SONG IN MY LIFE

SONG IN MY LIFE
Semakin Memantapkan hati


__ADS_3

"Kau cantik seperti namamu!"


Deg...!


Kata-kata Alex membuat Fairy terkejut. Bukan karena kalimat yang menyanjungnya itu, namun karena ia tak pernah menduga kalau bos tampannya itu akan mengucapkan kalimat seperti itu.


"Tuan Alex tahu arti namaku?" tanya Fairy penasaran.


"Ya. Peri perempuan yang cantik. Ayudisa kan artinya perempuan yang cantik?"


Fairy tersenyum "Tuan tahu kalau nama itu berasal dari bahasa sansekerta kan? Bahasa paling tua yang berasal dari negaraku"


"Aku tahu. Itulah gunanya google"


Tawa kecil Fairy terdengar "Ya. Aku lupa itu. Tapi mengapa sampai tuan mencari arti namaku?"


Karena aku tertarik denganmu, peri cantik.


Alex ingin sekali mengucapkan itu. Namun ia menahan dirinya. Ia tak mau Fairy menganggapnya genit.


"Karena aku memang suka mencari tahu arti nama-nama dari orang yang baru saja ku kenal. Siapa tahu nanti nama itu bisa kusematkan pada nama anakku." kata Alex sambil mengangkat kedua tangannya .


"Oh...apakah tuan akan menikah?"


"Belum. Usiaku saja baru 26 tahun. Bagaimana mungkin aku akan menikah? Aku hanya mempersiapkan nanti, jika seandainya aku punya anak"


Fairy kembali tertawa "Anda sangat lucu, tuan!"


"Apanya yang lucu?"


"Karena kebanyakan pria nanti memikirkan nama untuk anaknya jika mereka sudah dipastikan akan ada. Namun tuan sudah menyiapkannya bahkan disaat tuan tidak mempunyai pacar."


"Dari mana kamu tahu kalau aku belum punya pacar?" tanya Alex penasaran.


"Teman sekamarku mencari tahu tentang tuan di google."


"Kenapa sampai dia yang mencari tahu dan bukan kamu?"


"Karena hanya dengan melihat tuan saja, aku tahu kalau tuan belum punya pacar"


"Oh ya? Apakah kamu seorang cenayang?"


Fairy menggeleng "Seorang pria yang punya hubungan serius dengan seseorang tak mungkin akan menempatkan meja kerja asisten pribadinya di satu ruangan yang sama dengannya. karena itu bisa saja membuat pacarnya cemburu"


Alex tersenyum sambil mengangkat jempolnya "Kau memang pintar. Aku senang kaubekerja di sini"


Fairy tersenyum agak malu mendapat pujian itu "Aku masih belajar tuan!" katanya merendah lalu kembali konsentrasi dengan laptopnya.


Jam kerjapun selesai. Fairy segera membereskan laptop dan dokumen-dokumen yang ada di mejanya. Alex sendiri sedang keluar ruangan saat menerima telepon beberapa menit yang lalu. Ia pun mengambil gelas kopi yang ada di meja Alex lalu segera keluar ruangan untuk mencuci gelas itu.


Di lihatnya Clara pun sedang membereskan mejanya.


"Nona Clara, apakah kau juga mau pulang?" tanya Fairy.


"Ya. Tapi tetap harus menunggu pak Alex. Beliau sedang turun ke lantai 3. Ada sesuatu yang hendak dia periksa di sana. "kata Clara sambil terus membereskan meja kerjanya.

__ADS_1


Fairy mengangguk. Ia segera ke pantri dan mencuci gelas bekas kopi Alex. Setelah itu, ia kembali ke ruangannya Alex sambil memakai shoulder bag nya sambil menunggu Alex Fairy duduk di sofa sambil membuka hp nya. Hari ini dia punya janji untuk bertemu dengan Arnold di Fairy garden. Susan akan menjemputnya di asrama jam 6.30 sore.


Fairu memang tak ingin Susan menjemputnya di perusahaan ini karena ia tak ingin merepotkan asisten Arnold itu.


Lagi pula jarak antara perusahaan ini ke asramanya hanya 10 menit jika ia naik bus.


