
Hampir semua pasang mata yang ada di ruangan itu melirik ke arah seorang gadis cantik berambut coklat tua yang memasuki rumah duka dengan penampilan yang sederhana namun terlihat glamour. Sepatu hitam bertali setinggi 3 cm yang dipakainya terlihat jelas dari merk ternama. Gaun hitamnya yang terlihat sederhana, namun dari jenis kain dan modelnya langsung dikenali orang sebagai rancangan Alicia Aslon. Tas selempang yang melingkar ditubuhnya adalah salah satu merk ternama yang hanya ada 10 orang di dunia ini yang memilikinya.
Wajah cantik. Perpaduan Asia dan sepertinya ada darah Barat sedikit karena warna rambutnya. Gadis ini menarik hati semua yang melihatnya.
Fairy Ayudisa, sudah merasakan kalau kedatangannya ke tempat itu menimbulkan tanda tanya. Makanya, kacamata hitam berharga fantastik yang dihadiahkan Arnold padanya, tak ia lepaskan. Langkahnya pasti menemui Rachel yang terlihat senang dengan kedatangannya.
"Rac, aku turut berdukacita." Kata Fairy sambil memeluk gadis itu dengan hangat.
"Terima kasih, Fai. Aku senang kalau kamu datang." Kata Rachel tulus.
Fairy pun memeluk Ezekiel. Pria itu mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Dengan sikap formal yang sama, ia mendekati Arnold dan mengucapkan rasa turut berdukacita.
"Terima kasih sayang, kau sudah datang." bisik Arnold.
Saat Fairy mendekati Elisa Thomson, perempuan tua itu merangkulnya dengan hangat, membelai kepalanya dengan lembut. "Terima kasih anakku. Aku senang kau datang."
Mengapa nyonya besar menyebutnya anak? Apakah ia pacar Ezekiel Thomson? Ataukah kerabat jauh dari keluarga ini?
Fairy tahu bisik-bisik itu untuknya. Namun ia berusaha bersikap biasa. Syukurlah disaat seperti itu, Ben mendekat dan menemaninya berbincang. Walaupun dari sudut matanya, Ben tahu Arnold mengawasinya.
Sepanjang ibadah pemakaman, sampai pada acara penguburan, Fairy mengikutinya. Kiela Thomson dimakamkan di samping suaminya. Fairy dapat melihat Ezekiel dan Rachel yang begitu terluka.
*******
Dari area pekuburan, mereka kembali ke kediaman Thomson. Namun Fairy memilih pulang. Bukan ke rumah melainkan menemui Willy di rumah sakit yang sudah menunggunya bersama Cassie. Dari tempat Doroty, Fairy memang sudah menelepin Willy untuk memintanya memeriksa kandungan Fairy. Karena Fairy ingin memastikan kehamilannya.
"Bagaimana? Kau sudah melakukan tes?" Tanya Willy saat Fairy memasuki ruangan pemeriksaan.
"Ya. Hasilnya positif." Jawab Fairy tanpa menyembunyikan kegalauannya.
Willy mengangguk. "Naiklah ke atas tempat tidur ini. Aku akan melakukan USG padamu!" kata Willy sedikit memerintah. Fairy menurut. Cassie membantunya karena gadis itu terlihat sangat gugup.
"Kantong rahimnya sudah terlihat dan titik kecil itu adalah embrio yang mulai tumbuh." Kata Willy.
Hati Fairy bagaikan diramas keluar dari tempatnya.
"Cukup, Wil. Jangan diteruskan." Ia buru-buru bangun dan turun dari tempat tidur.
"Eh, bersihkan dulu gel yang ada diperutmu!" Willy menyerahkan beberapa lembar tissue.
"Aku mau pulang saja."
"Tunggu!" Willy mencetak hasil USG nya. "Tunjukan ini pada Arnold saat kau mengatakan tentang kehamilanmu."
Fairy menerima foto USG itu, lalu ia segera pergi meninggalkan rumah sakit itu.
__ADS_1
Sesampai di rumah, Fairy segera mandi dan duduk di balkon kamar. Hatinya semakin gelisah.
"Nona, makan malamnya sudah siap." Bi Lun menelepon ponsel Fairy.
Sebenarnya Fairy belum lapar. Namun ia menghargai apa yang sudah disiapkan oleh bibi Lun sehingga memutuskan untuk menikmati makan malamnya. Sementara makan, Arnold tiba di rumah. Melihat istrinya yang sedang makan, Arnold mendekat, memberikan kecupan di pipi Fairy.
"Sayang, kamu tidak makan?" Tanya Fairy mencairkan suasana kaku diantara mereka.
"Aku sudah makan bersama Eze dan Rachel." Arnold mencium pucuk kepala Fairy. "Aku mau mandi dulu. Selesai makan, cepatlah ke atas. Kita harus bicara."
Fairy hanya mengangguk. Setelah Arnold pergi, ia pun menyelesaikan makannya dan segera naik ke atas.
Saat pintu kamar terbuka, Arnold masih ada di kamar mandi. Fairy langsung melangkah ke walk in closet untuk mengambil baju bagi suaminya dan meletakannya di atas tempat tidur.
