
Cerita manis di Korea semakin menambah kemesraan hubungan antara Arnold dan Fairy. Keduanya semakin mesra dan semakin mengerti satu dengan yang lain.
Arnold sedang sibuk menyiapkan materi untuk album terbarunya. Sedangkan Fairy semakin giat belajar. Ia bertekad tahun depan kuliahnya sudah selesai.
Beberapa hari yang lalu, Kiela Thomson, bibinya Arnold meninggal dunia. Fairy pun datang bersama Cassie. Arnold sedih karena bibinya itu sudah dianggapnya seperti ibunya sendiri. Fairy berusaha menghibur suaminya dengan perhatian dan kasih sayang.
Di kantor, Fairy juga semakin semangat bekerja. Tugasnya bukan hanya memeriksa laporan keuangan dan menemani Alex bertemu dengan klien melainkan juga memberikan dia kesempatan untuk membuat rancangan penawaran proyek.
"Alex, kenapa harus aku yang membuatnya? Ini kan proyek yang besar." Kata Fairy.
"Aku ingin melihat sejauh mana kemampuanmu menyerab ilmu dari setiap pertemuanku dengan para infestor." Kata Alex sambil menyodorkan sebuah map file.
"Bulan depan, di London ini akan dilaksanakan acara khusus insan di dunia hiburan. Acara ini dilaksanakan setahun sekali di lima negara yang berbeda. Kali ini Inggris menjadi tuan rumah. Akan ada fasion show, konser musik dan acara lainnya yang akan menarik banyak wisatawan. Perusahaan siapapun yang akan memenangkan proyek ini, akan mendapatkan untung yang sangat besar. Karena itulah, aku mempercayakan tugas ini padamu. Buatlah rencana untuk penawarannya. 2 hari lagi, lelang proyek ini akan dilaksanakan."
Fairy menarik napas panjang saat mendengar penjelasan Alex. "Alex, perusahaan ini kan punya tim kreatif yang biasa membuat rancangan penawaran suatu proyek. Mengapa harus aku?"
"Mereka memang sudah selesai membuatnya. Namun aku mau melihat kemampuanmu. Aku yakin kamu bisa, Fairy." Kata Alex sambil mengangkat dua jempolnya.
Fairy menggaruk kepalanya sendiri. Rambut coklat tuanya yang lurus dan panjang itu nampak bergerak. Sungguh, Alex sangat suka jika rambut Fairy dibiarkannya tergerai dan dia hanya memakai penjepit rambut saja.
"Ada apa memandangku seperti itu?" Tanya Fairy sambil menatap Alex dengan mata cantiknya yang juga berwarna coklat.
"Aku suka rambutmu. Sangat sehat terlihat."
Fairy tersenyum. "Kata nenekku, seorang anak perempuan harus menjaga rambutnya dengan baik. Salah satu cara adalah dengan banyak makan sayur dan rajin keramas dan memakai vitamin."
"Kau tidak ke salon untuk perawatan rambut?"
"Tidak. Aku malas ke salon. Buang-buang duit." Kata Fairy lalu mengambil karet untuk mengikat rambutnya.
"Eh..., jangan diikat."
"Kenapa?"
"Rambutmu cantik kalau seperti itu."
Wajah Fairy langsung menjadi panas. Bukan karena pujian Alex. Namun dia ingat kalau Arnold pernah juga mengatakan hal yang sama.
"Alex, hari ini aku boleh pulang cepat kan? Aku mau konsentrasi membuat penawaran proyek ini."
Alex mengangguk. Walaupun sebenarnya ia agak sedih jika tak melihat Fairy ada di ruangannya.
"Kau mendapatkan ijinku."
Fairy langsung semangat. Ia membereskan mejanya lalu segera pulang. Sebenarnya Fairy ingin menemui Thomas dan meminta pendapatnya.
Makanya, setelah keluar dari perusahaan, Fairy segera menelepon Thomas dan meminta ijin untuk ketemu. Thomas masih ada di ruang kerjanya di kampus. Fairy pun menemui Thomas di sana.
"Oh....jadi itu masalahmu?" Ujar Thomas setelah Fairy menceritakan masalahnya.