Pintu ruangan Alex terbuka. Cowok itu tersenyum saat menatap Fairy.


"Aku pikir kamu sudah pulang."Kata Alex lalu menuju ke mejanya.


"Sebenarnya aku sudah mau pulang tapi kata nona Clara, aku harus menunggu tuan datang"


"Baguslah!" kata Alex lalu memasukan beberapa dokumen ke dalam tas kerjanya.


"Ayo. Sekalian aku mengantarmu!" ajak Alex.


"Eh...nggak usah, tuan. Aku mau naik bus saja. Asramaku dekat dari sini" tolak Fairy halus. Ia tak mau kalau Arnold sampai tahu dan menjadi cemburu.


"Baiklah. Kalau begitu sampai ketemu besok." Alex melangkah namun di depan pintu ia berbalik.


"Besok jam 8 malam, aku ingin kau mendampingiku dalam acara makan malam bersama klienku dari Jepang. Nanti sopir akan menjemputmu di asrama jam 7.30." kata Alex sebelum akhirnya ia keluar.


Makan malam dengan klien? Aduh, gimana nih, besokan aku harus ketemu Arnold. Apakah Arnold akan mengerti jika aku menjelaskannya ?


Fairy pulang ke asrama dengan pikiran yang sedikit bingung. Ia segera mandi dan ganti pakaian karena Susan pasti sudah menunggunya.


********


"Hi...baby!" Arnold langsung membawa Fairy ke dalam pelukannya. Tak peduli dengan mata Noah dan Susan yang melotot menatap adegan itu. Arnold memang dikenal sebagai cowok yang selalu bersikap manis pada semua pacarnya.Namun ia tak pernah mengumbar kemesraan yang berlebih di depan banyak orang.


Tapi kali ini, Arnold sepertinya berbeda. Ia seperti abg yang baru kenal cinta. Selalu ingin dekat dengan Fairy. Arnold bahkan sering bersikap manja di depan Fairy layaknya seorang anak kecil. Susan dan Noah sering tak habis pikir dengan perubahan sikap bos mereka ini.


"Ayo makan dulu!" Arnold langsung mengajak Fairy ke meja makan setelah keduanya sudah berada didalam rumah.


"Paman Scot dan bibi Lun kemana?" tanya Fairy saat mereka sudah menikmati makan malam.


"Mereka ada urusan ke kerajaan sebelah. Mencari bunga-bunga untuk pernikahan kita."


Fairy hanya mengangguk lalu menghabiskan makan malamnya. Selesai makan, ia segera membereskan meja makan sementara Arnold naik ke lantai dua.


Setelah Fairy membereskan meja makan dan mencuci peralatan makannya, ia segera duduk di ruang tamu. Badannya terasa lelah karena bekerja di kantor sangat jauh berbeda dengan saat ia berada di cafe atau perpustakaan. Pikirannya sangat terkuras saat membaca laporan keuangan.


"Sayang....!" Panggil Arnold lalu duduk di samping Fairy yang sedang memainkan hp nya.


"Ada apa?"


Arnold membuka beberapa dos kecil yang berisi sepatu dari berbagai merk terkenal.


"Pilihlah sepatu yang akan kau pakai di hari pernikahan kita nanti. Kau boleh memilihnya lebih dari satu"


Fairy menatap sepatu-sepatu itu dengan kagum. Semuanya nampak indah dan mewah. Pilihannya jatuh pada sebuah sepatu berwarna putih yang nampak sederhana. Ada pita berwarna perak di depannya dan tingginya hanya 7 cm saja.


"Aku pilih yang ini." ujar Fairy sambil memegang sepatu itu.


"Aku suka pilihanmu. Hanya satu?"

__ADS_1


"Satu sajalah. Aku sebenarnya tak terlalu suka memakai sepatu hak tinggi."


Arnold melingkarkan tangannya dibahu Fairy "Sayang, aku sebenarnya sangat penasaran dengan namamu itu. Jika dilihat-lihat, menurut ukuran orang Asia, tinggi badanmu sebenarnya termasuk di atas rata-rata."


"Ya. Tinggiku 162 cm. Mengapa memangnya?"


