SONG IN MY LIFE

SONG IN MY LIFE
kesepakatan


__ADS_3

Fairy mendekati Arnold. Dengan tangan yang sedikit gemetar ia menyentuh tangan Arnold, mencoba menjelaskan maksud perkataannya.


"Arnold...., duduk dulu. Dengarkan penjelasanku!" ajak Fairy lalu menarik tangan Arnold agar cowok itu duduk berdekatan dengannya lagi.


Arnold menurut. Ia duduk di samping Fairy dengan tangan kanannya yang masih ada digenggaman gadis itu. Arnold dapat merasakan kalau tangan gadis itu sangat dingin. Menandakan kalau ia sedikit risih sebenarnya menyentuh Arnold lebih dulu.


"Kamu adalah artis terkenal yang kehidupanmu selalu ingin diketahui oleh banyak orang. Jika mereka tahu kalau kita menikah, maka bukan hanya kamu saja yang akan selalu diikuti, aku juga. Dan aku tak dapat membayangkan jika di asrama, di perpustakaan, di tempatku belajar, para paparazi tidak akan pernah membiarkan aku tenang. Aku tidak mau, Arnold. Aku ingin kita seperti ini. Diam-diam bertemu, dan saling melepas rindu tanpa diganggu oleh mereka." Fairy menatap Arnold dengan tatapannya yang sangat meneduhkan.


"Biarkanlah kuliahku selesai dulu, biarkan aku meraih apa yang sangat kudambakan dulu, baru kita berdua bisa berjalan bersama, saling bergandengan tangan di muka banyak orang tanpa harus menyembunyikan cinta kita"


Arnold menatap Fairy sambil membelai pipi gadis itu dengan ibu jarinya "Usia kamu berapa?"


"18 tahun. Kamu juga sudah tahu kan? Kenapa?"


"Mengapa bicara sangat dewasa seperti ini? Maaf ya aku yang kekanak-kanakan seperti tadi" Arnold mendekat, mengecup pipi Fairy dengan gemasnya.


"kamu bisa saja!" Fairy menjadi malu. Ia menepuk pundak Arnold dengan gemas.


"Baiklah. Hubungan kita ini akan dirahasiakan. Tapi, aku nggak mau kamu bekerja di perpustakaan dan di restauran itu lagi. Nanti waktumu untuk aku jadi berkurang"


Fairy menunduk. Ia kelihatan agak sulit menerima usulan Arnold "Arnold, aku ditawarkan untuk bekerja paru waktu di perusahaan tempatku studi banding. Mereka ada cabang di sini. Jadi bolehkah aku menggunakan kesempatan ini untuk semakin banyak belajar? Aku akan berusaha membagi waktu sebaik mungkin tapi jangan suruh aku berhenti bekerja ya...please..!" mohon Fairy sambil menyatukan kedua tangannya di depan dadanya.


"Ok. Selama itu tak membuat kita sulit bertemu" kata Arnold akhirnya mengalah.


Wajah Fairy langsung berseri. Ia tanpa sadar memeluk Arnold.


"Aku suka mencium harum rambutmu." bisik Arnold membuat Fairy sadar dan segera melepaskan pelukannya. Wajah gadis itu semakin merah membuat Arnold tak tahan untuk kembali mencium bibir gadis itu.


"Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu!" bisik Arnold saat mengahiri ciumannya.


"Aku juga mencintaimu, uncle!"


Arnold terkekeh. Ia sekarang suka dengan panggilan itu.


"Arnold, jika kita menikah, bolehkan aku tinggal di asrama"


"Apa? Tidak sayang. Kau harus tinggal di rumahku"


"Rumahmu? Tapi, disana ada begitu banyak pelayanmu, aku takut jika salah satu diantara mereka membocorkan rahasia kita"


"Kalau begitu di apartemenku"


"Sama saja. Di sana ada juga orang lain"


Arnold kembali cemberut "Sayang, suami istri itu harus tinggal bersama"


"Aku mau tinggal di sini. Walaupun jaraknya agak jauh dari kampusku, namun aku suka tempat ini."


Arnold mengangguk "Ok. Aku setuju"


"Tapi, kalau kamu sedang show di luar kota, aku ke asrama ya?"


Arnold menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Pusing juga menghadapi peri manis ini dengan segala persyaratannya.


"Ok. Sesuai keinginanmu, tuan putri"


Fairy tertawa. Ia menyandarkan kepalanya didada Arnold membuat cowok itu mendekapnya dengan erat.


"Ini gila, Arnold. Aku sebentar lagi akan menikah" kata Fairy.


"Aku tahu. Namun akan lebih gila kalau aku tak bisa mendapatkanmu. Kau adalah cinta terbesar yang pernah kurasakan pada seorang gadis" kata Arnold lalu mencium pucuk kepala Fairy secara beberapa kali. Ia sendiri tak dapat melukiskan kebahagiannya saat ini.


