dunia ini. Sebab tour kali ini akan memakan waktu sekitar 6 bulan. Dan sungguh aku tak bisa berpisah denganmu selama 6 bulan."


"Ar, kamu keren menjadi juri. Aku menonton siaran langsungnya dari internet." Kata Fairy tak menanggapi apa yang baru saja Arnold ucapkan.


"Makasi sayang. Akan lebih menyenangkan kalau kamu ada di sini bersamaku."


"Sudah kukatakan. Jangan terlalu merindukan aku. Nanti kamu sendiri yang menderita."


"Memangnya salah jika terlalu rindu dengan istri sendiri?"


Fairy sekali lagi hanya tersenyum. "Ar, aku mau ke toilet dulu ya? Perutku mules."


"Kenapa?"


"Kebanyakan makan makanan yang pedas."


"Sayang, kontrol cara makanmu ya? Baiklah nanti aku telepon lagi. love you, bye"

__ADS_1


Fairy meletakan hp nya di atas nakas, ia berlari ke kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya.


*********


Fairy tahu kalau Rio mengawasinya, makanya ia selalu berhati-hati dalam setiap tindakannya. Seperti juga saat ia di wisuda, Fairy mengatakan kalau ia ingin tidur di asramanya.


Saat wisuda, Fairy mendapatkan penghargaan sebagai lulusan terbaik. Ia bahkan menerima beberapa tawaran beasiswa untuk studi S2. Namun Fairy sudah memantapkan hatinya. Demi sebuah keputusan besar yang sudah diambilnya.


Selesai acara wisuda, Fairy menyiapkan bajunya untuk dibawa ke Amerika. Ia bahkan sudah mengirim ijasahnya melalui faxmail kepada Alex.


Di kamar Fairy garden, Fairy menangis menatap seisi kamar itu. Hari ini Arnold akan kembali dari Amerika. Dan hari ini Fairy akan pergi ke sana.


Pesan dari Cassie masuk :


Pesawatmu berangkat jam 4 sore.


jam berapa Arnold akan datang?


Fairy membalasnya :


Menurut Arnold, dia akan sampai jam 7 malam.


Koper dan barang-barangku nanti kalian bawa ke


bandara ya. Soalnya Rio selalu mengikutiku.


Nanti kita jumpa di bandara jam 3 sore. Bye....


Fairy membuka cincin kawin yang ada dijarinya. Ia mencium cincin itu dengan dada yang sesak.


"Maafkan aku, Ar. Maafkan aku!" Fairy terisak. Ia berharap agar Arnold mengerti dengan keputusannya. Ia meletakan cincin itu di atas amplop putih. Ia sudah menuliskan sebuah pesan untuk Arnold.


Saat ia turun ke bawa, ia melihat bibi Lun sedang membersihkan ruang tamu.


"Nona, apakah nona mau makan? Nona kelihatan agak pucat. Apakah nona sakit?"


Fairy tersenyum. "Aku hanya kurang tidur, bi."


"Nona merindukan tuan?"


"Alhonso, aku mohon kau menjaga tuanmu dengan baik ya? Jangan biarkan dia sedih. Maaf kalau aku tak bisa menjagamu." Fairy membelai kepala anjing itu. Alphonso menatap Fairy. Mata anjing itu terlihat sedih.


"Maafkan aku, Alphonso. Kali ini aku tak bisa membawamu." Fairy segera berdiri. Ia keluar dari ruangan itu dan menemui Rio yang sedang membersihkan mobil.


"Nona mau pergi?" Tanya Rio.


"Iya. Aku mau ke asrama. Apakah kau boleh mengantarku?"


"Tentu saja, nona. Mari!" Rio langsung membuka pintu belakang. Fairy menatap sekali lagi rumah yang penuh kenangan itu. Dengan hati sedih, ia masuk ke dalam mobil.


"Nona, apakah nona baik-baik saja?" Tanya Rio. Ia melihat kalau Fairy hanya diam dan sesekali menarik napas panjang.


"Saya baik-baik saja." Jawab Fairy berusaha tersenyum. Bahkan Rio dapat menilai perubahan dirinya.


Sesampai di asrama...


"Paman Rio, tolong belikan kue kesukaan Arnold di toko kue dekat kantornya. Setelah itu langsung ke Fairy garden. Saya akan pergi dengan Cassie ke sana." Fairy mengeluarkan beberapa lembar uang. Rio mengangguk tanpa curiga.


Fairy menatap kepergian Rio. Hatinya semakin galau. Ia memegang dadanya yang terasa sakit. Hp nya berbunyi. Fairy terkejut ketika melihat kalau neneknya yang meneleponnya.


"Hallo, nek."


"Apa yang kau sembunyikan dari nenek, Fairy?"


**********


Arnold tersenyum saat turun dari mobil. Ia berhasil mengelabui Fairy. Dia katakan kalau pesawatnya akan mendarat jam 7 malam, namun jam 2 siang, pesawat pribadinya itu sudah mendarat di bandara. Dan kini, jam 3 sore, ia sudah berada di Fairy garden.


"Tuan? Sudah pulang? Kata nona nanti jam 7 malam." Kata bibi Lun yang membukakan pintu.


"Di mana istriku?"


"Nona sedang ke asrama sebentar."


"Ya sudah. Aku mau mandi dulu. Jangan dulu bilangz kalau aku sudah datang ya, bi."


"Eh, tuan." Panggilan bi Lun membuat langkah Arnold terhenti.

__ADS_1


"Ada apa, bi?"


"Sepertinya nona sakit. Matanya sembab karena sering menangis dan wajah nona terlihat pucat."


"Karena?"


