
"Arnold.....!" Putri Belinda berlari mendekati Arnold yang terkapar karena sebuah sepeda motor menabraknya.
Pengendara sepeda motor itu pun terjatuh. Namun ia buru-buru bangun dan segera mendekati Arnold.
"Oh my God! I am sorry...!" Pengendara sepeda motor itu membuka helm yang dipakainya lalu membantu Arnold untuk duduk. Ternyata ia salah satu pelayan yang ada di restoran itu. Dan dia seorang perempuan. Dari name tag nya diketahui namanya Mila.
"Tuan Arnold, maafkan aku. Astaga, aku bisa di pecat oleh bos kalau begini." Mila mulai panik.
"Aku yang salah. Terlalu fokus dengan hp ku dan tidak memperhatikan jalan yang ada di depanku." Kata Arnold. Ia perlahan berdiri. Ada rasa sakit di pinggangnya dan juga tangannya.
"Arnold, kita ke rumah sakit ya?" Ujar Belinda.
"Aku mau ke apartemenku saja dan meminta dokter pribadiku untuk datang ke sana. Kalau ke rumah sakit nanti akan heboh pemberitaannya." Arnold mengebaskan debu yang ada di celananya.
Mila mengambil hp Arnold yang terlempar tak jauh dari sana. "Tuan Arnold, saya akan membayar biaya pengobatannya."
Arnold menggeleng. "Sudah ku katakan kalau aku tidak apa.-apa. Pergilah! Lain kali hati-hati ya."
"Terima kasih tuan Arnold." Mila senang. Arnold Manola memang seperti yang diberitakan selama ini. Ramah dan baik hati.
Arnold dan Belinda melangkah bersama memasuki mobil Arnold. Namun saat Arnold akan memutar stir mobilnya, cowok itu merasakan ngilu di bagian pergelangan tangannya.
"Ah.....!" keluh Arnold.
"Tuh kan. Kamu pasti terluka. Ayo pindah, biar aku yang membawa mobilnya."
"Tapi..."
"Ayo pindah. Kamu mau buat kita kecelakaan kalau memaksa ingin menyetir mobil dalam keadaan begini." Kata Belinda setengah memerintah lalu segera turun dari mobil. Arnold pun terpaksa turun dan bertukar tempat duduk dengan Belinda.
"Katakan di mana alamat apartemenmu!" Kata Belinda setelah mobil mulai berjalan.
Arnold pun menyebutkan alamat apartemennya..Ia kemudian menelepon dokter Charlie.
Sepanjang perjalanan menuju ke apartemen, mereka saling diam. Arnold pun melirik ke arah Belinda yang kelihatan serius mengendarai mobil. Ia kelihatan begitu tenang namun sedikit ngebut.
"Pelan-pelan saja, putri Belinda. Apartemenku sudah dekat."
"Kamu sudah terluka seperti itu namun masih tenang saja. Sebaiknya pastikan kalau doktermu itu sudah berada di sana saat kita sampai." Ketus Belinda sambil menambah kecepatan mobilnya.
Mobil Arnold terparkir tepat di lantai 10. Belinda turun dan membukakan pintu bagi Arnold.
"Bisa sendiri?" Tanya Belinda.
Arnold mengangguk. Saat ia turun, Arnold kembali meringis menahan sakit dipinggangnya. Dengan cepat, Belinda segera melingkarkan tangan Arnold yang tak sakit di bahunya sementara tangannya sendiri menyusup masuk di bawah lengan Arnold.
"Ayo jalan! Aku akan membantumu."
Tubuh Arnold bergetar karena Belinda yang merapat ke arahnya. Harum tubuh gadis itu membuat Arnold mengingat Fairy. Mendiang istrinya itu sangat suka dengan parfum yang berbau bunga.
Di depan pintu, Arnold meminta Fairy menekan 8 digit angka yang disebutkannya. Lalu keduanya masuk.
Saat mereka memasuki kamar Arnold, Belinda agak terkesiap melihat foto pernikahan Arnold dan istrinya yang dibuat sangat besar. Ada juga beberapa foto perempuan itu yang digantung dalam ukuran kecil.
"Itu mendiang istriku." Kata Arnold sambil membaringkan tubuhnya si atas ranjang.
"Sangat cantik." Puji Belinda.
"Ya. Namanya Fairy Ayudhisa. Artinya Peri perempuan yang cantik."
Belinda tersenyum. "Wajah dan namanya sangat cocok."
__ADS_1
"Ya. Itulah Fairyku."
