
Selesai jam kuliah, Fairy mampir sebentar di perpustakaan. Ibu Veronika meneleponnya untuk memberikan gajinya yang terakhir.
"Sayang sekali kamu tak bisa lagi bekerja di perpustakaan. Apakah tugas kuliahnya begitu banyak ya?" Tanya ibu Vero. Ia nampak sedih kalau Fairy akan berhenti.
"Iya, bu. Tugasnya banyak. Kadang aku tak bisa beristirahat dengan baik."
Ibu Veronika tersenyum. Ia memberikan sebuah amplop pada Fairy. "Kalau kamu mau balik lagi ke sini, ibu akan senang hati menerimamu."
"Baik, bu. Aku permisi dulu, ya. Terima kasih untuk semuanya." Pamit Fairy lalu segera meninggalkan perpustakaan.
Sebenarnya Fairy sangat menyukai perpustakaan ini. Ia selalu merasa tenang berada di ruang perpustakaan yang sunyi. Namun sekarang Fairy sudah memiliki suami. Dia harus mengorbankan banyak hal. Ia juga sebenarnya sangat rindu dengan Giani di restoran siap saji. Apa boleh buat, pekerjaannya di perusahaan Alex sangat menunjang keinginannya untuk menjadi wanita karir.
"Nona, apakah kita langsung pulang saja ke Fairy garden?" Tanya Rio saat Fairy sudah masuk ke dalam mobil.
"Saya mau mampir ke toko Asia sebentar. Ada sesuatu yang ingin ku beli." Kata Fairy.
"Baiklah!" Rio pun langsung menjalankan mobilnya menuju ke toko Asia yang jaraknya hampir 45 menit dari kampus Fairy.
Memasuki toko ini, membuat Fairy rindu dengan suasana Jakarta. Berbagai jenis makanan khas orang Asia memang ada di sini.
Fairy membeli beberapa jenis mie instan, beberapa jenis bumbu Asia, beserta tempe dan tahu. Setelah selesai, ia segera membayar di kasir. Hp Fairy berbunyi saat ia baru saja keluar dari toko.
"Hallo sayang." Sapa Fairy pada Arnold.
"Kamu di mana, sayang? Mengapa belum tiba di sini?" Tanya Arnold.
"Aku baru saja selesai belanja di toko Asia. Ini sudah mau ke rumah."
"Baiklah. Aku menunggumu. Hati-hati di jalan ya."
"Ok. Bye...." Fairy menyimpan kembali ponselnya lalu segera masuk kembali ke mobil.
Saat mobil yang dikendarai Rio berhenti di depan rumah, nampak Arnold sudah menunggunya di depan pintu. Ia sendiri yang membukakan pintu bagi Fairy dan mempersilahkan gadis itu turun.
Arnold langsung melingkarkan tangannya di bahu Faity dan mengajak istrinya itu masuk, sementara Rio ada di bekakang mereka sambil membawakan belanjaan Fairy. Setelah menaruh belanjaan Fairy di atas meja pantry, Rio langsung keluar.
"Kau belanja banyak?" Tanya Arnold saat Fairy sudah mengeluarkan belanjaannya dan memasukannya di kulkas dan lemari penyimpanan.
__ADS_1
"Hanya beberapa bumbu dan bahan makanan. Aku ingin masak untuk makan malam. Tapi makanan Indknesia. Bolehkan?"
Arnold tersenyum. Ia tersenyum dan mendekati istrinya. Di peluknya Fairy dari belakang dan dihadiakan satu kecupan manis di bahunya.
"Kau adalah nyonya rumah inj. Maka kau bebas untuk menyiapkan saja. Aku akan memakannya." Bisik Arnold lalu membalikan badan Fairy agar berhadapan dengannya. Saatvtatapan mereka bertemu, Fairy tahu apa yang diinginkan oleh suaminya. Ia langsung melingkarkan tangannya di leher Arnold dan menikmati ciuman hangat dari bibir suaminya. Untuk sesaat, mereka larut dalam kemesraan melalui ciuman bibir yang menghangatkan dan menghanyutkan.
"Masaknya nanti sore kan? Sekarang aku ingin bobo siang denganmu." Kata Arnold saat ciuman mereka terhenti. Ia langsung menggendong Fairy dengan gerakan lembut, menaiki tangga menuju kamar mereka. Di sana, keduanya kembali memadu kasih.
**********
Pukul 4 sore, Fairy terbangun dari tidur siangnya. Badannya sedikit pegal karena Arnold sungguh pandai menaklukan pertahanan Fairy sehingga ia tak mampu menolak untuk kembali larut dalam kenikmatan menjalankan hubungan suami-istri."
"Hallo sayang..!" Arnold ikut bangun dan menarik kembali istrinya dalam dekapannya.
"Ar, aku mau masak." Kata Fairy melihat suaminya itu kembali menciumnya lehernya.
"Aku tak akan macam-macam. Hanya ingin menikmati hangatmu. 10 menit saja, setelah itu aku akan membiarkanmu bangun." Bujuk Arnold.
Fairy hanya tersenyum dan menikmati hangatnya dekapan Arnold dan harum tubuh Arnold. Tangan Fairy asyik membuat berbagai bentuk gambar di dada suaminya.
"Sayang, kamu membuat puisi ya?" Tanya Arnold.
"Ya. Secara tak sengaja. Tadi pagi aku bersih-bersih kamar ini dan menemukan bukumu di meja. Puisi-puisimu sangat bagus." Puji Arnold.
