
Dengan sangat hati-hati, Belinda meletakan Keegan di atas ranjang miliknya. Ia mengambil selimut dan menutupi tubuh Keegan. Belinda pun duduk di depan meja riasnya. Ia membuka rambut palsu yang selama ini selalu ia kenakan saat pergi keluar rumah. Rambut berwarna caramel yang bergelombang. Rambut palsu ini sangat unik. Karena menempel dengan baik. Sekalipun Belinda akan berenang, rambut ini tak akan terlepas kecuali Belinda melepaskan perekat dan pengaitnya.
Saat rambut itu terlepas, terlihatlah rambut asli Belinda. Coklat tua, panjang dan sangat lurus. Belinda melepaskan bulu mata palsunya, menghapus seluruh make up yang dipakainya. Tampaklah wajah polos yang tetap kelihatan cantik. Ingatan Belinda melayang ke peristiwa 5 tahun lalu, ketika dia masih menjadi Fairy Ayudhisa, istri Arnold Manola............
************
Willy dan temannya yang adalah dokter ahli kandungan sudah menyiapkan segala peralatan untuk melakukan tindakan aborsi terhadap Fairy.
"Fai, kamu sudah siap?" Tanya Willy.
"Iya."
"Kamu ganti bajunya dulu ya? Baju dalammu di buka. Tuh toiletnya." Kata Willy sambil menyerahkan baju pasien berwarna hijau.
Fairy menerimanya dan segera masuk ke dalam toilet. Ia membuka kemeja yang dipakainya, membuka dalaman dan rok selutut yang dipakainya. Saat baju pasien itu sudah dipakainya, Fairy merasakan jantungnya tiba-tiba berdetak dengan sangat cepat. Ia menangis sambil memegang perutnya. Ada getaran aneh yang dirasakan ketika perutnya disentuh.
Ya Tuhan, apakah aku harus melakukan semua ini? Haruskah aku menghilangkannya? Aku memang belum siap menjadi ibu, tapi aku juga tak punya hak untuk membunuhnya. Tapi bagaimana dengan Arnold? Bukankah ia juga belum siap?
Fairy menghapus air matanya. Begitu besar keinginannya untuk menjadi wanita karir, jalan untuk itu sudah terbuka jelas. Namun dia juga mencintai Arnold. Dan kini, kehamilan ini menghancurkan semua yang diharapkannya.
"Fairy, apakah kamu baik-baik saja?"
Fairy langsung membuka pintu saat Willy mengetuk pintu toilet.
"Aku sudah siap." kata Fairy lalu melangkah ke arah tempat tidur.
Willy sudah memakai kaos tangannya, demikian juga dokter Glandy.
"Aku akan menyuntikan anti pendaharan dan anti nyeri dulu." kata dokter Glandy lalu mulai mengambil alat suntik dan memasukan obat ke dalamnya.
Saat dokter Glandy akan mengangkat baju pasien itu, tiba-tiba Fairy menahan tangannya.
"Tidak...!"
" Ada apa, Fai?" tanya Willy heran.
"Aku tak mau melakukannya, Willy. Aku menyayangi anak ini. Aku tak mau mengugurkannya." Tangan Fairy langsung memeluk perutnya.
Willy dan Glandy langsung berpandangan sambil tersenyum.
"Kami senang karena kau memutuskan untuk mempertahankan kehamilanmu. Terus berjuang, Fairy. Menjadi ibu itu adalah sesuatu yang menyenangkan." Kata dokter Glandy.
"Willy, please, jangam bilang ke Cassie kalau aku batal menggugurkan kandunganku. Kamu tahu kan kalau dia nggak bisa bohong di hadapan Arnold." Kata Fairy memohon.
"Baiklah. Aku akan menyimpan rahasia kecil ini." Kata Willy. Ia kemudian menatap Glandy. Dokter muda itu pun mengangguk.
"Rahasia pasien aman bersamaku." Kata Glandy membuat Fairy bernapas lega.
__ADS_1
Fairy akhirnya pulang dengan anggapan semua orqng bahwa ia telah mengugurkan kandungannya. Sering kali bila berhadapan dengan Arnold atau Cassie, Fairy berusaha menahan rasa mual dan muntahnya.
Keputusan Fairy sudah bulat. Ia akan mempertahankan kehamilan ini dan terus mengejar cita-citanya. Ia yakin kalau ia bisa bertahan walaupun tanpa Arnold. Fairy saat itu begitu yakin kalau kehamilannya justru akan menganggu persiapan Arnold untuk tour terbesarnya. Arnold juga tak akan pernah mengijinkan Fairy untuk melanjutkan study S2nya di Amerika, apalagi jika Arnold tahu ada Alex dibelakang semuanya. Makanya Fairy memutuskan untuk pergi.
Namun, semua keyakinannya itu goyah saat nenek Anna meneleponnya setelah ia mengirim video wisudanya.
"Apa yang kau sembunyikan dari nenek, Fai? Nenek melihat ada perubahan dalam dirimu. Apakah kau sudah melanggar janji yang sudah kau ucapkan pada nenek? Kau sudah tidur dengan laki-laki?"
Tangis Fairy pecah. "Maafkan aku, nek. Aku sudah menikah tanpa memberitahukannya pada nenek."
"Oh anakku, kau sudah menikah?"
Fairy pun menceritakan siapa Arnold dan bagaimana ia mencintai Arnold dengan segenap hatinya. "Aku tak bisa menolak lamarannya, nek. Semua begitu indah. Aku tak mampu menolak pesonanya karena aku sungguh jatuh cinta padanya."