"Eh, sepertinya bunyi bel pintu terdengar. Aku akan bukakan." Belinda segera meninggalkan kamar Arnold. Tak lama kemudian Belinda kembali dengan seorang dokter tampan berusia sekitar 30-an. Namanya dokter Charlie. Dia sudah 5 tahun menjadi dokter pribadi Arnold. Dia juga banyak membantu Arnold secara psikologis untuk mampu menerima kenyataan bahwa Fairy sudah meninggal.
Saat Charlie meminta Arnold untuk membuka bajunya, Belinda bermaksud akan pergi. Namun Charlie buru-buru menahan tangan gadis itu.
"Please, dont live me!" katanya sedikit berbisik.
Belinda terpaksa duduk lagi dipinggiranntempat tidur karena dokter Charlie menatapnya. "Tinggalah di sini, nona. Ini akan sangat membantuku memeriksa temanku yang agak keras kepala ini."
Dokter Charlie langsung membuka kemeja yang Arnold kenakan. Ia juga meminta Arnold untuk membuka celana panjangnya. Belinda langsung memalingkan wajahnya yang merona.
"Sebentar, aku akan mengambil air hangat dulu." Charlie pergi ke kamar mandi.
"Bel, tolong ambilkan handuk kecil yang ada di dalam lemari itu ya..." pinta Arnold.
Belinda mengangguk tanpa menoleh. Ia langsung membuka lemari dan mencari handuk kecil. Saat ia berbalik, mau tidak mau, ia harus menatap tubuh Arnold yang hanya menggunakan boxer itu.
"Aku tunggu di luar saja ya..." Belinda jadi tak enak.
"Please...jangan tinggalkan aku. Dokter Charlie seorang gay." bisik Arnold sambil menahan tangan Belinda.
"Tapi...."
"Kamu kenapa? Tak mungkinlah baru kali ini melihat pria yang membuka bajunya kayak aku. Anggaplah ini di pantai." Kata Arnold dengan senyum menggoda.
Belinda akan bicara namun dokter Charlie sudah keluar dari kamar mandi sambil membawa swbuah baskom berisi air hangat. Ia mencelupkan handuk ke dalam baskom dan mulai membasuh pinggang Arnold yang memar dan beberapa bagian kakinya yang tangannya yang terluka.
"Aku akan memberikan salep untuk menghilangkan memarnya dan juga obat penghilang rasa sakit. Sebaiknya ini diperiskan ke rumah sakit untuk di foto. Siapa tahu ada tulang yang retak." Kata Charlie sambil mengeluarkan saleb dan juga obat yang sudah dibawanya dari rumah sakit.
"Baik, dokter." Kata Arnold sambil mengangguk.
"Eh, nanti Belinda saja yang mengosoknya." Tolak Arnold membuat Belinda melotot ke arahnya.
"Telepon aku jika ada keluhan. Sebaiknya setelah saleb di gosok, tunggulah selama 30 menit baru kau memakai baju." Kata dokter Charlie sebelum pergi. Belinda menatap dokter itu untuk mencari kebenaran tentang dokter itu.
"Arnold, kamu bohong kan? Mana mungkin dokter setampam dan segagah itu menyuka sejenis."
"Benar. Noah sendiri pernah di goda olehnya."
"Mungkin dia hanya geli melihat Noah yang gayanya kayak perempuan itu."
"Dari mana kamu tahu kalau Noah seperti perempuan? Kamu kan belum pernah bertemu dengan Noah?"
"Aku melihatnya dipemakaman nyonya Elisa Thomson. Aku juga pernah melihatnya beberapa kali ada bersamamu saat di wawancara."
"Wah, kamu diam-diam suka mencari tahu tentang aku ya?"
"Cih, terlalu percaya diri kamu. Siapa juga yang suka mencari tahu tentang kamu? Aku menontonnya secara tidak sengaja." Belinda berdiri. "Aku mau pulang dulu ya."
"Eh, kamu jangan pulang dulu. Please oleskan salebnya dulu." Mohon Arnold dengan wajah memelas.
"Panggil saja asistenmu."
"Terlalu lama. Kamu saja yang oleskan. Bolehkan?"
Dengan wajah terpaksa Belinda mengambil saleb yang ditinggalkan oleh dokter Charlie di atas nakas. Belinda kemudian naik ke atas tempat tidur, ia mendekat ke arah tubuh Arnold. Susah payah ia menelan salivanya memandang perut berotot itu. Tangan Belinda menjadi sedingin es saat ia sedikit menunduk dan mengoleskan saleb itu dirusuk Arnold.
