SONG IN MY LIFE

SONG IN MY LIFE
Kita Sudah Putus


__ADS_3

Arnold merasa jantungnya hampir lepas dari tempatnya saat mengetahui kalau Amelia sudah berada di dalam apartemennya. Amelia memang sudah biasa datang ke apartemen ini. Makanya kode masuk pintu depan, Amelia mengetahuinya karena memang hadis itu yang membuat kodenya.


Arnold bergerak perlahan menarik tangannya yang menjadi bantal bagi kepala Fairy. Namun ternyata gerakannya yang sangat pelan itu tetap membangunkan Fairy dari tidurnya.


"Kau mau kemana?" tanya Fairy dengan suara yang agak serak.


"Aku ke bawah dulu sebentar ya?" kata Arnold lalu turun dari tempat tidurnya.


"Kau memerlukan sesuatu?"


"Ya. Aku haus" Arnold merasa tak enak hati harus berbohong. Hp nya kembali berbunyi. Kali ini panggilan telepon dari Amelia. Dengan cepat Arnold mematikan panggilan telepon itu. Dan memasukan hp nya ke kantong celananya.


"Aku pergi dulu, ya. Kau tidurlah lagi. Aku tak akan lama." ujar Arnold diikuti anggukan kepala Fairy. Gadis itu memejamkan matanya lagi.


Tangan Arnold sudah memegang gagang pintu dan bersiap untuk keluar. Namun tiba-tiba saja ada rasa bersalah yang memenuhi rongga dadanya karena membohongi Fairy. Ia kembali menoleh ke arah Fairy yang nampak lelap dalam tidurnya.


Arnold berbalik kembali. Ia duduk ditepi ranjang dan membangunkan Fairy.


"Sayang...!" panggilnya sambil menepuk pipi Fairy lembut.


Fairy membuka matanya perlahan. "Ada apa?"


"Di bawa ada Amelia!"


Rasa kantuk Fairy seakan hilang lenyap begitu saja. Ia langsung duduk dengan wajah bingung.


"Bagaimana Amelia bisa masuk?"


Arnold menarik napas panjang. "Kode masuk pintu apartemen ini dibuat olehnya."


"Oh....!" Fairy hanya mengangguk saja pada hal ia sedang meredam rasa sakit yang tiba-tiba saja hadir dalam hatinya.


"Ayo kita ke bawa dan aku akan menjelaskan semuanya" Arnold menarik tangan Fairy.


"Jangan! Jika dia datang ke sini berarti dia masih sangat mengharapkanmu. Aku tak ingin Amelia terluka"


"Sayang...!" Arnold tak mengerti dengan jalan pikiran Fairy. Pada hal dia ingin Amelia tahu bahwa Fairy adalah gadis yang Arnold cintai sekarang ini.


"Arnold, jika dia tahu tentang kita, dia bisa saja memberitahukan pada orang lain. Dan itu bisa membongkar identitasku. Kau tahu, beasiswaku akan dicabut jika mereka tahu kalau aku sudah menikah."


"Biar saja. Aku sanggup membiayai kuliahmu!"


Fairy memegang kedua tangan Arnold. "Aku ingin selesai kuliah sebagaimana jalur yang kuikuti selama ini. Aku tak mau berdebat denganmu.Turunlah, jelaskan pada Amelia bahwa kau sudah tidak mencintainya lagi. Buat alasan apapun namun jangan katakan kalau kamu sudah bersamaku. Please....!"


Hp Arnold kembali berbunyi. "Amelia, aku akan turun"


"Aku sudah di depan pintu kamarmu!" kata Amelia membuat Arnold terperanjat. Untung saja kamarnya ini kedap suara.


Untung saja pintu kamar yang Arnold tempati ini menggunakan double pengamanan. Selain kode pintu juga besi pengait yang ditutup dari dalam.


Suara ketukan dipintu membuat Fairy tiba-tiba turun dari tempat tidur. "Temuilah Amelia. Ingat jangan sembarangan bicara!" Pesan Fairy sebelum ia keluar dan bersembunyi di balkon kamar.


Arnold segera membuka pintu kamar "Amelia?"


Amelia segera masuk dan memperhatikan seisi kamar. "Kau bersama seseorang?"

__ADS_1


"Amelia, mari kita bicara di bawa!" ajak Arnold.


Gadis cantik itu segera menuju ke kamar mandi dan membukanya. Ia memang merasa kalau Arnold sedang bersama seseorang. Saat melihat kalau kamar mandi kosong, Amelia melangkah ke arah balkon. Tanpa bisa dicegah oleh Arnold, gadis itu membuka pintu balkon.