"Jatuh cinta itu tak salah, nak. Tapi dia itu orang terkenal. Kamu tahu kan akibatnya jika hubunganmu dan Arnold sampai diketahui oleh pihak kerajaan? Mereka akan mengejarmu, Fai. Dan mereka akan memaksa nenek untuk kembali ke sana. Nenek tak mau meninggalkan Indonesia. Nenek mencintai Jakarta, karena di sini ada pusara kakekmu dan papamu."
"Aku tahu, nek. Makanya aku tak mau hubunganku dengan Arnold diketahui oleh orang banyak. Beberapa waktu yang lalu, aku merasa memang ada orang yang mengawasiku dan mengikutiku. Untunglah aku selalu diantar oleh sopirnya Arnold. Tapi nenek tenang saja. Aku akan ke Amerika hari ini. Aku sudah mengirim uang ke rekeningnya Linda untuk membeli tiket bagi nenek dan Linda agar kalian dapat menyusul aku ke Amerika."
"Baiklah, nak."
"Nek, aku hamil."
"Apa?"
"Karena itu aku sangat butuh batuan nenek dan Linda di Amerika. Aku akan bekerja sambil kuliah. Aku yakin bisa kalau kalian ada di sana menemaniku."
"Demi kebaikan kami bersama, demi kenyamanan nenek, aku akan meninggalkan dia. Lagi pula dia tahu kalau aku sudah mengugurkan kandunganku."
"Kau mencintainya?"
"Aku sangat mencintainya. Namun Arnold ingin agar hubungan kami dipublikasikan dan itu berarti membuka peluang bagi mereka untuk menemukan aku dan nenek."
"Nenek tak ingin kamu bersedih, nak. Anakmu nanti membutuhkan kasih sayang ayahnya."
"Ada aku, nenek dan Linda. Anakku nanti akan berlimpah kasih sayang."
"Baiklah. Nenek akan segera mengurus visanya dengan Linda. Kapan kau akan ke Amerika?"
"Hari ini, nek."
"Hati-hati, nak."
"Aku tutup dulu teleponnya. Selamat tinggal, nek." Fairy memasukan telelonnya ke dalam tasnya. Baru saja ia akan naik taxi, ponselnya berbunyi lagi. Ternyata Alex yang menghubunginya.
"Bagaimana pesawatnya, Fai?" tanya Alex.
"Sudah siap, Alex."
__ADS_1
"Aku sendiri yang akan menjemputmu. Aku sudah menyiapkan apartemen untukmu dan nenekmu."
"Terima kasih, Alex."
"Take care"
"Thanks."
Fairy tiba di bandara. Cassie dan Willy sudah menunggunya.
"Fai, apakah kau sudah nekat untuk meninggalkan Arnold?" Tanya Cassie.
"Ya. Mimpiku dan Arnold berbeda. Aku harus pergi. Ini semua demi kebaikan Arnold juga. Please, jangan katakan apapun jika Arnold bertanya padamu."
Cassie mengangguk. Ia memeluk sahabatnya dengan sangat erat. "Aku akan menyusulmu ke Amerika jika kuliahku sudah selesai."
"Kau boleh datang jika Willy menginjinkan." Kata Fairy lalu menatap Willy.
"Aku akan mengambil spesialisku di Amerika." Kata Willy membuat Fairy senang.
"Aku tunggu kalian berdua di sana." Kata Fairy.
"Tolong kembalikan handphone ini pada Arnold." Kata Fairy sambil menyerahkan benda itu ke tangan Cassie.
Ia kembali memeluk Cassie dan kemudian memeluk Willy. Setelah itu ia menarik koper ungunya dan menggendong tas dukungnya. Tas pemberian Arnold saat merek liburan ke Korea.
Di dalam ruang tunggu bandara, Fairy tak bisa menahan air matanya. Terbayang sudah pertemuannya pertama kali dengan Arnold di toilet bandara.
Aku membawa jejakmu didalam perutku. Aku akan menjaganya dengan baik. Aku yakin kau akan mendapatkan penggantiku. Maafkan aku, Arnold.
Fairy memegang perutnya. Mengelusnya perlahan dengan penuh kasih. Tak lama kemudian, terdengar panggilan dari pengeras suara. Fairy menarik napas panjang. Selamat tinggal London, selamat tinggal Arnold.
Di dalam pesawat, Fairy menyimpan kopernya di bagasi yang terdapat di atas tempat duduk. Cassie membelikan tiket dengan kelas bisnis untuknya supaya Fairy nyaman dengan perjalanan yang cukup jauh antara London dan Amerika.
Namun, baru saja Fairy duduk di kursinya, Dua orang berpakaian hitam dengan seorang pramugari mendekati Fairy.
"Maaf, nona, tolong ikut kamu sebentar." Kata salah seorang dari pria berpakaian hitam itu.
Fairy memandang lambang bendera yang ada di dada pria itu. Fairy tahu kalau dia akhirnya ditemukan oleh mereka.
"Kalian salah orang. Aku sama sekali tak mengenal kalian!" Fairy berusaha mencari celah untuk bisa kabur namun pramugari itu tiba-tiba membekap mulut Fairy dengan sebuah saputangan. Sebelum Fairy benar-benar pingsan, terdengar suara pria itu. "Jangan sampai yang lain tahu. Dia tidak pernah turun dari pesawat ini. Ingat itu!"
SAMPAI DI SINI DULU...
MISTERINYA SUDAH TERPECAHKAN SEMUA KAN?
Jangan lupa like, komen dan vote ya
__ADS_1