"Iya. Waktunya juga hanya 2 hari untuk bisa membuatnya. Berikan ide-idemu, ya." Mohon Fairy.
__ADS_1
Thomas tersenyum. "Bisnis di bagian hiburan sepertinya kurang menarik untukku. Namun mari kita mencobanya bersama."
Fairy bahagia karena Thomas tak menolaknya. Keduanya pun mulai berbagi ide untuk membuat proposal rencana kegiatan.
*******
Arnold yang baru pulang dari studionya, bingung saat tak menemukan istrinya. Bukankah jam kerja Fairy sampai jam 5 sore? Bukankah sekarang sudah hampir jam 8 malam? Apakah istrinya lembur lagi? Bukankah tadi pagi ia meminta Fairy untuk pulang cepat karena ada sesuatu yang hendak ia rayakan bersama dengan istrinya? Lupakah Fairy dengan hari bahagia ini?
Segera ia menghubungi Fairy. 2 kali panggilan, namun Fairy tak mengangkat teleponnya. Arnold menghubungi Rio. Belakangan ini, Fairy memang sudah lancar mengendarai mobilnya. Arnold yang sudah mengajari Fairy menyetir. Namun untuk ke kampus dan ke tempat kerja. Fairy lebih memilih diantar oleh Rio karena tak mau dilihat oleh orang lain dan bertanya, mengapa Fairy bisa memiliki sebuah mobil mewah yang harganya sangat mahal dan unlimited edition.
Rio langsung mengangkat panggilan Arnold di dering yang kedua.
"Hallo, tuan."
"Di mana istriku? Mengapa ia tak mengangkat teleponnya?"
"Nona ada di ruangan pak Thomas sejak jam 3 sore."
"Apa? Memangnya dia tak pergi kerja?"
"Ada. Nona hanya 1 jam berada di kantornya setelah itu keluar lagi dan meminta saya mengantarnya ke kampus. Sampai sekarang belum keluar."
"Ada apa dia sampai begitu lama ada di ruangan dosennya itu? Coba cari cara agar Fairy mengangkat teleponnya. Aku tak suka dia dekat dengan si Thomas itu."
"Baik, tuan."
Rio bingung harus berbuat apa. Ia lalu menelepon Cassie dan menceritakan persoalannya.
"Hallo Mr. Thomas, ini dengan Cassie teman sekamar Fairy. Bolehkah aku bicara dengannya?"
Thomas menatap Fairy yang duduk di depannya. "Fairy, ini dari Cassie." Sambil menyerahkan ponselnya ke tangan Fairy.
Fairy mengambil hp Thomas. "Hallo Cassie, ada apa?"
"Hp mu dikemanakan? Rio sampai meneleponku karena Arnold tak bisa menghubungimu. Kau tahu ini sudah jam berapa? Sudah hampir jam setengah sembilan malam."
"Apa?" Fairy terkejut. Ia menatap jam tangannya. Terlalu serius mengerjakan proyek ini membuatnya lupa waktu. Ia berdiri dan menyerahkan kembali hp milik Thomas.
"Thomas, aku lupa ada sesuatu yang harus ku kerjakan. Nanti kita sambung lagi ya..., bye..." Fairy langsung meninggalkan rungan Thomas sambil memegang berkas-berkas ditangannya. Setengah berlari ia menuju ke tempat parkir.
"Selamat malam, Rio." Sapa Fairy saat ia sudah berada dalam mobil. Tangannya meraih ponselnya dari dalam tas dan melihat ada 30 kali panggilan tak terjawab dari Arnold. Fairy segera menghubungi suaminya itu.
"Hallo, sayang..." Sapa Fairy.
"Kenapa kamu belum pulang? Kamu lupa ya dengan permintaanku untuk pulang cepat?"
"Iya. Maaf ya. Nanti aku jelaskan di rumah. Ini sudah dalam perjalanan pulang. Bye..." Fairy langsung mematikan hp nya. Ia tak mau berdebat atau bertengkar dengan Arnold dan didengar oleh orang lain. Baginya, rahasia rumah tangga tidak boleh diketahui oleh orang lain.
