
Kelasnya pak Thomas baru saja selesai. Dosen ganteng yang selalu terlihat sangat berwibawa itu menahan langkah Fairy saat gadis itu hendak keluar dari kelas.
"Fairy....!" Panggil Thomas.
Fairy menghentikan langkahnya. Hari ini memang ia hadir sendiri tanpa Cassie sebab temannya itu sedang pulang ke rumahnya.
"Ada apa, Thomas?" Tanya Fairy sambil mendekat.
"Ini." Thomas menyodorkan sebuah amplop berwarna coklat.
"Apa ini?" Tanya Fairy lalu membukanya. Ia terkejut melihat ada uang yang cukup banyak di dalamnya.
"Ini...." Fairy sengaja mengangtungkan kalimatnya lali menatap Thomas.
"Untukmu. Aku tak tahu nomor rekeningmu jadi aku memberikannya secara tunai. Itu pembayaranmu karena sudah menjadi moderator di beberapa seminarku."
"Oh....aku pikir, kau tak perlu membayarku. Aku melakukannya dengan senang hati karena aku banyak belajar dari setiap materi seminarmu."
"Aku puas dengan kerjamu. Lagi pula kau mahasiswa yang jauh dari negaramu. Kau pasti membutuhkan untuk keperluanmu sehari-hari." Thomas mengacak rambut Fairy lalu segera meninggalkan kelas.
Fairy menatap amplop itu. Thomas menganggapku sebagai mahasiswa miskin yang membutuhkan banyak uang. Pada hal saat ini aku punya segalanya karena menjadi istri Arnold Manola. Arnold bukan hanya memberikan aku kartu kredit yang unlimited, ia bahkan membukakan rekening atas namaku dan memberikan uang bulanan yang jumlahnya sering membuat aku hampir pingsan melihatnya.
Fairy memasukan amplop itu ke dalam tasnya. Lalu segera melangkah meninggalkan kelas. Hpnya berbunyi.
"Hallo sayang...!" Sapa Fairy saat melihat kalau Arnold yang menghubunginya.
"Sudah selesai jam kuliahnya?"
"Iya. Aku sekarang sedang menuju ke tempat parkir untuk mencari Rio. Kau ada di mana?"
"Di kamar. Sedang merindukanmu."
"Cih, siang-siang jadi genit."
Arnold tertawa. "Sampai ketemu di rumah, ya?"
Fairy memasukan hpnya lagi ke dalam tas. Ia melangkah mencari Rio bukan di tempat parkir yang
biasanya. Fairy memang selalu meminta Rio memarkir mobilnya di tempat sepi.
Akhirnya Fairy melihat mobil merah itu. Sebelum mendekati mobil, Fairy harus memperhatikan keadaan sekeliling apakah aman dari tatapan wajah-wajah yang suka mencampuri urusan orang lain.
Setelah dirasa aman, Fairy langsung membuka pintu belakang dan masuk ke dalamnya.
"Langsung ke rumah, paman." Kata Fairy.
"Baik, nona cantikku."
Fairy terkejut. Rio tak pernah berkata yang tidak sopan padanya. Lagi pula, ini bukan suaranya Rio.
Dengan kesal, Fairy membuka topi orang yang duduk di balik kemudi.
"Arnold...!" Pekiknya kesal lalu menepuk bahu Arnold dengan gemas.
Arnold tertawa terpingkal-pingkal. "Hallo sayang."
"Kamu ngapain ke sini? Mau dikejar-kejar fansmu?"
Arnold menoleh ke belakang."Sayang, aku bosan di rumah. Makanya aku minta paman Rio untuk membawa mobilnya karena aku ingin menjemputmu. Ayo pindah ke depan."
Fairy menurut. Ia langsung duduk di samping Arnold. Mobil pun secara perlahan meninggalkan kompleks kampus.
"Ar, kita akan kemana? Ini kan bukan jalan menuju ke fairy garden." Tanya Fairy saat melihat mobil justru berbelok ke arah lain.
"Aku ingin mengantarmu belanja beberapa baju karena kita akan pergi ke luar negeri."
"Ke luar negeri?"
"Ya. Aku lihat ada libur nasional selama 3 hari karena ada perayaan Kerajaan. Jadi kita akan pergi ke suatu tempat sambil merayakan ulang tahunmu."
__ADS_1
"Ulang tahunku?"
"Ya. 2 hari lagi kamu ulang tahun kan?"
"Memangnya kita mau kemana?"
"Rahasia."
"Cih, pakai rahasia segala." Fairy nampak cemberut.