"Fairy itukan biasanya identik dengan orang yang bertubuh mungil"


Fairy tersenyum lalu menyandarkan kepalanya di bahu Arnold.


"Aku lahir dengan berat badan 1,8kg. Mamaku mengalami sakit dan harus melahirkanku saat usia kandungannya baru 7 bulan. Aku sangat kecil namun menurut nenek tetap terlihat cantik. Makanya nenek menamaiku Fairy Ayudisa. Artinya peri yang cantik"


Arnold mencium kepala Fairy "Namamu itu memang sesuai dengan dirimu. Kau cantik tanpa make up. Kau seperti bidadari tanpa sayap yang membuat siapa saja yang melihatmu akan jatuh cinta."


"Oh ya? Aku merasa tersanjung?"


Arnold melepaskan pelukannya lalu memegang bahu Fairy agar mereka bisa saling berhadapan.


"Kau adalah bidadari yang telah mencuri hatiku. Walaupun kita belum lama saling kenal, namun aku sadar bahwa kau memang perempuan yang aku cari selama ini. Aku begitu terpesona padamu hingga akhirnya aku tak ingin ada gadis lain lagi." Arnold membelai wajah Fairy dengan sangat lembut. "kita akan menjadi tua bersama. Aku berjanji bahwa tidak akan ada gadis lain lagi. Dan saat kau sudah lulus kuliah, aku akan menggandeng tanganmu dengan sangat bangga di depan semua orang untuk menunjukan pada dunia kalau kau adalah milikku"


"Terima kasih, Ar. Terima kasih karena mencintaiku sebesar ini."


Arnold tersenyum. "Kau memang pantas untuk ku cintai. Seandainya pun suatu saat maut akan memisahkan kita, maka cintaku padamu tak akan pernah tergantikan dengan orang lain"


Hati Fairy bahagia. Ia dapat melihat kejujuran dalam diri Arnold saat mengucapkan itu. "Ar, aku mencintaimu!"


"Aku juga mencintaimu, sayang!" Arnold kembali menyatukan bibir mereka dalam ciuman panjang yang saling berbagi. Keduanya nampak sangat bahagia sehingga ciuman itu menjadi ciuman panjang yang bukan hanya menghadirkan getar cinta di dada namun juga mulai membangkitkan suatu rasa didalam diri keduanya.


Fairy merasakan kalau sentuhan Arnold dipunggungnya membuat seluruh tubuh Fairy bagaikan terbakar. Ciuman itu bukan hanya tentang berbagi kasih tapi sudah menuntut lebih sehingga Fairy tak mampu menahan desahan lembut yang keluar dari bibirnya.


Astaga....ini tidak boleh diteruskan. Jerit hati Fairy.


"Ar....!" Fairy melepaskan ciumannya walaupun sesungguhnya tubuhnya tak rela. "Kita tak boleh meneruskan ini"


"Aku tahu!" kata Arnold dengan suara serak menahan hasrat yang hampir saja tak tertahankan "Maafkan aku!"


Fairy mengangguk. Ia juga tahu kalau ini bukan salah Arnold.


"Ar, aku pulang ya. Capek sekali. Besok juga aku ada ujian"


Arnold mencium dahi Fairy lalu segera berdiri dan mengambil kunci mobilnya. Arnold tahu, ia harus bersabar sampai bisa memiliki Fairy secara sah.


Keduanya pun meninggalkan Fairy Garden dengan mobil Arnold.


"Sampai jumpa besok ya?" Arnold sekali lagi mencium bibir Fairy sebelum gadis itu turun.


Fairy mengangguk, lalu turun dan melambaikan tangannya ke arah Arnold sebelum cowok itu menghilang dengan mobilnya.


Saat Fairy melangka, ia menepuk jidatnya.


Ya ampun, kenapa aku lupa meminta ijin untuk makan malam besok ya?


TERIMA KASIH SUDAH BACA PART INI


JANGAN LUPA KASIH BINTANG 5 YA..he..he...

__ADS_1


LIKE, KOMEN DAN VOTE YA...


Biar tambah semangat nulisnya...


__ADS_2