
Dengan napas yang terengah-engah, Fairy memasuki kelasnya. Pagi ini dia hampir saja terlambat karena pas kakinya di depan pintu, Mr. Thomas yang terkenal sangat disiplin dengan waktu, berdiri tepat dibelakang Fairy.
"Ya ampun Fairy, kamu hampir saja tak bisa masuk kelas hari ini. Kenapa bisa terlambat? Kamu menginap dimana semalam? Kenapa tak memberitahu aku?" Cassie langsung menyerang Fairy dengan pertanyaan yang beruntun membuat Fairy menatap temannya itu dengan mata melotot.
"Satu-satu pertanyaannya. Nafas aku saja belum normal. Jadi bingung mau jawab yang mana."
Cassie menahan tawanya karena Thomas sudah membuka buku tebal yang dibawanya.
"Hari ini akan ada tes" kata Thomas membuat kelas langsung ribut.
Thomas memukul papan tulis dengan penghapus papan yang ada ditangannya.
"Bagi yang tidak mau ikut tes silahkan keluar dari kelas dan jangan harap akan lulus di mata kuliah ini. Bukankah saya sudah katakan diawal pertemuan kita bahwa saya akan mengadakan tes tanpa memberitahukan kapan waktunya. Saya mau tiap mahasiswa selalu mau belajar." kata Thomas tegas tanpa senyum sedikitpun.
Tak ada satupun yang berani membuka suara. Kelas kembali sepi. Beberapa mahasiswa bahkan menundukkan kepalanya karena takut bertatap mata dengan dosen ganteng namun membuat mahasiswa gemetar jika ia sudah bersuara.
Dengan wajah datar, Thomas pun langsung membagikan kertas ujian pada mahasiswa.
Fairy menerima kertas itu dengan tenang. Hanya ada 5 soal yang diberikan oleh Thomas. Namun Fairy tahu membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengerjakannya.
"Waktu untuk mengerjakannya adalah 1 jam" kata Thomas setelah ia selesai membagikan kertas ujian kepada 40 mahasiswa yang mengikuti kelasnya hari ini.
Waktu berjalan dengan sangat cepat. Tak terasa 30 menit sudah berlalu. Fairy hampir menyelesaikan ujiannya hari ini saat dering teleponnya yang sangat kuat membuat semua mata menatapnya.
Keringat dingin langsung membasahi wajah Fairy. Dengan tangan bergetar ia berusaha menemukan hp nya dan mematikan panggilan itu tanpa melihat siapa yang menghubunginya.
"I am sorry, Mr. Thomas!" ujar Fairy dengan wajah bersalahnya. Biasanya sebelum masuk kelas, ia selalu mengubah panggilannya ke mode silent. Namun karena ia terlambat bangun dan jarak dari apartemen Arnold ke kampusnya memakan waktu hampir 1 jam karena jalanan yang macet, Fairy melupakan hp nya itu.
Fairy akhirnya selesai. Ia menoleh ke arah Cassie dan gadis itu nampak sedang menggaruk kepalanya karena pusing dengan dengan jawaban.
"Sudah selesai?" tanya Cassie pelan.
Fairy mengangguk.
"Aku baru 2 soal yang selesai. Masih 3 soal lagi. Pusing!" kata Cassie sambil menepuk dahinya sendiri.
"Fairy, jika sudah selesai, silahkan antar kertas ujiannya ke depan!" Seru Thomas membuat Fairy sangat terkejut. Gadis itu pun berdiri dan mengantar kertas ujiannya pada Thomas, setelah itu ia kembali ke tempat duduknya.
Thomas membaca kertas ujian Fairy. Dalam hati ia mengagumi kepintaran gadis berusia 18 tahun itu.
Ujian dan materi perkuliahan pun selesai. 3 jam yang sangat menguras otak dan juga tenaga.
"Fairy, jika kelasmu sudah selesai, aku tunggu di ruanganku ya.." kata Thomas sebelum meninggalkan kelas.
"Baik, pak!" sahut Fairy sambil menganggukan kepalanya.
Fairy mengambil hp nya yang kembali bergetar. Ia melihat kalau di sana ada nama Arnold.
"Hallo...!" sapa Fairy. Sambil menjauh dari teman-temannya.
"Hallo sayang. Mengapa tadi panggilanku tidak kamu jawab?"
"Aku ada ujian, Ar."
"Maaf ya kalau aku menganggu. Selesai kegiatannya jam berapa?"
"Jam 12 aku selesai dengan jadwal perkuliahan. Setelah itu aku mau ke restoran"
"Aku jemput di kampus ya?"
"Ar, nanti ada orang yang mengenalmu!"
"Sayang, aku akan menyamar. Aku juga akan membawa mobilnya Noah" terdengar suara Arnold yang sedikit memaksa.
"Baiklah. Jemput aku di dekat perpustakaan ya, karena disana agak sepi"
"Ok, sayang. I love you!"