Wajah Amelia terlihat kesal karena ia tak menemukan orang lain di sana.


Arnold bernapas lega karena Fairy tak ditemukan Amelia namun ia juga penasaran dimana gadis itu bersembunyi.


"Amelia, maksud kamu apa?" tanya Arnold sambil menarik pintu balkon kembali.


"Arnold...., aku kan hanya bilang kalau kita untuk sementara saling menjauh. Lalu kenapa saat konser kau bilang kalau kita sudah putus?" kata Amelia dengan gaya manjanya dan segera memeluk Arnold.


Arnold berusaha melepaskan pelukan Amelia namun gadis itu semakin erat memeluknya.


"Sayang, mengapa kau tak membujuk aku seperti dulu? Mengapa?" tanya Amelia dengan mata berkaca-kaca. Tubuh mereka yang hampir sama tinggi membuat pandangan mata mereka langsung bertemu. Tangan Amelia melingkar dileher Arnold dengan sangat erat.


"Amel....sebaiknya kita duduk dulu!" ajak Arnold sambil perlahan melepaskan tangan Amelia yang melingkar di lehernya.


Amelia menurut. Keduanya pun dudul di sofa yang ada di sudut kamar. Arnold berusaha mengatur jarak antara mereka sambil sesekali matanya melirik ke arah pintu balkon.


"Amel, aku harap kamu mengerti bahwa hubungan diantara kita memang sebaiknya seperti ini." kata Arnold pelan, tak ingin menyakiti gadis itu seperti yang dipesankan Fairy padanya.


"Mengapa? Apakah kamu sudah tidak mencintai aku lagi?" tanya Amelia sedih. Sebutir air mata jatuh membasahi pipi mulusnya.


Arnold mengangguk "Maafkan aku!"


"Tidak mungkin, Arnold. Bukankah kamu bilang sangat menyayangi aku? Aku tak pernah mendengar kalau ada gadis lain. Atau, apakah mungkin ada gadis lain yang tidak aku ketahui?" tanya Amelia dengan tatapan mata penuh harap. Betapa ia masih menginginkan Arnold menjadi kekasihnya.


Ya...gadis itu bernama Fairy, dan aku sangat mencintainya..


Arnold ingin sekali mengungkapkan itu, namun sekali lagi ia terikat janji dengan Fairy.


Amelia menggeleng "Arnold, maafkan aku yang selalu bersikap kekanak-kanakan. Aku janji akan berubah. Kalau kau mau aku pindah ke London saat ini aku akan pindah. Namun aku tak mau berpisah denganmu. Aku sudah mencoba dekat dengan orang lain, namun aku tak bisa. Aku terus saja memikirkanmu!" tangan Amelia sudah memegang tangan Arnold namun Arnold menepisnya secara perlahan.


"Tidak, Amelia. Aku mohon maaf padamu. Diantara kita berdua sudah tidak bisa diteruskan lagi"


Tangis Amelia semakin dalam. Tak peduli dengan penolakan Arnold, Amelia memeluk Arnold yang duduk di sampingnya.


"Aku sangat merindukanmu...aku sangat mencintaimu. Aku tidak sanggup jika harus berpisah denganmu!"


Arnold hanya menepuk bahu Amelia tanpa membalas pelukan gadis itu. "Amel, kita masih bisa menjadi teman baik. Aku tidak mau kalau kita bermusuhan."


Perlahan Amelia melepaskan pelukannya. Ia mengambil tisue yang ada di atas meja lalu menghapus air matanya. Ia kemudian berdiri lalu melangkah ke arah cermin yang ada di depan meja rias. Memperbaiki make up nya yang sedikit berantakan lalu ia menatap kembali pada Arnold yang sudah berdiri di belakangnya.


"Maafkan aku sudah menganggumu selarut ini." Kata Amelia dengan suara yang sedikit serak sambil berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh lagi.


"Aku harap kau akan bertemu seseorang yang lebih baik dariku, Amelia" kata Arnold tulus. Ia juga sedih melihat gadis itu menangis karenanya. Namun ia juga tak mau mendustai hatinya yang sudah terikat pada Fairy.


Amelia mengangguk. Ia menatap Arnold dengan sangat dalam. Hatinya semakin sakit saat ia melihat tatapan mata Arnold yang tak seperti dulu lagi. "Boleh aku memelukmu sekali lagi?"


Arnold mengangguk. Ia merentangkan tangannya dan membiarkan gadis itu kembali memeluknya. Hanya beberapa detik saja lalu Amelia melepaskannya.


Keduanya turun bersama di lantai bawa.


