SONG IN MY LIFE

SONG IN MY LIFE
Belum Bisa


__ADS_3

Kamar tidur yang biasanya selalu memberikan kehangatan bagi Arnold dan Fairy, kini justru berbeda. Keduanya duduk saling berjauhan. Fairy duduk di tepi tempat tidur dan Arnold berdiri di dekat pintu balkon sambil menyandarkan tubuhnya di dinding. Keduanya tangannya dimasukan ke dalam kantong celana dengan wajah yang terlihat frustasi.


Ada hati yang galau karena situasi yang tak pernah diduga sebelumnya. Arnold menikahi Fairy karena tak ingin kehilangan gadis itu. Walaupun pernikahan ini dilaksanakan secara diam-diam namun Arnold bahagia. Walaupun kebahagiaan ini rasanya hanya bisa antara dia dan Fairy dulu. Arnold belum siap berbagi.


"Jadi kita harus bagaimana?" Tanya Fairy setelah keduanya diam beberapa saat.


"Kita belum bisa memilikinya." jawab Arnold pelan hampir tak kedengaran.


"Mak-sudmu, meng....gugurkan....nya?" Tanya Fairy terbata-bata karena ia sendiri bingung mengartikan perkataan Arnold.


Arnold tak menjawab. Ia sendiri ragu dengan apa yang akan diputuskan.


"Fairy. Aku ingin suatu hari kelak punya anak bersamamu. Tapi belum bisa sekarang. Aku tak mau disituasi sembunyi-sembunyi seperti ini. Aku ingin ketika kamu hamil, aku akan selalu mengantarmu ke dokter, memegang tanganmu di depan banyak orang untuk menyatakan kalau kau memang istriku. Aku ingin melihat anak-anakku tumbuh dengan bebas tanpa harus disembunyikan di taman ini. Mulai bulan depan aku akan disibukan dengan tour ke-30 negara. Aku bahkan tidak akan pulang selama berbulan-bulan. Dan jika kau hamil sekarang, maka bisa saja saat kau melahirkan, aku tak ada di sampingmu. Dan aku tak ingin seperti itu. Jika dikemudian hari kau hamil, aku ingin selama 1 tahun berhenti dari semua kegiatanku."


Fairy memandang Arnold. Ia tahu kalau Arnold sama bingungnya dengan dirinya. Memiliki anak saat ini, rasanya sulit. Fairy bahkan belum siap. Bagaimana dengan semua cita-citanya? Haruskah ia mengubur keinginannya untuk menjadi wanita karir? Lalu bagaimana tanggapan nenek Anna? Ah, Fairy sudah dapat membayangkan wanita tua itu akan menatapnya dengan wajah kecewa. Fairy ingat dulu bagaimana meyakinkan neneknya untuk bisa datang ke London.


"Memangnya di Jakarta ini tak ada universitas yang bergengsi? Kenapa juga harus ke negeri orang?"


"Nek, ini kesempatan yang bagus. Tidak semua orang mendapatkan kesempatan untuk bisa kuliah di luar negeri secara gratis. Ayolah, nek." Fairy memegang tangan nenek Anna dengan wajah penuh permohonan.


"Fai, usiamu baru saja genap 17 tahun. Nenek tak bisa mengawasimu di sana. Terlalu jauh. Nenek juga takut akan pergaulan bebas di sana. Bagaimana jika kamu akhirnya tergoda untuk mengikuti gaya hidup anak muda di sana?" Nenek Anna menggelengkan kepalanya. "Bingung...."


"Nek, percayalah padaku. Aku akan setia memegang semua nasehat nenek. Kalau perlu aku tak akan pernah pacaran. Aku akan menyelesaikan kuliahku dengan cepat, dan menjadi wanita karir. Aku akan membuat nenek bahagia dan bangga. Aku akan kerja di kantor besar dan memiliki penghasilan yang baik untuk kita berdua."


Nenek Anna tersenyum. Ia memegang wajah cantik cucunya. "Kamu janji akan menjaga sikap? Kamu janji akan membawa ijasahmu dan bukan surat nikahmu?"


