
Setelah drama pertengkaran yang berakhir manis dengan kencan di tepi sungai, Fairy mulai belajar memahami bagaimana sebenarnya suatu hubungan pertunangan itu. Ia sama sekali tak punya pengalaman pacaran dengan orang lain. Ia juga malas mendengarkan curhatan teman-temannya mengenai masalah percintaan mereka. Fairy hanya biasa menonton drama Korea, yang ternyata antara film dan dunia nyata kadang tak sama.
Arnold pun belajar memahami bahwa sekalipun ia tergila-gila bahkan ingin setiap saat bersama dengan gadis itu, tapi ia harus belajar memendam rasanya itu. Fairy bukanlah gadis yang hanya memikirkan hubungan percintaan saja. Dia adalah gadis yang memegang teguh prinsip hidupnya. Dan itu yang membuat Arnold semakin cinta padanya. Fairy sama sekali tak menunjukan ketertarikan pada ketampanan, nama besar bahkan ketenaran yang Arnold miliki. Dan itu yang justru membuat Arnold merasa takut saat gadisnya itu dekat dengan pria lain. Arnold begitu takut kehilangan Fairy.
"Bos...., bagaimana dengan tawaran duet dengan Thalia?" tanya Noah saat mereka sedang berada di ruang studio Arnold siang ini.
"Thalia penyanyi latin itu?" tanya Arnold tanpa mengalihkan pandangannya dari layar lapotopnya.
"Iya. Dia memenangkan gramy awards sebagai penyanyi Latin terbaik selama 3 tahun berturut-turut. Pada hal usianya sama seperti bos. 25 tahun."
"Tapi materi lagunya sesuai dengan yang aku usulkan. Kalau terlalu ke gaya Latin, aku nggak suka"
Noah mengangguk. "Thalia sudah setuju."
"Baiklah. Atur jadwal latihan dan rekamannya satu minggu sesudah pernikahanku" kata Arnold lalu menutup laptopnya. Ia baru saja mengirim lagu terbarunya kepada Edward Kim agar cowok itu bisa mengubahnya untuk dipakai di hari pernikahannya.
Arnold sangat percaya pada Edward. Sebab Edward bukanlah musisi yang suka mencampuri urusan orang lain dan sudah pasti ia akan menjaga rahasia pernikahan Arnold dan Fairy.
Noah mencatat semua yang sudah Arnold sampaikan.
Susan masuk ke dalam studio sambil membawa bebarapa pasang sepatu.
"Bos, ini contoh sepatu yang dikirimkan oleh nona Rachel dari beberapa brand sepatu terkenal"
Arnold menatap beberapa model sepatu itu. "Bawa itu ke Fairy garden. Malam ini aku akan mengajak gadisku ke sana dan memilihnya."
"Menurut jadwal, nona Fairy hari ini mulai bekerja di perusahaan itu" kata Noah mengingatkan.
"Kau sudah menemukan profil presiden direkturnya?"
Noah meletakan tabletnya di depan Arnold. Seraut wajah tampan dengan gaya karismatik langsung membuat Arnold terpana. Alex Barlen, usianya 25 tahun, pewaris tunggal A&B corporation. Masih bujang alias belum menikah.
Sial...! Kenapa juga Fairy harus kerja di sana. Kan banyak perusahaan lain tempatnya untuk belajar. salah satu perusahaan Ezekiel kan bisa. Ah, aku tak sabar menunggu Sabtu depan. Aku ingin segera memilikinya sehingga orang lain tak bisa mengambilnya dariku.
"Bos....hp nya berbunyi!" perkataan Noah membuyarkan lamunan Arnold.
Wajah Arnold langsung tersenyum melihat siapa yang menghubunginya melalui panggilan Videocall.
"Hallo sayang...!" Sapa Arnold sambil melambaikan tangannya pada Fairy.
Noah dan Susan langsung meninggalkan studio tanpa diminta.
"Aku akan berangkat kerja."
Arnold melihat dandanan tunangannya itu. Rok hitam berbentuk A yang panjangnya di atas lutiut, kemeja warna biru dengan lengan panjang. Rambutnya yang lurus diikat satu. Ada sentuhan make up ringan berupa lipstick dan pemerah pipi yang walaupun kelihatan natural namun semakin menonjolkan kecantikan gadis itu.
"Sayang...kenapa harus berdandan?" tanya Arnold.
__ADS_1
"Ini usul Cassie. Katanya aku akan kerja di perusahaan besar jadi harus dandan sedikit. Jelek ya?" tanya Fairy sambil kedua tangannya memegang pipinya.
"Tidak juga. Hanya aku takut jika ada yang jatuh cinta denganmu. Apalagi bosmu yang ganteng itu"
Fairy tertawa. Dan ia terlihat semakin cantik saja membuat Arnold gemas dan ingin memeluknya jika gadis itu ada didepannya saat ini.
"Aku milikmu, sayang!" kata Fairy sambil menunjukan jarinya yang dilingkari dengan cincin pertunangan mereka.
Arnold jadi bahagia mendengar Fairy memanggilnya sayang. "I love you..!"
"I love you too! Aku berangkat dulu ya...bye...!" pamit gadis itu lalu memutuskan sambungan telepon.
Arnold semakin gemas saja. Pada hal dia ingin memberikan ciuman jarak jauh.
Pandangan Arnold tertuju pada foto papa dan mamanya.
