
Air mata Rachel jatuh melihat keadaan Arnold seperti mayat hidup. Matanya menatap kosong ke depan, wajahnya pucat, dan bibirnya kering. Arnold bahkan tak perduli dengan wajahnya yang mulai brewokan. Ia hanya bersandar di kepala ranjang. Dokter Albert bahkan sudah datang dan memberikan asupan makanan lewat selang infus.
Sejak berita jatuhnya pesawat yang ditumpangi Fairy, Arnold sama sekali tak mau makan. Tubuhnya melemah. Rachel dan Ezekiel sepakat membawa Arnold ke kediaman kel. Thomson karena hanya di rumah inilah, kenangan Arnold bersama Fairy tak ada. Terhitung sudah 5 hari Arnold seperti ini.
Noah segera menghubungi pihak promotor dan penyelenggara tour keliling dunia Arnold untuk menunda semua konser untuk waktu yang tidak bisa ditentukan.
Baik Noah maupun Susan, disediakan kamar di mansion ini sehingga lebih mudah menyiapkan keperluan Arnold.
Pintu kamar terbuka. Joe dan Ezekiel masuk. Keduanya baru saja dari lokasi tempat penampungan puing-puing pesawat dan barang-barang penumpang yang masih bisa ditemukan. Tempat jatuhnya pesawat di kedalaman laut yang sangat dalam sehingga tim SAR sangat kesulitan dalam pencarian. Belum lagi laut yang sangat dingin karena adanya gunung es.
"Adakah sesuatu yang bisa ditemukan sebagai petunjuk keberadaan Fairy di pesawat itu?" Tanya Arnold dengan sangat lemah.
"Mereka tak mengijinkan kami membawanya karena kami tak ada hubungannya dengan Fairy. Hanya keluarganya yang bisa membawa barang-barang milik korban. Jadi kami hanya bisa mengambil gambar. Ini koper yang didorong Fairy saat ia di bandara seperti yang kita lihat di CCTV." Joe membuka tabletnya di depan Arnold. Menunjukan foto koper berwarna ungu itu.
"Ya. Aku tahu koper ini. Aku yang membelinya." Kata Arnold menahan sesak di dadanya.
"Koper ini masih utuh. Kami juga diijinkan untuk membuka kopernya dan melihat isinya. Dan ini adalah isi kopernya. Ada beberapa baju dan sebuah buku biru di dalamnya. Untungnya saat petugas itu lengah, aku dan Ezekiel berhasil mencuri buku biru itu. Ini!" Joe menyodorkan sebuah buku biru yang sudah sedikit rusak karena terkena air.
Air mata Arnold langsung jatuh. Ia mengenal buku biru itu. Tangannya bergetar saat membuka halaman buku itu. lembar demi lembar, tulisan yang sangat dikenalnya. Walaupun sedikit kotor karena tinta yang merembes karena terkena air. Namun beberapa bagiannya tidak basah. Termasuk puisi Forever yang dijadikan lagu oleh Arnold.
"Bukti ini sudah cukup kuat untuk menunjukan kalau Fairyku ada di sana. Dia ada didalam pesawat itu." Arnold mendekap buku puisi itu. Hatinya kembali hancur.
"Ar....!" Rachel menyentuh bahu Arnold.
"Aku bahkan tak diijinkan untuk melihat mayatnya. Aku bahkan tak diijinkan untuk menguburkan jasadnya. Sebegitu sadiskah perpisahan yang terjadi diantara kami?" ucap Arnold diantara isak tangisnya. Lelaki tampan yang selalu terlihat tegar dan bersahaja itu, kini terlihat rapuh dan tak berdaya.
"Kalau memang Fairy sudah pergi, apa gunanya aku hidup? Bukankah sebaiknya aku pergi bersamanya dalam keabadian?"
"Tidak..!" Seru Ezekiel dan Rachel secara bersama. Keduanya memeluk Arnold. Satu di sisi kiri dan satu di sisi kanan.