Fairy hanya tertawa. "Itu hanya coretan tangan tak berguna dariku saat tak tahu harus berbuat apa." Kata Fairy sambil kembali membaringkan keoalabya di dada Arnold.
"Siapa bilang itu hanya goresan tangan tak berguna? Aku suka, sayang. Apalagi puisi yang berjudul forever. Itu sangat membuat hatiku tersentuh. Apakah itu tentang kita?" Tanya Arnold.
Fairy bergerak mundur. Lalu duduk sambil bersandar pada kepala ranjang. Tangannya tetap memegang selimut yang menutupi tubuh polosnya agar tidak melorot. Arnold pun melakukan hal yang sama.
"Aku menulis puisi itu saat sedang duduk sendirian di perpustakaan. Aku memikirkan tentang pernikahan kita. Di dunia ini begitu banyak artis yang kawin cerai. Aku bertanya, apakah artis yang akan kunikahi ini akan menua bersamaku ataukah dia akan melepaskanku ketika dia sudah bosan denganku? Aku terus bertanya sampai akhirnya aku menemukan jawabannya bahwa aku akan menjalani pernikahan ini denganmu tanpa ada keraguan. Karena cintaku padamu akan selamanya ada. Entahkah bagimu cinta ini akan selamanya atau tidak, namun aku selamanya untukmu. Itulah mengapa puisi ini kuberi judul forever." kata Fairy sambil menatap Arnold dengan sepenuh hati.
Arnold sangat terharu mendengar kata-kata Fairy. Tangannya menyentuh pipi gadis itu. Membelai sekaligus menghapus sebutir air mata yang lolos membasahi pipi mulus itu.
"Aku janji sayang. Kamu selamanya untukku. Cintaku selamanya untukmu. Kamu boleh pegang kata-kataku ini. Aku akan buktikan kalau aku bukan seperti artis atau selebritis yang lain. Aku akan menua bersamamu." Kata Arnold lalu menarik tubuh Fairy untuk kembali dipeluknya. Ia berulang kali mencium kepala gadis itu.
"I love you, my Fairy. Forever." Katanya lalu memiiringkan kepalanya sedikit, menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang panjang. Membuat Fairy memejamkan matanya. Tangannya memeluk Arnold dengan semua rasa cinta yang dimiliki.
__ADS_1
Arnold menarik selimut yang menutupi tubuh mereka sehingga kulit mereka saling besentuhan. Arnold kembali menyentuh istrinya dengan belaian lembut yang memabukan. Cinta dan juga napsu membara kembali di sore ini. Sekali lagi penyatuan itu terjadi dan menuju puncak kenikmatan bersama."
***********
Tangan Fairy dengan cekatan menyediakan semua menu makan malam yang sudah dia pastikan akan terlambat malam ini. Setelah percintaan mereka yang kedua kalinya, Arnold berhasil membujuknya untuk mandi bersama yang memakan waktu cukup lama.
"Sayang, apa yang bisa aku bantu?" Tanya Arnold yang baru selesai mengadakan panggilan videocall dengan Noah dan Susan menyangkut jadwal kerjanya.
"Duduklah. Makan malamnya sudah hampir selesai." kata Fairy membuat Arnold sadar bahwa ia dan kedua asistennya sudah menghabiskan waktu yang cukup lama untuk mendiskusikan pekerjaan mereka.
"Maaf ya aku tidak membantumu." kata Arnold sambil memeluk istrinya dari belakang.
"Kau akan membuatku lebih lama menyelesaikan ini jika terus memelukku, sayang." Kata Fairy mengingatkan.
Kali ini Arnold tak menolak, ia melepaskan istrinya dan menyiapkan alat-alat makan di atas meja.
Tak lama kemudian, Fairy sudah ayam kecap dan sayur capcae, juga nasi putih. Ada sup tahu dan tempe goreng.
"Enak." Kata Arnold setelah mencium aroma masakan itu.
"Makanlah sayang. Sejujurnya aku sangat lapar. Jadi jangan kaget ya kalau aku makannya banyak. Kau sudah menguras tenagaku." Kata Fairy membuat Arnold hanya tertawa.
Selesai makan malam dan membersihkan dapur bersama, keduanya duduk di ruang tamu sambil menikmati buah apel dan ninton TV.
"Sayang, bolehkah aku membuat puisi forever itu menjadi lagu? Itu akan menjadi lagu kita. Lagu itu akan selamanya menjadi lagu kesayanganku. Bolehkan?" Tanya Arnold sambil sesekali menikmati apel yang disuapi Fairy padanya.
"Aku takut nanti lagu itu nggak ada yang suka."
"Aku jamin akan banyak yang suka. Boleh ya? Akan kubuat alunan nada yang indah. Aku juga akan bekerja sama dengan Edward Kim untuk berkolaborasi."
Fairy mengangguk. "Baiklah. Terserah kamu saja. Yang pasti puisi itu memang adalah puisi faforitku."
"Itu akan menjadi lagu kita. Lagu tentang kita. Lagu tentang perjalanan cinta kita." Kata Arnold dengab mata yang berbinar karena perasaan cintabyang dirasakannya.
Ah...cinta memang indah...
jadi ingat waktu masih pacaran dulu dan awal-awal pernikahan...
__ADS_1
JANGAN LUPA DI LIKE, KOMEN DAN VOTE YA???