"Aku yakin kamu akan suka." Kata Arnold sambil memegang tangan Fairy. Tak lama kemudian, mobil memasuki halaman sebuah mall.
"Ar, kita akan belanja berdua? Bisa heboh kota London."
Arnold tertawa. "Kamu pergilah. Aku tunggu di mobil saja. Beli baju yang membuatmu nyaman. Karena sekarangkan sedang musim panas. Tapi ingat jangan yang seksi. Aku nggak suka."
"Baik tuan...!" Ujar Fairy lalu segera mengambil dompetnya dan meninggalkan tas dukungnya di dalam mobil. Ia segera memasuki mall.
Fairy hanya memasuki 1 toko saja karena sebenarnya ia tak tahu harus belanja apa. Pakaiannya masih banyak dilemari yang belum dia pakai. Ia membeli 2 celana jeans dan 1 celana pendek, 2 kaos dan 2 kemeja. Mata Fairy memandang kaos couple yang digantung di pajangan. Ia jadi ingin membelinya. Ia pun membayar belanjaannya dan sangat terkejut dengan jumlah belanjaannya.
Kalau di Jakarta, dengan uang sebanyak ini, aku bisa membeli baju untuk orang-orang sekompleks jika belanja di tanah Abang.
Saat ia kembali ke tempat parkir, Arnold terkejut melihat Fairy yang sudah selesai belanja.
"Sudah selesai?"
"Iya. Ngapain juga harus lama-lama. Oh ya, aku membeli kaos couple untuk kita berdua. Lihatlah." Fairy mengeluarkan belanjaannya.
Arnold merasa sangat senang karena Fairy mau membelikan sesuatu untuknya. "Sayang, terima kasih ya. Aku tak menyangka akan sesenang ini rasanya dibelikan baju yang sama denganmu."
Cup.
Satu kecupan manis Arnold berikan dipipi istrinya itu. Fairy hanya tersenyum malu. "Ayo kita pulang!" Ujar Fairy.
Arnold menjalankan mobilnya, meninggalkan pelataran parkir mall yang semakin ramai.
"Sayang, uang apa yang ada di dalam tasmu itu?" Tanya Arnold.
"Mengapa dia memberikan kamu uang?" Tanya Arnold. Suaranya terdengar sedikit kesal.
"Karena aku menjadi moderator di beberapa seminar yang dipimpinnya."
"Berikut tak boleh lagi menjadi moderatornya. Aku tak suka ada laki-laki lain yang memberikan kamu uang. Lagi pula jumlahnya itu cukup banyak untuk gaji seorang moderator."
"Mungkin karena pak Thomas berpikir kalau aku mahasiswa biasa yang memang membutuhkan uang lebih untuk bisa hidup di London ini."
Wajah Arnold masih cemberut. Fairy menyentuh pipi suaminya. "Jangan cemburu ya. Dan jangan cemberut. Kamu jadi tidak menarik."
"Siapa bilang? Suamimu ini tampan."
"Di mata cewek lain mungkin. Kalau di mataku, jika wajahmu cemberut begini maka tidak enak dilihat. Aku jadi suka melihat wajah pak Thomas atau tuan Alex."
Arnold menginjak rem mobil secara mendadak. Ia menatap Fairy dengan tajam. "Jadi Thomas dan Alex lebih tampan dari aku?"
"Ya. Apalagi sekarang. Wajahmu benar-benar tak enak untuk dilihat."
Arnold menarik napas panjang. Tak lama kemudian ia tersenyum. "Bagaimana?"
Fairy menahan tawanya. "Kayaknya masih jelek."
"Bagaimana kalau begini?" Senyum Arnold semakin lebar.
Fairy tak dapat menahan tawanya. Ia langsung mencium bibir suaminya dengan gemas. "Kau tampan sayang. Sangat tampan. Aku tak bisa menatap cowok lain lagi karena sudah memilikimu yang begitu memesona."
"Kau sudah pintar merayu."
"Aku belajar darimu, sayang."
Keduanya tertawa bersama-sama. Tiba-tiba suara bunyi klakson mobil mengangetkan mereka. Ternyata karena Arnold berhenti mendadak sehingga terjadi antrian panjang di belakang mobil mereka. Arnold segera menginjak gas mobilnya sebelum orang-orang bertambah marah.
__ADS_1
************
Akhirnya, hari yang dinantikan itu pun tiba. Fairy naik ke pesawat pribadi Arnold tanpa tahu kemana arah tujuan mereka. Di dalam pesawat, Fairy memilih untuk tidur saja karena tak ingin para kru pesawat akan tahu keberadaan dirinya sebagai istri Arnold.