"Aku tidak tahu, tuan. Beberapa hari ini nona sering duduk di taman. Ia menangis seperti punya banyak masalah. Apakah terjadi sesuatu dengan nona yang tidak tuan ketahui?"


"Aku tak tahu, bi. Tapi nanti aku tanyakan padanya. Aku mandi dulu, ya?" Arnold menaiki tangga menuju ke kamarnya. Perasaannya tiba-tiba merasa tak enak. Apa yang dikatakan oleh bi Lun tadi membuat Arnold gelisah. Apakah terjadi sesuatu dengan nenek Anna? Ataukah Fairy sedih karena kehilangan anak mereka? Ya Tuhan, kalau memang itu penyebabnya, aku sungguh merasa bersalah. Tapi, bukankah dia terlalu kecil untuk bisa menjadi seorang ibu?


Arnold merasa perlu mendinginkan kepalanya. Ia pun segera mandi. Selesai mandi dan ganti pakaian, Arnold bermaksud akan menelepon Fairy. Namun ia mengurungkan niatnya saat menatap amplop putih di atas nakas. Arnold membukanya, dan ia sangat terkejut melihat cincin pernikahan Fairy ada di sana. Arnold membuka kertas itu dengan jantung yang berdetak sangat kencang.


My dear Arnold,


Maafkan aku meninggalkanmu dengan cara seperti ini. Mungkin setelah ini kau akan membenciku.


Aku memakluminya jika kau memang akan membenciku.


Arnold, mimpi kita berbeda. Kita tak bisa sejalan.


Aku begitu ingin mengejar cita-citaku.


Dan kau begitu ingin aku mendampingi mimpimu.


Aku sudah berusaha bersamamu, karena aku sungguh mencintaimu. Tapi, keinginanku begitu


menggebu untuk membuat nenek Anna bangga dengan diriku.


Maaf jika aku pergi dengan cara seperti ini.


Karena jika berpamitan secara langsung, aku tidak akan pernah bisa meninggalkanmu. Lupakan aku, Arnold. Carilah gadis lain yang bisa mendampingi mimpimu. Inilah caraku menunjukan bahwa aku sangat mencintaimu. Aku membawa semua jejak yang kau tinggalkan dalam diriku. Aku tahu, aku tak akan pernah mendapatkan cinta seperti yang kau berikan padaku. Karena itu aku akan menyimpannya dalam diriku. Selamat tinggal, Arnold. FAIRY


"Tidak...! Kau tak mungkin meninggalkan aku seperti ini, Fairy. Kau tahu kalau aku tak bisa tanpamu." guman Arnold dengan mata yang basah. Ia menyimpan surat dan cincin itu didalam laci nakas. Lalu segera menelepon Fairy namun ponsel istrinya itu tidak aktif.


Arnold menelepon Cassie, namun Cassie tak mengangkatnya. Arnold menghubungi Willy namun Willy juga tak menjawab panggilannya. Arnold seperti orang gila. Ia tiba-tiba ingat Joe.


"Joe, tolong lacak nomor telepon Fairy. Dia menghilang. Secepatnya Joe!" Kata Arnold lalu segera membuka walk in closet. Ia melihat bahwa semua pakaian Fairy yang dibelinya masih ada di sana. Begitu juga dengan sepatu dan tasnya. Namun ada satu tas yang tak ada. Tas yang mereka beli saat liburan ke Korea. Fairy mengatakan kalau itu adalah tas kesayangannya.


Tak lama kemudian Joe menghubunginya.


"Arnold, lokasi gps nya menunjukan kalau Fairy ada di bandara."


"Apa? Baiklah Joe. Aku ke sana..!" Arnold segera turun ke bawa. Kebetulan Rio baru saja tiba.


"Rio, antar aku ke bandara sekarang. secepat yang kamu bisa!"


Rio mengangguk walaupun dia bingung dengan apa yang terjadi.


Arnold mengumpat sepanjang jalan karena jalanan sedikit macet. Ia kesal, seandainya ada di mansionnya maka ia akan naik helikopter yang akan mempercepat perjalanannya. Fairy garden letaknya agak dipinggiran kota. Jarak ke bandara membutuhkan waktu 45 menit.


Arnold menatap Arlojinya. Pukul setengah empat sore.


"Rio, cepat sedikit...!" teriak Arnold tak sabar. Hatinya semakin gelisah. Ia takut Fairy akan pergi meninggalkannya. Makanya Arnold selalu menghubungi Joe untuk menanyakan apakah gps di hp Fairy masih menunjukan kalau dia ada di bandara.


Mobil yang dibawa Rio akhirnya berhenti di depan pintu masuk utama. Arnold berlari memasuki pintu. Matanya secara cepat melihat Cassie yang sedang menangis sambil memeluk Willy.


"Cassie, katakan dimana Fairy!"


Cassie terkejut melihat Arnold. Bukankah kata Fairy kalau Arnold akan tiba jam 7 malam?


"Di mana Fairy?" Teriak Arnold frustasi. Ia tak peduli puluhan mata menatapnya.


"Fairy sudah pergi 20 menit yang lalu."


"Tidak mungkin ! 5 menit yang lalu gps di ponselnya menunjukan kalau dia ada di sini."


Cassie mengeluarkan ponsel Fairy dari dalam tasnya.


"Fairy menitipkan ini padaku sebelum berangkat untuk di kembalikan padamu." Kata Cassie sambil menyodorkan ponsel itu.


Arnold terpana. Ia menggelengkan kepalanya. Ia yakin kalau Fairy tak akan setega itu pergi dari hidupnya.


😭😭😭😭😭


Tisue...mana tisue....


Jangan lupa like, komen dan vote ya....

__ADS_1


__ADS_2