"Jangan bicara seperti ini, Ar. Aku yakin kalau semua ini adalah ujian hidup. Fairy juga tak akan tenang melihat kau seperti ini. Aku tahu Fairy pergi dengan suatu alasan ingin melihatmu bahagia. Dia juga kan tidak pernah menyangka kalau akan ada di pesawat naas itu. Aku mohon Ar, jangan kau sampai putus asa. Aku akan menemanimu. Aku akan bersamamu." Tangis Rachel sambil memeluk sepupunya itu dengan erat.
"Bos, jangan menyerah!" Kata Susan. Ia dan Noah sudah ada di kamar itu sejak Ezekiel dan Joe sampai.
"Aku tahu kalau kamu akan mampu melewati semua ini, Arnold. Aku yakin kau akan kuat seperti saat papa dan mamamu meninggal." Ezekiel menepuk bahu sepupunya untuk memberi kekuatan kepadanya.
__ADS_1
"Aku mau ke Indonesia." Kata Arnold akhirnya.
"Untuk apa?" tanya Rachel bingung.
"Aku mau menemui nenek Anna."
***********
Jakarta 1 minggu kemudian....
Mobil yang membawa Arnold, Rachel, Joe, dan Ezekiel, sudah berhenti di depan sebuah rumah sederhana yang nampak asri karena banyaknya bunga yang ada di halaman rumah itu. Di depan rumah itu dipasang bendera berwarna kuning.
"Bendera kuning itu adalah tanda ada duka di rumah ini. Ini kebiasaan orang Indonesia." Kata Joe menjelaskan.
Hati Arnold kembali sakit mendengar hal itu. Berarti nenek Anna sudah mengetahui kematian Fairy.
Saat mereka tiba di depan pintu, terlihat seorang wanita bule yang sudah tua tapi masih memperlihatkan kecantikannya. Ia sedang berdiri sambil menatap beberapa foto di dinding. Sesekali tangannya mengusap air matanya yang jatuh.
"Selamat sore!"
"Kalian siapa?" Tanyanya bingung.
"Kami teman-teman Fairy." Kata Rachel melihat Arnold masih berdiri sambil menatap foto-foto Fairy yang ada di dinding rumah itu.
Mata tua itu menangis lagi. Ia menatap mereka dengan wajah sedihnya. "Mari, silahkan masuk!"
Mereka masuk dan duduk di sofa coklat yang ada di ruang tamu itu.
"Kalian dari Inggris?" tanya nenek Anna.
"Ya." Jawab mereka bertiga bareng hanya Arnold saja yang masih terpaku menatap foto-foto Fairy.
"Kau, Arnold Manola?" tanya Nenek Anna.
Arnold mengangguk.
__ADS_1
"Kau suami cucuku?"
Arnold terkejut. Apakah nenek Anna sudah tahu?
"Aku tahu!" kata Nenek Anna seakan dapat membaca isi hati Arnold. "Dua hari sebelum kecelakaan pesawat itu Fairy berterus terang padaku tentang pernikahan kalian. Terima kasih sudah menjaga dan mencintai cucuku selama ini. Walaupun sebenarnya aku kecewa karena dia menikah tanpa memberitahukannya padaku. Aku kecewa karena ia menikah sebelum kuliahnya selesai. Tapi cucuku bilang, dia bahagia karena kau sangat mencintainya."
Arnold langsung bersujud di hadapan nenek Anna. Ia berlutut sambil memegang kedua tangan nenek Anna.
"Ampuni aku, nek. Aku yang memaksa Fairy agar menerima lamaranku. Dia memang sebenarnya bimbang untuk menikah. Tapi akhirnya dia setuju walaupun dia merasa bersalah padamu, nek. Tapi, Fairy tak melanggar janjinya. Ia tetap virgin sampai di hari pernikahan kami." Kata Arnold sambil meletakan kepalanya dipangkuan nenek Anna.