Dad..., mom..., andaikan kalian ada di sini, aku pasti akan sangat bahagia. Aku akan menikah. Namun aku yakin, kalian akan melihatnya dari atas sana. Doakan agar aku bahagia, ya?
********
Fairy terkejut saat meja kerjanya berada satu ruangan dengan presiden direktur.
"Nona Clara, kenapa harus didalam? Kenapa tidak di ruangan yang lain, atau setidaknya didekat mejamu saja?"
Clara tersenyum. Ia tak mungkin akan mengatakan pada Fairy kalau pimpinan perusahaan ini sangat tertarik dengan Fairy.
"Kau akan menjadi asisten pribadi tuan Alex" kata Clara membuat Fairy semakin terkejut.
"Kau akan mendampingi bos jika ada pertemuan atau rapat baik di kantor ini maupun di luar kantor."
"Bukankah itu tugasmu?"
"Ya. Aku menyiapkan segala keperluan tuan Alex secara umum. Namun kau akan menyiapkan yang khusus. Termasuk keperluan pribadinya"
"Keperluan pribadi?"
"Menyiapkan pakaian dan makanannya"
"Apa?"
"Ayolah Fairy. Dengan begitu kau akan meringankan tugasku"
"Lalu, apa yang bisa aku pelajari dari perusahaan ini?"
Clara sudah tahu kalau Fairy pasti akan menanyakan ini. Ia bahkan sudah berdiskusi dengan Alex mengenai ini. Ia tahu gadis sepintar Fairy tak akan puas hanya menjadi asisten pribadinya.
Clara mengambil sebuah laptop dan menyerahkannya pada Fairy "Kau akan menganalisa laporan keuangan yang masuk setiap bulan dan memberikan laporannya kepada tuan Alex."
__ADS_1
"Bukankah itu pekerjaan di bidang keuangan?"
"Tuan Alex ingin kau memeriksa secara khusus sehingga tak ada kecurangan. Ayolah masuk, tuan sudah menunggumu!" Clara sedikit mendorong tubuh Fairy karena sesungguhnya ia hampir kewalahan menjawab pertanyaan gadis itu.
Fairy pun mengetuk pintu perlahan. Setelah terdengar suara Alex yang menyuruhnya masuk, Fairy pun masuk.
"Selamat siang, tuan!"
Alex tersenyum menatap Fairy. Sejak pagi, inilah yang ia inginkan. Melihat wajah peri cantik yang sudah membuatnya gelisah beberapa malam ini.
"selamat datang Fairy Ayudisa. Itu mejamu!" Kata Alex sambil menunjukan sebuah meja yang beraa tepat di depan meja Alex.
"Terima kasih, tuan Alex." ujar Fairy lalu segera menuju ke mejanya. Sebenarnya gadis itu ingin bertanya, namun ia memilih untuk mengerjakan semua yang telah diinstruksikan Clara padanya.
1 jam berlalu....
""Fairy...!" panggil Alex.
Fairy yang sementara membaca file keuangan mengangkat siapkan kopiku"
Fairy menatap jam tangannya. Sudah pukul 3 sore. Sesuai jadwal ini adalah jam minum kopinya, Alex.
"Maaf, tuan. Saya keasyikan membaca sampai tak melihat jam."Fairy segera berdiri dan keluar ruangan.
Clara menunjukan pantri yang letaknya tak jauh dari mejanya. Itu adalah pantri khusus menyiapkan minuman bos dan para tamu. Pantri kariawan ada di lantai dasar.
Fairy sudah membaca semua yang dituliskan Clara padanya. Kopi Alex harus diseduh dengan air mendidi dan menggunakan gula non kalori satu sendok teh.
Setelah siap, Fairy pun membawanya ke ruangan Alex.
"Kalau kamu juga ingin minum kopi atau minuman lainnya, buatlah sendiri" kata Alex
"Terima kasih, tuan." ujar Fairy lalu kembali ke mejanya.
Alex menatap gadis itu sambil menyesap kopinya. Baru 2 jam Fairy berada di ruangan ini, namun Alex sudah merasakan kalau gadis itu membuatnya semangat untuk bekerja. Biasanya di jam seperti ini Alex akan merasa bosan dan sakit kepala. Namun sekarang ini Fairy bagaikan suplemen yang membuatnya menjadi sangat senang dengan pekerjaannya.
Alex sudah menyelidiki tentang latar belakang kehidupan Fairy. Ia sudah tahu kalau gadis itu sudah yatim piatu dan tinggal dengan neneknya. Alex juga tahu kalau Fairy sangat pintar dan berprestasi di kampusnya.
Dari informasi yang Alex dapatkan, kalau di kampus Fairy memang disukai oleh beberapa pria hebat namun gadis itu menolaknya. Itulah sebabnya, Alex sangat penasaran dengan gadis itu dan bertekad untuk menjadikannya miliknya.
fairy yang masih membaca mengetahui kalau Alex sedang memperhatikannya. Ia menatap bos nya itu sambil bertanya ," Ada apa tuan menatapku seperti ini?"
Alex terkejut. Wajahnya langsung merah. Ia bagaikan pencuri yang sedang tertangkap basah. Namun ia cepat menguasai hatinya dan tersenyum "Kau cantik seperti namamu!"
Deg
MAKASI SUDAH BACA
__ADS_1
LIKE, KOMEN DAN VOTE YA..
JANGAN LUPA KASIH BINTANG 5