"Aku janji, nek."


Air mata Fairy jatuh saat mengingat janjinya itu. Keyakinannya untuk tidak pacaran selama kuliah ternyata digoyahkan oleh pesona Arnold yang tak bisa ditolaknya.


"Ar, haruskah kita membuangnya?" Tanya Fairy diantara derai air matanya.


"Kalau kau mau mempertahankannya, aku ingin hubungan kita diketahui oleh semua orang. Aku ingin kau berhenti dari kuliahmu, dari kerjamu di perusahaan Alex dan fokus dengannya. Apakah kau siap?" Arnold menatap manik coklat istrinya tanpa berkedip.


"Aku tak bisa, Ar. Aku juga belum siap menjadi ibu, mengurus anak. Aku ingin memenuhi janjiku pada nenek Anna. Aku belum siap hubungan kita diketahui oleh banyak orang." Fairy terlihat frustasi. Ia menghentakan kakinya dengan hati yang sangat bingung.


"Sayang, aku mau keluar dulu sebentar. Kepalaku pusing." Kata Arnold. Ia mengambil jaket dari walk in closet, kemudian mengambil kunci mobilnya dari atas meja. Ia mendekati Fairy, mengecup dahi istrinya dengan lembut lalu meninggalkan kamar.


Tangis Fairy kembali terdengar. Ia ingin berlari tapi tak tahu harus bagaimana.


Bunyi ponselnya terdengar. Fairy kaget melihat ada panggilan dari nenek Anna.


"Hallo nenek...!"


"Nak, kau belum tidur?"


"Kenapa nenek tahu?"


"Dari suaramu dan juga panggilan nenek yang cepat diangkat olehmu. Kau sakit? Atau ada masalah? Di sana sudah tengah malam kan?"


Fairy mengigit bibirnya. Menahan tangisnya agar tidak pecah.

__ADS_1


"Aku baik-baik saja. Biasalah belajar karena sebentar lagi kuliahnya selesaikan?"


"Nenek senang mendengarnya. Kamu tahu, nenek sudah mengumpulkan uang. Nenek akan ke London untuk menghadiri wisudamu."


"Nenek akan datang ke sini?"


"Iya, sayang. Nenek ingin melihatmu di wisuda. Dan kita akan pulang bersama ke Indonesia."


"Nek, ada tawaran studi S2 ke Amerika. Sekalian aku melanjutkan kerja di perusahaan yang sementara aku kerja sekarang. Mereka akan menyediakan apartemen dan katanya nenek bisa ikut."


"Amerika? Nenek bisa bersamamu?"


"Iya, nek. Gajinya besar dan biaya hidup kita berdua ditanggung perusahaan."


"Baiklah. Nenek akan pergi denganmu."


Air mata Fairy kembali jatuh. "Nek, jaga kesehatan ya."


"Ya, nak. Nenek selalu jaga kesehatan karena ingin melihatmu berhasil."


"Baiklah. Sekarang aku mau tidur dulu. Selamat malan, nek"


"Selamat pagi, cucuku."


Tangis Fairy kembali pecah. Ia berada di ujung kebimbangan yang besar. Ia menatap layar hp nya yang masih ada di tangannya. Lalu ia mengetik pesan untuk Willy.


Will, i need your help


Arnold belum juga kembali. Tak lama kemudian masuk pesan dari Noah.


Nona, tuan mengalami kecelakaan. Kondisinya baik. Hanya ada luka memar di beberapa bagian tubuhnya. Tuan ada di rumah sakit XXX.


Fairy terkejut membaca pesan itu. Ia langsung menelepon Noah.


"Noah, bagaimana kejadiannya?"


"Tuan sedikit mabuk. Ia menabrak pembatas jalan. Untunglah mobilnya punya sistem keamanan yang canggih. Tuan hanya mengalami luka memar di tangan dan pelipisnya. Kata dokter besok pagi sudah bisa pulang."