"Arnold, mengapa kau bisa tahu lagu tadi?" tanya Fairy masih dalam posisi bersandar di dada Arnold.


"Itulah untungnya punya penggemar. Mereka pasti akan melakukan apa saja untuk kita"


"Kamu menanyakannya pada Cassie kan?"


Arnold mengangguk.


"Kamu menyanyikan lagu itu dengan sangat baik. Aku sampai kaget mendengarnya."

__ADS_1


"Karena aku tahu berbahasa Indonesia"


"Apa?" Fairy menatap Arnold dengan rasa tak percaya. Bukankah ia beberapa kali pernah mengumpat di depan Arnold memakai bahasa Indonesia?


"Jangan kaget seperti itu. "Arnold kembali menarik tubuh Fairy agar bersandar di dadanya kembali.


"Keluarga Ezekiel menjadikan Indonesia sebagai rumah kedua mereka. Papa mamanya, Rachel bahkan Joe asistennya itu bisa berbahasa Indonesia dengan baik. Nah, saat orang tuaku meninggal, aku tinggal bersama mereka. Aku pun belajar bahasa Indonesia"


"Orang tuamu juga sudah meninggal?"


Arnold menyandarkan kepalanya pada kepala Fairy "Ya, kita sama sayang. Kiata adalah anak tunggal yang telah ditinggal pergi oleh orang tua kita. Makanya aku yakin kalau kita akan cocok." kata Arnold sambil tangannya memainkan rambut Fairy dengan jari manisnya.


Keduanya kemudian diam masih dalam posisi yang sama. Tenggelam dalam pikiran masing-masing sampai akhirnya Fairy merasa bahwa ia sudah mengantuk.


"Arnold, aku mau pulang. Ini sudah terlalu malam"


Arnold melepaskan pelukannya dan menatap Fairy sambil menaikan alisnya "Sayang, kita baru saja ketemu dan kamu ingin segera pergi?"


"Ini sudah hampir jam 2 subuh."kata Fairy sambil menunjuk jam tangannya.


"Tidur saja di sini. Besokan hari minggu. Aku tak punya kegiatan apa-apa. Kamu juga..."


Fairy menelan salivanya "Mak...sudmu, a....ku tidur di sini?"


Arnold mengangguk.


Wajah Fairy tiba-tiba menjadi pucat. Inilah yang ia takutkan saat akan memulai suatu hubungan dengan orang lain. Menginap.....!


Arnold terkejut melihat perubahan wajah Fairy. Gadis itu kini kelihatan sangat ketakutan.


"Sayang, kamu jangan salah menduga, aku mengajakmu tidur di sini bukan berarti kita akan making love..." kata Arnold dan membuat Fairy bernapas lega.


"Di sini ada dua kamar tamu dan satu kamar utama di lantai 2. Kau boleh pilih mau tidur di mana." Arnold melanjutkan.


"Tapi aku tak punya baju ganti. Koperku ada di bagasi mobil Willy"


Arnold berdiri lalu mengambil sebuah paper bag yang ada di atas meja tempat TV.


Fairy membuka paper bag itu. Ia lalu menatap Arnold "Kau menyiapkan semua ini sebelum aku menerima lamaranmu? Bagaimana jika tadi aku menolakmu?"


Arnold tersenyum "Maka malam ini aku akan tidur sambil memakai semua baju itu.


Tawa Fairy langsung pecah."Nggak akan muat. Ukurannya kan kecil"


Arnold mendekat lalu kembali memeluk Fairy. "Tidurlah, besok sore baru aku akan mengantarmu ke asrama"


"Aku tidur di kamar tamu saja"


"Ok. Good night "


"Good night"


Fairy melangkah masuk ke salah satu kamar tamu lalu segera menutup pintu. Ia pun segera ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


*********


Fairy tidur dengan sangat pulas malam ini karena hatinya begitu bahagia dan ia memang sangat lelah melakukan perjalanan dari New York ke London.


Saat ia bangun di pagi ini, ia sangat terkejut melihat jam sudah menunjukan pukul setengah sepuluh pagi. Gadis itu buru-buru bangun, merapihkan tempat tidur dan segera ke kamar mandi.


Selesai mandi, ia segera mengganti pakaiannya, menyisir rambut coklat panjangnya dan segera keluar kamar.


Ruangan nampak sepi saat Fairy keluar dari kamar. Pandangannya langsung terarah ke lantai dua, sepertinya juga tak ada orang.


Di mana Arnold berada ya? Apakah dia pergi? Duh...perut gue sudah bergerak minta di isi lagi.


Sebuah tangan tiba-tiba melingkar diperut Fairy dan setangkai mawar merah terulur padanya.


"Good morning my honey!" bisik Arnold sangat dekat ditelinganya membuat gadis itu sedikit merinding. Apalagi saat satu kecupan mendarat di pipi kanannya, Fairy merasakan kalau lututnya sedikit goyah.