" I love you too..!"
__ADS_1
Cassie mendekat dengan senyum yang menggoda "Cie....cie....i love you too nih. Duh, yang sedang mesra-mesranya...!"
Fairy langsung membungkam mulut Cassie dengan tangannya. Ia takut didengar oleh orang lain.
"Jadi, sudah sampai dimana persiapannya?" tanya Cassie
"Semalam kami pergi untuk membuat baju pengantin di rumah mode nya Alicia Aslon. Kemudian pergi Thomson Berlian untuk memesan cincin pernikahan kami."
Cassie menelan ludahnya dengan mata melotot "Thomson Berlian? Alicia Aslon? Wah..., mau pingsan rasanya. Kau akan mengenakan gaun pengantin hasil rancangan Alicia Aslon? Dan mengenakan cincin pernikahan dari Thomson berlian? Benar-benar pernikahan spektakuler"
"Aku sebenarnya ingin gaun yang sederhana namun Ben Aslon kan sahabatnya Arnold. Dia sendiri yang menawarkannya."
Cassie hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Aku jadi tak sabar menunggu hari bahagiamu"
Fairy pun hanya bisa tersipu. Ia juga tak menyangka akan jatuh cinta dan mengalami pernikahan seperti ini.
*********
Selesai jam kuliah, Fairy segera menemui Thomas di ruangannya.
"Aku akan melaksanakan seminar tentang bisnis di era milenial. Aku ingin melibatkanmu sebagai pendampingku nanti. Kau bersedia?" tanya Thomas
"Maksudnya pendamping?"
"Aku ingin kamu menjadi moderator saat aku memberikan materi."
"Memangnya aku bisa menjadi moderator yang baik? Nanti aku akan mempermalukan kamu" kata Fairy merasa sedikit rendah diri.
"Apakah kau ragu dengan kemampuanmu? Aku yakin kau pasti bisa. Baca dulu materi yang akan ku kirim ke emailmu. Kita dapat berdiskusi nanti."
Fairy nampak ragu. Namun dia akhirnya mengangguk. "Baiklah, Thomas. Aku baca dulu materinya, ya?"
Thomas tersenyum "Baiklah. Kalau begitu mari kita makan siang bersama"
"Maaf. Aku harus bekerja di restoran siang ini"
"Tak masalah. Aku akan makan siang di restoran tempatmu bekerja jadi kita bisa pergi bersama."
"Kamu ada janji dengan seseorang untuk pergi bersama? Atau ada janjian dengan pacarmu?" tanya Thomas saat melihat Fairy nampak ragu untuk pergi bersamanya"
"Bukan seperti itu. Aku hanya tak mau merepotkanmu saja" Fairy memilih berbohong. Ia tak ingin Thomas tahu mengenai Arnold karena ia belum siap hubungannya ini diketahui oleh banyak orang. Ia ingat dengan janjinya pada nenek Anna.
"Tak ada yang merasa direpotkan"
"Kalau begitu aku ke toilet dulu. Boleh pinjam toiletmu?"
Thomas menunjukan sebuah pintu yang ada di sudut ruangan. Fairy bergegas masuk ke sana. Sebenarnya ia tidak ada kepentingan didalam toilet. Yang dia inginkan saat ini adalah menghubungi Arnold.
"Hallo Ar...!"
"Ya sayang. Apakah sudah selesai?"
"Maaf, Ar. Aku...aku.... tidak bisa pergi bersamamu!"
"Mengapa? Apakah kamu takut penyamaranku akan terbongkar? Sayang kamu terlalu khawatir."
"Bukan begitu. Dosenku ingin makan siang di restoran tempatku bekerja. Dan dia mengajak aku untuk pergi bersamaku"
Terdengar suara Arnold yang membuang nafasnya dengan kasar "Sayang, tidak dapatkah kau membuat alasan untuk bisa pergi sendiri? Aku sudah menunggu kamu di sini hampir satu jam"
"Ar...mengertilah kalau aku diposisi yang sulit"
"Up to you!" ujar Arnold lalu mematikan sambungan telepon.
Fairy mencoba menghubunginya lagi namun Arnold sudah tidak mengaktifkan lagi ponselnya. Dengan sedikit kesal, gadis itu keluar dari toilet.
"Kita pergi sekarang?" tanya Thomas.
Fairy hanya mengangguk. Ia pun mengikuti langkah Thomas menuju ke tempat parkir. Keduanya meninggalkan area kampus tanpa menyadari kalau ada mobil yang mengikuti mereka.
__ADS_1
Sesampai di restoran, Thomas langsung memesan makanannya sedangkan Fairy menuju ke ruang ganti untuk mengganti pakaiannya dengan baju pelayan restoran.
"Fairy, ayo temani dosenmu itu untuk makan siang!" kata Giani saat Fairy sudah selesai ganti baju.