Tak lama kemudian, Arnold keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk. Ia tersenyum melihat Fairy yang sudah menyiapkan pakaiannya. Ia pun memakainya dan ikut bergabung dengan istrinya yang duduk di atas sofa. Tangannya langsung melingkar dilengan Fairy sambil menyenderkan kepalanya di bahu istrinya itu.
"Aku sangat lelah. Kematian bibiku membuat aku merasa kehilangan. Tapi untunglah ada kamu. Melihatmu lagi membuat semuanya menjadi menenangkan."
Fairy tak menjawab. Ia hanya membelai kepala Arnold lembut.
"Sayang, katakan padaku, apa yang membuatmu gelisah? Ini bukan tentang sakitnya nenek Anna kan? Apakah nenek Anna menderita sakit yang serius?" Tanya Arnold. Ia mengangkat kepalanya dan menatap istrinya dengan intens.
Fairy menelan salivanya. "Ar, nenekku sudah lebih baik."
"Lalu, apa yang membuatmu gelisah? Aku tak bisa melihat matamu yang selalu bersinar gembira."
"Aku, memikirkan tugas akhirku. Memikirkan tentang melanjutkan kuliah S2 ku." Fairy tak mampu berterus terang. Dan Arnold tahu ada sesuatu yang disembunyikan oleh istrinya.
"Sayang, kau tak pandai berbohong. Kau....ehmm" Kalimat Arnold terhenti karena Fairy sudah membungkam mulutnya dengan ciuman. Bukan ciuman yang biasa, namun dengan ******* yang dibingkai dengan gairah yang dalam. Fairy tahu hanya itu yang sanggup membuat Arnold berhenti bertanya. Apalagi mereka yang sudah 2 minggu tak bertemu.
Arnold terkejut karena Fairy yang lebih dulu menciumannya. Ia membiarkan dirinya hanyut dalam ciuman itu. Karena sebenarnya ia juga rindu. Rindu untuk menyatu dengan istri tersayangnya.
***********
"Ah....!" Teriak Arnold saat puncak kenikmatan itu mengalir disekujur tubuhnya. Arnold begitu menikmatinya. Namun ia tahu tidak dengan Fairy. Walaupun saat pertama tadi Fairy yang menggodanya namun Arnold tak mendengar desahab manja istrinya.
"Ada apa, sayang?" Tanya Arnold saat ia sudah tidur di samping istrinya.
"Maaf jika aku mengecewakanmu, Ar."
Arnold mengangkat tubuhnya sedikit lalu menopang tubuhnya dengan kedua sikunya sambil tidur tengkurap.
"Kau tahu aku mendapatkan puncak kenikmatanku tadi. Namun aku juga tahu, kau sama sekali tidak menikmatinya. Ada apa?"
Fairy bangun, mengenakan kembali bajunya yang berserakan di lantai, mengikat rambutnya secara asal.
__ADS_1
"Sebelum bicara, maukah kau membuatkan secangkir teh hangat untukku? Aku merasa agak mual."
"Baiklah." Arnold pun bangun. Ia hanya mengenakan celana rumahnnya saja tanpa atasan lalu turun ke bawah.
Saat Arnold pergi, Fairy segera membuka tas selempangnya dan mengeluarkan foto USG dan test packnya. Ia menyimpan kedua benda itu dibawah bantal lalu duduk dipinggir tempat tidur sambil menunggu Arnold.
Tak sampai 10 menit, Arnold sudah kembali sambil membawa secangkir teh hangat.
"Minumlah!" Kata Arnold sambil menyodorkan cangkir yang diletakan di atas piringnya.
Fairy menyesap minumannya. Perutnya terasa hangat dan enak. Setelah meminum habis isinya, Fairy menyerahkannya pada Arnold.
"Aku hamil!"
Prang.....!
Cangkir yang masih ada ditangan Arnold tiba-tiba saja jatuh. Pengakuan Fairy membuat seluruh tulang yang ada di tubuh Arnold seakan tak berfungsi lagi.
Ia berbalik, menatap istrinya dengan wajah bingung.
"Ha-mil?" ulangnya agak terbata.
"Ya. Aku hamil."
"Bukankah selama ini kau selalu rajin dengan suntikan kontrasepsimu? Bagaimana kau bisa hamil?" Arnold memegang pundak Fairy dan mengguncangnya perlahan.
"Di malam valentine saat kau mengunjungiku, tanggal suntikanku sebenarnya sudah lewat."
Arnold mengacak rambutnya kasar. "Mengapa kau tak katakan padaku? Aku kan bisa memakai pengaman?"
"Aku sendiri sudah lupa karena pikirku kamu belum akan pulang."
"Memangnya kamu sudah periksa? Sudah test?
Fairy mengambil tespack dan foto USG dari bawa bantal. "Ini hasilnya. Semalam dan tadi pagi aku melakukan tes. Hasilnya postif. Dan untuk lebih memastikannya lagi, tadi sepulang dari pemakaman, aku ke rumah sakit dan diperiksa oleh Willy. Hasilnya sama, aku positif hamil."
Arnold melihat foto USG itu. Jantungnya pun berdetak tak menentu. Di tatapnya Fairy dengan seksama. "Memangnya kau sudah siap memiliki anak?"
Fairy menggeleng."Aku belum siap, Ar."
"Demikian juga dengan aku. Aku tak siap menerimanya."
jeng...jeng...jeng...
gimana kelanjutannya?
__ADS_1
Jangan lula like, komen dan vote