Fairy mengambil bunga mawar itu lalu berbalik dan menatap Arnold.

__ADS_1


"Terima kasih, bunganya cantik" kata Fairy sambil mencium mawar merah itu.


"Kau cantik sekali pagi ini dengan rambutmu yang basah dan harum" ujar Arnold lalu menyentuh rambut Fairy.


"Kau dari mana?" tanya Fairy lalu menjauhkan tubuhnya dari Arnold karena sesungguhnya ia masih malu untuk selalu dekat dengan Arnold.


"Aku hanya olahraga sedikit di taman. Soalnya kamu bangunnya lama. Tadi sebelum keluar aku lihat kamu masih terlelap"


"Kamu mengintip aku yang sedang tidur?" Fairy terpana, bola matanya membesar.


"Bukan mengintip sayang. Aku masuk ke kamar, memperbaiki letak selimutnya yang hampir jatuh ke lantai dan memberikan kecupan di dahimu"


"A.....pa?" wajah Fairy sudah semakin panas rasanya. "Itu namanya tidak sopan!"seru Fairy sambil menahan senyumnya. Hatinya sangat berdebar mendegar kalau Arnold menciumnya.


"Hei...sayang, kamu adalah tunanganku, apanya yang tidak sopan?"


Fairy buru-buru memalingkan wajahnya melihat tatapan Arnold.


"Eh...aku lapar. Apakah di sini ada makanan?" tanya Fairy mengalihkan pembicaraan.


"Paman Scot dan bibi Lun sudah menyiapkan sarapan kita. Ayo kita makan!" ajak Arnold lalu meraih tangan Fairy dan keduanya melangkah bersama menuju ke meja makan.


"Ke mana paman Scot dan istrinya?" tanya Fairy sambil menikmati sarapannya.


"Mereka ada di taman. Sedang mengurus bunga-bunga"


"Mereka sangat luar biasa dalam mengurus taman ini. Aku selalu merasa senang jika ada di sini"


"Mungkin karena kamu seorang peri"


Fairy tersenyum sambil mengangguk " Mungkin juga"


Arnold yang duduk di samping Fairy menyentuh tangan Fairy yang ada di atas meja " Aku tak sabar menungguh 13 hari lagi. Rasanya ingin segera bersamamu"


"Ar, apakah kau tak ada jadwal show selama 2 minggu ini?"


Arnold menggeleng "Biasanya setelah tur panjang, aku akan istirahat selama 1 bulan. Sekaligus juga memberi istirahat kepada seluruh tim ku. Kenapa memangnya? Kau takut kesepian saat kita menikah?" tanya Arnold lalu membelai tangan Fairy yang ada di genggamannya.


"Bukan. Aku hanya sekedar bertanya saja." jawab Fairy lalu meneguk habis jus nya.


"Kita ke taman, yuk!" ajak Fairy.


Arnold mengangguk. Ia dan Fairy membereskan meja makan lalu sama-sama keluar sambil bergandengan tangan.


Fairy langsung akrab dengan paman Scott dan bibi Lun. Ia bahkan banyak bertanya tentang bunga kepada mereka.


"Nenekku sangat menyukai bunga"


"Bunga-bunga ini kebanyakan diambil dari kerajaan tetangga. Di sana memang sumber bunga karena itu dijuluki kerajaan bunga" kata bibi Lun.


Dari jauh paman Scott dan Arnold memperhatikan mereka.


"Dia gadis muda yang sangat cantik. Dia bersinar diantara bunga-bunga itu" kata laman Scott.


"Ya. Makanya aku ingin segera menjadikannya milikku. Aku ingin menikah di sini, paman. Karena gadisku itu sangat menyukai bunga."


Paman Scott mengangguk"Tuan beruntung memilikinya. Aku percaya cinta kalian akan abadi. Karena dia bukan seperti gadis kebanyakan."


Arnold mengangguk sambil tersenyum "Terima kasih paman. Aku berharap juga demikian."


Arnold terus memandang Fairy yang berjalan diantara bunga-bunga. Kulitnya yang putih bersih, rambutnya yang panjang lurus, demikian juga gaun berwarna pink yang dipakainya membuat ia sangat cantik dan berkilau.


Mom....dad....aku telah menemukan seorang gadis dalam hidupku. Aku ingin bahagia bersamanya.


Hp Fairy yang ada di tangannya berbunyi. Fairy melihatnya dan ternyata itu panggilan dari nenek Anna. Fairy tertegun sesaat.


Apakah aku harus memberitahukan pada nenek Anna menyangkut pernikahanku???


JANGAN LUPA LIKE, KOMENT DAN VOTE YA...


TERIMA KASIH ATAS DUKUNGANNYA SELAMA INI

__ADS_1


__ADS_2