SONG IN MY LIFE

SONG IN MY LIFE
Putri Belinda Part 2


__ADS_3

Arnold masih menunggu di depan lorong menuju ke toilet. Entah kenapa ia begitu penasaran dengan putri Belinda.


Saat putri Belinda kembali dari toilet, ia tersenyum menatap Arnold.


"Toiletnya kosong. Boleh masuk!" Belinda mengira kalau Arnold akan ke toilet.


"Eh, tidak. Aku tidak akan ke toilet."


"Lalu, kenapa berdiri di sini?" tanya Belinda heran.


"Ingin berbicara dengan kamu saja."


Belinda terkejut. Sesaat kemudian ia tersenyum sedikit mengejek. "Yang aku dengar Arnold Manola itu adalah penyanyi yang sopan dan tidak suka menggombal."


"Baguslah kalau kau sudah tahu tentang aku. Sehingga keinginanku untuk berbicara denganmu bukan sesuatu yang dianggap menggombal."


"Memangnya ingin bicara apa?"


"Matamu mengingatkanku pada seseorang."


Belinda tertawa. "Sudah ku duga. Kau akan bilang ada sesuatu dalam diriku, mengingatkanmu pada seseorang."


"Tapi itu benar."


"Maaf ya Arnold Manola, aku tidak tertarik. Bye..." Belinda langsung melangkah meninggalkan Arnold.


"Cih, sombong sekali dia. Bahkan kesannya kurang ramah dengan statusnya sebagai putri bangsawan." guman Arnold. Ia jadi ingat pertemuan pertamanya dengan Fairy. Di toilet bandara. Suatu pertemuan yang biasa namun membawa kesan yang luar biasa karena kepolosan gadis itu.


"Ah, sayang. Aku jadi merindukanmu lagi." batin Arnold. Ia melangkah kembali ke ruang tamu. Menatap 2 perempuan Indonesia yang sedang asyik berbincang sambil memegang perut mereka masing-masing. Maura, istrinya Ben dan Faith, istrinya Ezekiel. Andai saja Fairy masih hidup. Pasti akan sangat menyenangkan melihat ada 3 wanita Indonesia duduk bersama dalam keadaan hamil.


Hati Arnold selalu sakit mendengar kata hamil. Andai saja dulu dia tak menolaknya dan mempertahankan kehamilan itu, pasti Fairy akan tetap di sini


Pasti anak mereka sudah besar. Dan pasti....ah...., Arnold menggelengkan kepalanya. Menyesal di belakang memang tak akan ada gunanya. Takdir telah memutuskan semua harapan Arnold untuk memperbaiki semua kesalahannya.


"Uncle Arnold!"


Arnold menoleh. Caleb, putra sepupunya Ezekiel mendekat. "Yes, Caleb."


"Help me please!"


"What can i do for you?"


"I want to pee."


Arnold tertawa. Ia tak pernah membantu anak kecil buang air. Namun ia meraih tangan Caleb dan membawanya ke toilet. Ternyata Caleb anak yang pintar. Ia sudah bisa membuka celananya sendiri.


Andai aku tak menolak anak itu, apakah dia akan setampan Caleb? Ataukah dia akan secantik Chloe? Ah, Tuhan, andai waktu dapat ku putar kembali.


"Uncle, aku sudah selesai." Kata Caleb sambil menyentuh tangan Arnold.


"Ya, sayang, mari kita pergi!" Arnold menggengam tangan Caleb lalu keluar dari toilet.


Ruang tamu sudah mulai sepi. Beberapa tamu masih duduk sambil bercakap-cakap dengan Ezekiel dan Rachel. Dan diantara semua tamu yang masih tinggal, ada putri Belinda dan tunangannya pangeran Robert Vensen.


Arnold mendekati mereka.


"Ini sepupuku, Arnold Manola." Ezekiel memperkenalkan.


Robert tersenyum. "Semua orang pasti mengenalmu Arnold. Aku juga suka dengan lagu-lagumu." Robert menjabat tangan Arnold.


"Terima kasih."

__ADS_1


"Dan ini tunanganku Belinda." Robert memperkenalkan mereka.


"Belinda."


"Arnold."


"Tunanganku ini tidak terlalu suka dengan musik. Ia lebih tertarik kalau bicara tentang kegiatan sosialnya." kata Robert sambil memeluk bahu Belinda.


Yang lain langsung tertawa.


Sangat berbeda dengan Fairyku yang sangat suka mendengarkan musik. Batin Arnold.


Mata Arnold dan Belinda bertemu. Namun Belinda buru-buru memalingkannya. Ia menggandeng lengan Robert.


"Sayang, apakah kita sudah bisa pulang?" Tanya Belinda pada Robert.


"Ya. Kami permisi dulu ya.." pamit Robert. Belinda menunduk hormat lalu segera melangkah bersama tunangannya.


"Ar, putri Belinda hendak membuka cabang yayasan Holly Love di London ini. Kamu mau menjadi salah satu pendonornya kan?" Tanya Ezekiel.


"Jadi pengurusnya juga aku mau."


"Baguslah. Berarti kau yang akan mewakili perusahaan kita. Nona Belinda sendiri yang akan memimpin yayasan karena setelah menikah dengan Robert, mereka akan menetap di sini."


"Jadi putri Belinda belum akan kembali ke Belanda?" Tanya Arnold penasaran.


"Belum."