Tangan tua itu membelai kepala Arnold dengan lembut. Air matanya terus berlinang. "Anakku, jangan sesali semua yang telah terjadi. Aku memaafkanmu. Aku memaafkan Fairy. Satu permohonanku, jalanilah hidupmu dengan penuh pengharapan. Jangan larut dalam kesedihan. Karena jika kau putus asa, aku yakin arwah cucuku tak akan pernah tenang di atas sana."
Arnold terus menangis dipangkuan nenek Anna. Andai saja ia dan Fairy saat itu mau datang pada nenek Anna sebelum pernikahan itu, pasti semuanya tak akan seperti ini. Sekalipun nenek Anna akan marah tapi Arnold yakin, nenek Anna akan setuju dengan pernikahan mereka.
********
Sepulang dari Jakarta, Arnold berkunjung ke lokasi jatuhnya pesawat naas itu. Ia naik kapal laut bersama Rachel, Ezekiel, Joe, Noah dan Susan, Willy dan Cassie.
Pencarian mayat sudah dihentikan karena tak ada satupun mayat yang ditemukan utuh. Lagi pula para penyelam mengalami kesulitan karena beratnya medan dan dinginnya air. Semua keluarga korban mendapatkan asuransi kecelakaan. Joe yang membantu mengurus agar nenek Anna menerima asuransi itu. Karena nenek Anna menolak semua bantuan Arnold secara materi. Arnold berharap dengan uang asuransi kecelakaan itu, dapat membantu kehidupan nenek Anna.
Saat kapal berhenti di lokasi jatuhnya pesawat, Arnold berdiri di buritan kapal sambil berpegang pada besi pembatas. Matanya menatap ke kedalaman air laut. Sementara yang lain membiarkan Arnold sendiri.
"Istriku, sangat berat rasanya kau harus meninggalkan aku dengan cara seperti ini. Kau tahu hatiku sangat sakit, aku ingin mati rasanya. Namun nenek Anna menguatkan aku untuk sabar dan menerima semua ini dengan ikhlas. Aku berjanji padamu, kisah cinta kita akan abadi selamanya. Aku tak akan pernah mencintai wanita lain seperti aku mencintaimu. Maafkan atas keegoisanku yang ingin memaksamu untuk melupakan mimpimu agar bisa bersama mimpiku. Kalau aku tahu ini semua akan membuatmu naik pesawat naas itu, aku pasti akan mendukungmu untuk terus bekerja dan melanjutkan studi S2 di London." Tangis Arnold pecah. Ia menunduk, menyandarkan dahinya di pagar pembatas itu. Agak lama ia menangis, sampai akhirnya Rachel mendekat dan memberikan sebuah keranjang berisi bunga. Di belakang Rachel sudah ada yang lain.
"Ar, ayo tabur bunganya dan ucapkan selamat jalan pada istrimu." Kata Rachel.
Arnold mengambil keranjang bunga itu. "Selamat jalan istriku, selamat jalan belahan jiwaku. Tenanglah kau dalam keabadian. Kau akan selalu hidup dalam memoriku. Dalam kenangan di sepanjang hidupku. Sampai akhirnya aku harus menutup mata dan berjumpa lagi denganmu." Arnold menabur bunga itu di atas air laut. Yang lain pun segera mengikuti Arnold menabur bunga. Tak ada suara di sana, hanya tangisan Cassie yang terdengar dan suara gemuruh angin pantai yang dingin.
Selesai menabur bunga, mereka kembali ke London.
"Noah, hubungi semua pihak penyelenggara konser. Tour keliling duniaku akan dilaksanakan seperti jadwal semula." Kata Arnold. Tangannya memegang cincin pernikahan mereka berdua yang dijadikan liontin pada kalungnya. Arnold ingin melanjutkan hidupnya sekalipun hampa rasanya tanpa ada Fairy lagi.
Maaf ya kalau banyak typo. Capek banget hari ini...
Jangan lupa Like, komen dan vote ya
__ADS_1