"Kau akan pulang dengan siapa?" tanya Arnold mengingat ini sudah tengah malam.

__ADS_1


"Asistenku sedang menungguh di bawa" Amelia mencium pipi Arnold "Bye..." katanya lalu membuka pintu dan langsung pergi. Hati Amelia hancur namun ia berusaha tegar. Ia tahu bahwa ia sudah kehilangan seorang pria terbaik dalam hidupnya.


**********


Saat Amelia pergi, Arnold langsung mengganti kode untuk membuka pintu apartemennya. Ia kemudian segera naik ke atas dan menemukan Fairy sedang duduk di atas sofa sambil memainkan hp nya.


"Hai, Amelia sudah pulang?" tanya Fairy santai dengan senyum manisnya.


Arnold mendekatinya, lalu duduk disamping Fairy sambil melingkarkan tangannya dibahu gadis itu.


"Maafkan aku, sayang!" kata Arnold dengan suara pelan dan rasa penyelesalan di wajahnya.


Fairy melepaskan hp yang dipegangnya. Lalu menyerongkan tubuhnya agar lebih mudah menatap Arnold.


"Kenapa harus minta maaf? Aku kan yang memintamu untuk tidak mengatakan pada Amelia mengenai kita." Ujar Fairy sambil memegang kedua tangan Arnold.


Arnold mengecup dahi Fairy dengan seluruh rasa cinta yang dimilikinya. "Sayang, aku sangat bangga dengan cara berpikirmu yang begitu dewasa. Rasanya tak sabar lagi menungguh hari bahagia kita"


"Gaun pengantinnya kan baru dipesan tadi. Tak mungkinlah akan selesai besok"


Ucapan Fairy membuat Arnold tertawa kecil "Kau sangat pandai menghibur hatiku" Arnold mautkan jari mereka berdua. Kemudian ia mencium tangan Fairy secara bergantian dengan penuh kasih.


"Sayang, tadi kamu bersembunyi di mana?" tanya Arnold saat ia ingat dengan Amelia yang membuka pintu balkon.


"Aku bersembunyi dibelakang sofa. Untung saja lampu balkon tidak dinyalahkan jadi Amelia tidak melihat aku"


"Kau memang peri!"


Fairy hanya terkekeh. Arnold melepaskan tautan jari mereka lalu membawa gadis itu ke dalam pelukannya. Keduanya saling diam tak bicara. Hanya menikmati kehangatan yang dibagikan oleh tubuh mereka masing-masing.


"Ar, kalau kita menikah, jangan pakai catatan sipil ya?" kata Fairy.


Arnold melonggarkan pelukannya sehingga bisa menatap gadis itu "Mengapa? Aku ingin menjadikanmu sebagai istriku yang sah baik di hadapan Tuhan dan juga diakui oleh hukum negara ini."


"Tunggulah sampai kuliahku selesai, baru kita bisa menikah dicatatan sipil. Aku sudah menandatangani surat perjanjian yang salah satu isinya menegaskan bahwa mahasiswa yang terikat kontrak beasiswa tidak boleh menikah. Kalau pernikahan kita dicatat oleh negara, maka semuanya akan terbongkar." kata Fairy sambil menatap Arnold dengan wajah permohonan.


Arnold nampak berpikir beberapa saat. Lalu kemudian ia mengangguk.


"Makasi sayang..." kata Fairy pelan.


"Kamu bilang apa?" Arnold memiringkan kepalanya sedikit, menatap Fairy dengan mata yang sipit.


Wajah Fairy langsung merona "Eh..aku tidak bilang apa-apa" kata gadis itu sambil mengalihkan pandangannya ke tempat lain.


"Ayolah! Aku mendengar kamu bilang terima kasih dan ada kata satunya lagi"


"Aku mau tidur, besok ada kuliah pagi!" Fairy langsung berdiri namun Arnold justru menahan tangannya sampai gadis itu akhirnya jatuh dipangkuannya.


"Katakan saja.. Kalau tidak aku tak akan membiarkanmu tidur" ancam Arnold sambil menahan senyum.


"Makasi, sayang....!" kata Fairy sambil tertunduk malu.


Arnold tersenyum bahagia. Lalu ia kembali memeluk Fairy "I love you so much...!"


DI EPISODE SELANJUTNYA, KITA AKAN LIHAT PERTENGKARAN FAIRY DAN ARNOLD UNTUK YANG PERTAMA KALINYA. SIAPA YANG AKAN MENGALAH??

__ADS_1


Jangan lupa like, koment, Vote dan kasih bintang 5


Makasi atas dukungannya


__ADS_2