Arnold tersenyum senang.


*********


Arnold mengetik nama Belinda Van Molten di kolom pencarian. Dan munculah berbagai berita tentang putri ini. Ternyata ia sangat aktif di dunia maya. Akun media sosialnya diikuti oleh ratusan ribu followers.


"Gadis yang menarik. Sayangnya dia sudah punya tunangan. Bentuk matanya itu sangat sama dengan mata Fairyku. Sayangnya, kalau tatapan mata Fairy begitu meneduhkan namun tatapan mata Belinda sedikit tak ramah bagiku."


Arnold melepaskan hp nya. Ia menatap foto pernikahannya bersama Fairy. Foto berukuran jumbo ini diminta Arnold untuk dibuat lagi oleh Ben.


Arnold menarunya di kamar apartemennya dan kamar yang ada di mansionnya. Agar di manapun ia tidur, ia akan mengingat hari bahagia itu.


Di tatapnya mata Fairy yang nampak bersinar penuh kebahagian sambil menggandeng tangan Arnold.


"Sayang, ada seseorang yang wajahnya sedikit mirip denganmu. Namun badannya lebih tinggi dan berisi. Eh, jangan marah ya, tubuhmu mungkin lebih kecil darinya namun tetap terlihat seksi di mataku. Aku hanya mau bilang kalau ada sesuatu dalam dirinya yang membuat aku tertarik. Apakah kamu tak marah jika aku bilang kalau aku merasa suka padanya walaupun ia sedikit agak judes?" Arnold menatap foto Fairy sambil tersenyum. Ia seolah sedang meminta ijin untuk mendekati gadis lagi. Setelah 5 tahun kepergian Fairy, ini kali pertama Arnold merasa tertantang untuk mengenal gadis lain.


Setelah puas menatap foto pernikahan mereka, Arnold membaringkan tubuhnya. Saat ia memejamkan matanya, ia justru membayangkan wajah putri Belinda.


*********


Arnold diminta untuk menjadi juri pencarian bakat penyanyi cilik. Arnold awalnya tak tertarik namun saat tahu kalau salah satu sponsornya adalah perusahaan The Thomson company, Arnold pun menerimanya.


Anak - anak mulai usia 4-12 tahun, beradu kemampuan untuk menunjukan bakat di dunia tarik suara.


Hari ini ada audisi hari keempat. Sejak jam 10 pagi, audisi di mulai. Sampai akhirnya masuklah seorang anak laki-laki yang masih sangat muda. Arnold langsung tertarik melihat anak itu. Ia bahkan merasa pernah melihatnya.


"Hallo, what is your name?" tanya Arnold gemas melihat betapa gantengnya anak lelaki itu.


"My nama is Mike."


"Just Mike?"


"My name is Mike Manola." jawab anak itu dengan senyum manisnya.

__ADS_1


Semua juri bahkan penonton yang ada di sana langsung tertawa mendengarnya.


"Waw....seriously?" Arnold jadi penasaran.


"Yes."


"Does your father have a surname like me?"


"No."


Tawa kembali terdengar.


"Mengapa kamu menyebut namamu Mike Manola kalau itu bukan nama belakangmu?" Tanya Arnold semakin gemas dengan tingkah anak ini.


"Karena aku pikir jika aku dewasa nanti maka aku akan sama gantengnya seperti dirimu." Kata Mike penuh percaya diri.


"Oh..karena itukah kau menyebut dirimu Mike Manola. Apakah ayahmu tak akan marah?"


"Ayahku sudah meninggal." Mike menunduk sedih.


"Oh...sayang...!" Arnold langsung keluar dari tempat duduknya. Ia naik ke panggung dan mendekati Mike. Ia berjongkok di depan Mike untuk mengsejajarkan tingginya walaupun Mike tetap saja terlihat pendek.


"Maaf ya jika aku membuatmu sedih."


Mike tersenyum. "It's ok, uncle Arnold. Aku pikir ayahku takan marah jika aku menyebut namaku Mike Manola karena kamu memang ganteng."


"Oh....!" wajah Arnold langsung memerah. Di peluknya Mike dengan perasaan senang. Mike adalah satu-satunya peserta yang paling kecil hari ini.


"Berapa usiamu, sayang?"


"4 tahun 6 bulan."


"Ok. What song do you want to sing?"


"Your song. Forever."


"Kau menyukai laguku itu?"


"Tidak juga."


Arnold terkekeh." Kalau tidak suka, mengapa kau mau menyanyikannya?"


"Karena lagu itu yang selalu dinyanyikan oleh ibuku semenjak aku kecil."


"Oh ya?"


"Aku pikir kalau ibuku mencintaimu."


"Benarkah? Lalu di mana ibumu? Apakah dia datang bersamamu hari ini?"


Mike mengangguk.


"Maukah kau memanggilnya untuk naik ke atas sini?"


"Ok. Mom, come here..!"


Dari arah sayap panggung Arnold melihat seorang perempuan bertubuh mungil dan berambut panjang sedang melangkah ke arah panggung utama. Karena penerangan di sana kurang jelas, makanya wajah perempuan itu kurang jelas kelihatan dari tempat Arnold berdiri. Jantung Arnold berdetak sangat keras saat wajah perempuan itu semakin dekat.


Who is she???


Jangan lupa dukung aku ya?

__ADS_1


Like, komen dan vote me. Makasi sebelumnya.


__ADS_2