Sial! Mengapa sentuhan jarinya membuat darahku berdesir? Apakah karena aku sudah lama tak bersentuhan dengan wanita?
"Ah...."
__ADS_1
"Maaf, aku menekannya terlalu kuat ya?" Tanya Belinda sambil mendongakkan kepalanya. Kepala Arnold yang kebetulan sedang menunduk membuat jarak wajah mereka sangat dekat. Arnold sungguh tak dapat menahan dirinya. Bibir Belinda begitu menggoda untuk di sentuh. Makanya Arnold langsung mencium bibir Belinda. Gadis itu terkejut. Ia bermaksud untuk melepaskan diri namun tangan Arnold bergerak cepat dan langsung menahan tengkuk Belinda. Dari sikap yang penuh perlawanan, akhirnya Arnold merasa kalau Belinda melemah. Ia bahkan membalas ciuman Arnold dengan begitu hangatnya. Keduanya pun seakan larut dalam ciuman itu sampai akhirnya secara terpaksa, ciuman itu harus dilepaskan karena keduanya hampir kehabisan oksigen.
PLAK....!
Satu tamparan mendarat di pipi Arnold. Menimbulkan rasa panas di wajah Arnold.
"Jangan mengambil sesuatu yang bukan milikmu!" Belinda berdiri. "Aku pergi. Mungkin asistenmu akan segera datang. Bye..." Belinda langsung menyambar tasnya yang ada di atas meja. Setengah berlari ia menuruni tangga dan keluar dari apartemen itu.
Saat ada di dalam lift, Belinda mengetuk kepalanya sendiri.
"Dasar bodoh! Apa yang sudah kamu lakukan Belinda? Dia memang tampan. Tapi seharusnya kamu jangan tergoda." guman Belinda. Ia mengambil tisue dari dalam tasnya dan membersihkan bibirnya. Tepat di saat itu lift terbuka dan hp nya berbunyi.
"Hallo, sayang...!" Sapa Belinda melihat siapa yang menelepon.
"Kamu dimana? Aku di yayasan tapi kamu tak ada. Katanya kamu keluar makan siang dengan Arnold?"
"Ya. Tapi sekarang aku sedang ada urusan sedikit. Makan siangnya sudah selesai."
"Ya sudah. Aku tunggu di ruanganmu saja ya?"
"Ok. Bye..." Belinda langsung mengentikan sebuah taxi dan masuk ke dalamnya. Ya Tuhan, aku tak boleh lagi bertemu dengannya.
**********
Di kamarnya Arnold tersenyum. Ia memegang bibirnya sendiri. Entah mengapa saat Arnold mencium Belinda, Arnold bagaikan mencium Fairy.
"Ini sudah gila!" guman Arnold. Ia memandang foto Fairy. "Sayang, maaf ya kalau aku mencium gadis lain dan membayangkan kalau aku menciummu. Kamu tak marahkan kalau aku jatuh hati padanya? Dia membuatku gila. Sama seperti waktu aku menginginkan dirimu dulu, itu yang sekarang aku rasakan padanya. Namun kamu tetap number one di hatiku. Putri Belinda mungkin sudah menjadi nomor 2. Ah....aku bisa gila karenanya."
Hp Arnold berdering. Ia terkejut melihat ada nomor Linda di sana.
"Hallo..."
"Tuan Arnold, maafkan aku ya? Aku sungguh malu meneleponmu. Tapi Mike terus menerus memintaku untuk menghubungimu."
"Baiklah. Aku akan bicara padanya."
"Hallo uncle..."
Hati Arnold menjadi senang. "Hallo sayang..."
"Bolehkah kita jalan-jalan?"
"Wah, sayang sekali aku tak bisa. Badanku kurang sehat."
"Kalau begitu bolehkah aku datang ke tempat uncle?"
"Boleh. Jika mommymu mengijinkan, akan ku kirim alamatnya."
"Mommy, boleh ya main-main ke rumah uncle Arnold. Please..." terdengar Arnold meminta ijin pada mamanya.
Hening sejenak....., lalu...
"Hore..., aku bisa ke tempat uncle. Kirim sekarang alamatnya ya...."
Arnold pun segera mengirim alamat apartemennya. Entah mengapa Mike membuat hatinya senang. Arnold pun ingin memakai kesempatan ini untuk semakin dekat dengan Linda dan mengorek keterangan darinya tentang rumahnya yang hanya bersebelahan dengan alamat Nenenk Anna.
Lalu apa yang terjadi???
Siapa Mike dan Linda???
Jangan lupa Like, komen dan Vote ya....
__ADS_1