"Tapi aku harus kerja. Nanti pak maneger marah"
"Tenanglah. Manager sedang rapat di kantor pusat. Anak-anak yang lain juga pasti tak akan keberatan. Lagi pula dosenmu itu sudah memohon padaku untuk membiarkanmu makan siang dengannya karena kamu sama sekali belum makan"
Fairy tak mampu menolak. Ia memang sejak pagi sama sekali belum makan. Karena terlambat bangun di apartemen Arnold, ia hanya meminum sebuah susu kotak yang diambilnya dari kulkas.
Akhirnya Fairy pun makan siang bersama Thomas sambil berbincang mengenai kegiatan seminar yang akan dilaksanakan pada senin depan.
"Makasi untuk makan siangnya. " ujar Fairy ketika Thomas akan pergi.
"Sama-sama." imbuh Thomas lalu langsung meninggalkan restoran karena tak ingin mengganggu pekerjaan Fairy.
"Dia terlalu tampan untuk menjadi dosenmu!" goda Giani saat Fairy kembali ke meja kasir.
"Dia memang dosenku"
"Aku pikir dia ada hati padamu!" kata Giani lagi membuat Fairy terkejut.
"Apa? Mana mungkin."
Giani tersenyum sambil menatap Fairy "Hei gadis kecil, untuk apa dia makan siang di restoran ini kalau bukan karena ingin lebih punya banyak waktu bersamamu?"
"Aku rasa tak mungkin." Fairy mengibaskan tangannya, lalu segera mengambil nampan untuk membersihkan meja yang baru saja ditinggalkan oleh pengunjung restoran.
Waktu sudah menunjukan pukul 5 sore. Jam kerja Fairy sudah selesai. Ia merasa agak panas karena hari ini pengunjung restoran sangat banyak. Fairy bahkan tak punya waktu untuk melihat hp nya. Ia pun memilih untuk mandi dan menyegarkan tubuhnya.
Saat selesai ganti pakaian, Fairy baru memeriksa hp nya. Ternyata ada 42 kali panggilan tak terjawab dari Arnold dan beberapa pesan.
*Oh...jadi dosen itu yang ingin makan siang di restoran tempatmu bekerja? Sepertinya dia istimewa sekali ya bagimu sehingga kamu lebih memilih pergi dengannya dari pada aku.
katanya hanya akan makan siang di sana. Mengapa juga dia memintamu untuk menemaninya makan? Kamu selingkuh ya...
Fairy, kenapa tak mengangkat teleponku? Aku jadi marah nih* !
Fairy tak mau membaca pesan Arnold yang lain. Ia merasa jengkel karena cowok itu terlalu kekanak-kanakan dengan semua kecemburuannya yang tak beralasan.
Hp Fairy tiba-tiba berbunyi. Ternyata dari Arnold lagi.
"Hallo...!" sapa Fairy berusaha untuk tak menunjukkan suara kesalnya.
"Aku sudah menunggumu lebih dari setengah jam di depan restoran. Kenapa belum keluar juga?"
"Siapa yang menyuruhmu untuk menungguku?" tanya Fairy dengan suara yang masih terdengar tenang namun hatinya mulai panas.
"Fairy..., kalau kamu tak keluar juga, aku akan masuk ke dalam restoran sekarang juga!" kata Arnold dengan suara yang mulai terdengar emosi.
"Baiklah!" Fairy mengahiri percakapan dan segera keluar melalui pintu samping.
Saat ia berada di depan reatoran, ia melihat mobil lamborjini Arnold terparkir manis di sana. Fairy mendekat, lalu membuka pintu sebelah kanan. Saat ia duduk, dilihatnya Arnold yang sama sekali tak menggunakan penyamaran apapun selain topi.
"Kamu sudah gila ya? Kenapa datang dengan dandanan seperti ini?" seru Fairy dengan gugupnya sambil menegok ke kiri dan ke kanan. Ia takut ada yang melihat mereka karena kaca mobil Arnold ini cukup terang.
"Pakai sabuk pengamanmu!" kata Arnold tak menanggapi perkataan Fairy.
Fairy pun mengenakannya.
Arnold segera menjalankan mobilnya. Awalnya mobil itu berjalan dengan kecepatan sedang, namun setelah lepas dari macet, mobil itu langsung melaju dengan kecepatan tinggi membuat Fairy langsung memegang sabuk pengamannya dengan sangat erat.
"Arnold....! Hentikan...!" teriak Fairy karena jantungnya sudah berdetak sangat cepat.
Arnold sama sekali tak mendengar. Kakinya lebih menekan gas mobil sehingga kendaraan itu semakin melaju dengan cepat.
"Arnold, hentikan...! Kalau kamu tak menghentikannya, aku akan melompat!" teriak Fairy sambil membuka sabuk pengamannya.
MAKASI SUDAH MEMBACA BAGIAN INI YA
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE, KOMENT DAN VOTE YA