Noah dan Susan pun hanya geleng-geleng kepala melihat Arnold dan Fairy terlihat saling cuek. Fairy bertindak sebagai salah satu asisten Arnold saja.
Setelah melalui perjalanan yang panjang, mereka akhirnya mendarat.
"Ar, ini dimana?" Tanya Fairy sambil matanya memandang tulisan-tulisan yang ada. Hari sudah malam saat mereka tiba.
Tak lama kemudian Fairy terkejut.
"Ini bandar udara internasional Incheon? Ini di Korea?" Pekik Fairy tanpa bisa menahan rasa gembiranya. Walaupun suasana tampak sunyi karena waktu sudah menunjukan tengah malam, namun dari lampu-lampu yang menyala, Fairy mengetahuinya.
"Ya sayang. Aku akan menerima penghargaan di sini. Sekalian saja aku mengajakmu ke sini." Kata Arnold membuat menatap suaminya itu dengan penuh kasih.
"I love you!" bisik Fairy. Ia takut pramugarinya akan mendengar.
Sebuah mobil sedan hitam sudah menunggu mereka di bandara. Noah langsung turun, memasukan beberapa koper yang mereka bawa lalu segera membuka pintu belakang untuk Arnold dan Fairy, sementara Noah dan susan duduk di depan, dengan Noah yang membawa kendaraan itu.
Saat mobil meninggalkan bandara, Arnold langsung menarik tubuh Fairy untuk dipeluknya.
"Kau suka?" Tanya Arnold.
Fairy mengangguk dalam pelukan suaminya.
"Kau akan menonton konser oppa Koreamu di sini." Kata Arnold sambil menyebutkan nama-nama grup musik kesayangan Fairy itu.
"Benarkah? Aku sungguh tak sabar menunggunya."
Arnold mencium kepala Fairy. Ia tahu istrinya ini akan senang dengan liburannya kali ini.
30 menit kemudian, mobil yang dibawa Noah memasuki kawasan pegunungan dan berhenti di salah satu villa yang letaknya paling ujung. Villa itu terbuat dari rumah kayu yang sangat indah.
Saat mereka turun dari mobil,
Byur....Byur...
Fairy terkejut melihat kembang api yang tiba-tiba memenuhi langit tengah malam di Seoul.
Dari dalam villa muncul Edward Kim dengan seorang perempuan yang memegang kue ulang tahun dengan lilin angka 19 yang menyala. Di dinding villa, lampu-lampu hias menyala membentuk tulisan HAPPY BIRTDAY MY WIFE.
"Ar, ini indah." Kata Fairy dengan mata yang berkaca-kaca.
"Selamat ulang tahun sayang." Kata Arnold lalu memeluk istrinya. Keduanya lalu berciuman. Seakan tak peduli dengan empat pasang mata yang sedang tersenyum memandang mereka.
Fairy kemudian meniup lilin ulang tahunnya. Ia berterima kasih kepada Edward Kim dan pacarnya Jesica yang sudah membantu Arnold untuk menyiapkan kejutan kecil bagi Fairy.
*********
Hari sudah beranjak subuh. Jam dinding sudah menunjukan pukul setengah tiga subuh. Namun di kamar Villa itu, Arnold dan Fairy baru saja menuntaskan aktifitas mereka yang menghadirkan kenikmatan raga dalam penyatuan penuh rasa kasih sebagai suami dan istri.
"Kau lelah?" Tanya Arnold sambil menyeka keringat yang ada di dahi istrinya. Keduanya saling berhadapan dan saling bertatapan penuh rasa sayang.
"Sedikit." Jawab Fairy lalu lebih mendekat ke arah tubuh suaminya. Ia menyandarkan kepalanya di dada bidang Arnold sambil memejamkan matanya.
"Tidurlah." Kata Arnold. Tangannya membelai rambut istrinya lalu memberikan ciuman ringan di sana.
"Sayang, terima kasih untuk liburan ke Korea. Ini menjadi hadiah ulang tahun terindah bagiku." Kata Fairy pelan tanpa membuka matanya.
"Aku akan melakukan apa saja agar kau bahagia."
"Aku mencintaimu, suamiku."
"Aku juga mencintaimu, istriku. Aku selalu memohon pada Tuhan, agar jangan memisahkan kita. Aku ingin melewati perjalanan hidup yang panjang dan menjadi tua bersamamu."
"Aku juga, Ar." Kata Fairy pelan. Suaranya sudah agak berat karena rasa mengantuk yang tak bisa ditahannya lagi.
Bagaimana liburan mereka di Korea???
__ADS_1
Tunggulah terus kisah ini ya....
jangan lupa Like, komen dan Vote