Begitu tiba di Fairy garden, dengan gerakan cepat Fairy turun dari mobil dan segera berlari masuk ke dalam rumah.
"Arnold....!" Panggilnya sambil meletakan semua barang bawaannya ke atas meja. Namun Arnold tak ada. Saat ia naik ke atas dan memeriksa di dalam kamar, suaminya pun tak ada. Fairy jadi bingung. Ia segera turun ke bawa dan menemukan Paman Scott sedang berdiri di dapur.
__ADS_1
"Nona, tuan menunggu anda di taman belakang." Kata paman Scott.
Fairy sedikit bingung. Apa yang Arnold lakukan di taman belakang di jam seperti ini? Ia pun melangkahkan kakinya menuju ke sana.
Fairy terkejut menemukan sebuah gerbang yang dihiasi lampu-lampu kecil bertuliskan : THANK YOU FOR THIS HAPPY FIRST YEAR.
Gerbang kedua bertuliskan : I LOVE YOU FOREVER
Air mata Fairy langsung mengalir melihat Arnold berdiri di sana, di dekat sebuah meja bulat yang sudah berisi berbagai macam makanan lezat. Di tangannya ada sebuah kue tart dengan angka satu yang sudah menyala.
"Ini peringatan satu tahun pernikahan kita, sayang." Kata Arnold dengan wajah bahagia, mata yang bersinar karena rasa cinta yang dimilikinya.
"Maafkan aku, sayang. Aku melupakannya. Aku sungguh bukan pasangan yang romantis untuk mengingat hal-hal seperti ini."
Arnold mendekat. "Kau adalah pasangan terbaik yang Tuhan berikan padaku. Ayo kita tiup lilin ini."
Keduanya meniup lilin itu bersama. Ada rasa bahagia yang boleh terpancar di sana, membuat keduanya tersenyum, lalu saat Arnold meletakan kembali kue itu ke atas meja, keduanya saling berpelukan dengan hangat lalu bibir mereka menyatu dalam ciuman penuh kasih.
"Ya Tuhan, buatlah pasangan itu saling mencintai terus sampai selamanya." Kata bibi Lun yang berdiri di samping suaminya. Keduanya akan membawa hidangan penutup namun terhenti langkahnya melihat sepasang suami istri itu sedang berciuman.
"Ya. Tuan Arnold orang baik. Nona Fairy sekalipun masih sangat muda adalah gadis yang baik pula. Aku berdoa semoga mereka tetap bersama." Kata paman Scott dengan ungkapan doa yang tulus.
*******
Makan malam dilanjutkan dengan aktivitas ranjang yang membawa kebahagiaan sudah mereka lalui. Keduanya pun mandi bersama karena Fairy merasa kepanasan dan tubuhnya agak lengket karena seharian bekerja.
Selesai mandi, Fairy segera ganti baju dan duduk di depan meja kerjanya untuk melanjutkan pekerjaannya.
"Sayang, haruskah kamu bekerja? Ini sudah agak larut." Kata Arnold yang baru keluar dari kamar mandi. Ia baru saja selesai bercukur.
"Aku harus menyelesaikan ini dalam dua hari, sayang. Makanya tadi aku sampai lupa waktu di ruangan pak Thomas karena harus mengerjakan ini semua."
Arnold mendekat. "Apa yang harus kau selesaikan dalam dua hari?"
Fairy menjelaskan pekerjaan yang harus dikerjakannya.
Arnold tersenyum. "Boleh aku membantumu? Setidaknya dengan pengalaman yang kupunya di dunia hiburan, aku punya beberapa ide mengenai konsep panggung dan acaranya."
Fairy bernapas lega. "Tentu saja sayang."
"Kalau kita berdua berhasil menyelesaikannya malam ini, maka besok kau harus membiarkanku mengurungmu di kamar ini. Bagaimana?"
Wajah Fairy menjadi merah. "Ar...bukankah kita tadi baru saja..."
"Kau belum memberikan aku hadiah, sayang." Arnold menyela kalimat istrinya.
Fairy mengangguk. "Deal...!"
Akankah mereka bahagia selamanya?
Nantikan episode berikut yang akan menjadi awal konflik diantara mereka...
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE YA