"Aku aman ke sana."


"Banyak sekali wartawan di sini, nona. Tapi kalau nona mau datang, aku bisa mengatur jalan belakang."


"Susahlah, Noah. Kau jaga Arnold dengan baik ya? Bye..."


Fairy melemparkan hp nya dengan asal di atas kasur. Beginilah jadinya. Bahkan saat Arnold sangat membutuhkannya ia tak bisa hadir di sana karena akan ketahuan wartawan. Bagaimana mereka akan memiliki anak?


**********


Willy dan Cassie menatap Fairy dengan intens. Wajah gadis itu terlihat pucat, matanya sembab dan dandanannya kacau. Ia bahkan tak peduli dengan rambutnya yang acak-acakan.


Mereka bertiga sedang duduk di taman sambil menikmati minuman dan kue yang sedang disiapkan oleh bibi Lun.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan Arnold?" Tanya Cassie membuka percakapan.


"Arnold masih tidur. Mungkin pengaruh obat yang diminumnya. Aku tak bisa pergi ke sana karena ada banyak sekali wartawan. Rachel dan Ezekiel menemani Arnold."


"Jadi, kau serius dengan keputusanmu?" Tanya Willy.


Fairy mengangguk tanpa ragu.


"Kau sudah pikirkan matang-matang?" tanya Willy lagi. Sebagai dokter ia sebenarnya tak ingin melakukan ini.


"Sudah. Lihat saja sekarang, untuk menemaninya pun aku tak bisa. Aku sungguh menginginkan pasangan yang sederhana. Bukan pasangan yang hidupnya dari A-Z ingin diketahui oleh wartawan."


"Kau menyesal menikah dengan Arnold?" Tanya Cassie.


"Mungkin. Entahlah. Aku sendiri bingung dengan situasi ini. Aku begitu ingin meraih mimpiku. Dan ternyata mimpi itu tidak sejalan dengan Arnold."


"Jangan katakan kalau kau akhirnya ingin bercerai darinya."


Fairy menggeleng."Tidak. Aku mencintai Arnold."


"Ini memang situasi yang sulit. Tapi kalau kau sudah memutuskan demikian, aku akan membantumu. Temanku punya klinik melahirkan dengan alat yang lengkap. Dia sudah mengijinkanku memakai kliniknya sore ini. Aku harap kau istirahat dan makan yang cukup agar prosesnya berjalan dengan baik." Kata Willy dengan berat.


"Baik." Jawab Fairy mantap. Ia membayangkan wajah nenek Anna. Hatinya semakin sakit.


Hp Fairy berbunyi.Panggilan dari Arnold.


"Hallo, honey. Bagaimana keadaanmu.?" Tanya Fairy.


"Masih sedikit pusing. Aku akan pulang ke mansion siang ini."


"Kenapa?"


"Di mansion dokter akan lebih leluasa mengontrolku. Kalau di sana, ia bisa melihat foto pernikahan kita. Aku masih harus menjalani perawatan selama 5 hari. Kau mau datang ke sini kan?"


"Tapi, Ar. Di sana banyak pelayanmu. Dan juga..."


"Kau kan dapat datang sebagai pacarku. Apakah itu tidak boleh? Jadi pacarpun harus disembunyikan?" suara Arnold terdengar sedikit gusar.


"Aku sore ini sudah janjian dengan Willy untuk melakukan tindakan kuretase."


Arnold diam.


"Mungkin besok baru aku akan menemuimu."


Arnold juga masih diam.


"Aku tutup dulu ya? Bye..." Fairy menatap Willy dan Cassie. Wajah pucatnya tersenyum. Namun beberapa detik kemudian dia langsung menangis. Cassie berdiri dan memeluk sahabatnya. "Kamu pasti bisa, Fai."


Fairy mengangguk. Pikirannya buntuh. Ia tahu kalau ia akan melakukan suatu dosa besar.


Jangan lupa LIKE, KOMEN DAN VOTE ya...

__ADS_1


__ADS_2