
Arnold tiba di rumah saat jam sudah menunjukan pukul 1 dini hari. Dia menunggu sampai Rachel bisa tidur baru meninggalkan manssion. Sebenarnya Pelayan sudah menyiapkan satu kamar untuk Arnold. Namun Arnold memilih pulang. Ia sangat merindukan istrinya. Sekalipun Rio sudah mengatakan hal apa yang menyebabkan Fairy ada di rumah sakit, tapi ia juga ingin mendengarkan langsung dari istrinya itu.
Saat pintu kamar di buka. Suasana tampak remang. Arnold tahu Fairy pasti sudah tidur. Ia mengganti pakaiannya lalu ikut bergabung dengan istrinya di atas ranjang. Tangannya melingkar dipinggang Fairy.
"Sayang, sudah tidur?" Tanya Arnold sambil menyusupkan tangannya dibalik kemeja piyama Fairy dan mengelus perut istrinya. Namun Fairy tak menanggapinya. Ia terlihat tenang dalam tidurnya bahkan ada dengkuran halus.
"Tidurlah peri kecilku. Nanti besok kita bicara." Kata Arnold. Ia juga merasa lelah dan sangat mengantuk. Ia harus menyiapkan tenaganya untuk acara pemakaman besok sore.
************
Pagi-pagi sekali, Fairy sudah terbangun. Ia mengangkat tangan Arnold yang melingkar di perutnya dan turun perlahan dari atas tempat tidur. Semalam ia tertidur karena tubuhnya lelah. Apakah karena efek kehamilannya?
Saat memasuki kamar mandi, Fairy segera menutup pintu di belakangnya. Ia kemudian mengambil test kehamilan yang disembunyikannya di salah satu laci.
Fairy mengadakan tes kembali. Saat melihat hasilnya, kepala perempuan itu kembali sakit. Ada dua garis di sana. Berarti hasilnya sama dengan yang tes yang dilakukannya semalam.
Fairy terduduk lemas di pinggiran bak mandi. Hatinya bagaikan diramas kuat menerima kenyataan ini.
Ya Tuhan, bagaimana ini? Usiaku baru 19 tahun. Aku sedang menghadapi persiapan tugas akhirku. Aku belum siap hamil. Aku belum mampu menghadapi situasi ini? Bagaimana jika nenekku mendengarnya? Aku bisa bayangkan wajah kecewanya.
Air mata Fairy jatuh. Ia sungguh tak mampu menghadapi semua ini. Ia juga tak bisa membayangkan reaksi apa yang akan Arnold berikan padanya. Arnold pasti kecewa. Arnold pasti juga belum siap.
"Sayang....!" Panggilan dibalik pintu dan bunyi pintu yang dibuka paksa dari luar mengagetkan Fairy. Ia baru sadar sudah menangis keras tanpa sadar bahwa suara tangisnya bisa didengar oleh Arnold.
"Sayang, kenapa pintunya di kunci?" Arnold mengetuk pintu dengan suara yang terdengar khawatir.
Fairy buru-buru menyembunyikan tes kehamilan itu, menghapus air matanya dan segera membuka pintu.
"Ada apa? Aku mendengar kau menangis. Sesuatu terjadi padamu?" Arnold langsung memberondong Fairy dengan berbagai pertanyaan.
"Tidak." Fairy melangkah melewati Arnold lalu duduk di atas sofa. Arnold menyusul dan duduk di samping istrinya.
"Jangan membohongiku. Ada apa?" Tanya Arnold sambil menyentuh pipi Fairy.
Haruskah aku mengatakannya disaat Arnold sedang berduka setelah kematian bibinya? Apakah sebaiknya aku menunggu sampai bibinya dimakamkan?
"My baby.., what's wrong? Is everything all right?" Suara lembut Arnold membuat Fairy tak bisa menahan air matanya lagi.
Arnold membawa Fairy ke dalam pelukannya. "Baby, tell me what's your problem."
"Nenek Anna sakit. Dan aku tak bisa pulang untuk menemuinya." Ah, hati Fairy sakit. Ia belum bisa mengatakan tentang kehamilannya. Maafkan aku, nenek.
Tangan Arnold membelai rambut Fairy dengan penuh kasih. Ia tahu Fairy sangat menyayangi neneknya itu.
"Siapa bilang kamu tidak bisa pulang untuk menemuinya? Kau dapat pulang dengan pesawat pribadiku. Aku pastikan kalau kamu akan tiba dengan selamat. Memang aku tidak bisa mengantarmu karena harus menemani keluargaku."
Dalam pelukan Arnold Fairy menggeleng. "Aku tetap tak bisa. Dua hari lagi aku akan ujian awal mengenai tugas akhirku. Pekerjaanku juga sangat banyak di kantor karena proyek yang baru saja kutangani."
__ADS_1
Arnold melepaskan pelukannya. Ia menatap Fairy sambil menghapus air matanya. "Sayang, bolehkah aku sedikit egois memintamu untuk berhenti bekerja? Konsentrasilah pada tugas akhirmu. Setelah kau selesai kita akan menghadap nenekmu dan menjelaskan tentang hubungan kita."
"Ar, aku ingin lanjut S2."
"What?"
"Ar, sebelum kita menikah aku sudah katakan padamu tentang keinginan dan harapanku. Waktu itu kau bilang akan mendukungku. Aku tahu menjadi istrimu dari segi materi aku tak akan kekurangan apa-apa. Tapi aku juga punya mimpi yang kuraih." Kata Fairy dengan pelan namun penuh penekanan.
Arnold menarik napas panjang. Ia tahu segala impian Fairy. Rasa ingin memiliki membuatnya mengabaikan semua itu. Arnold baru sadar bahwa Fairy bukanlah gadis rumahan yang akan mendampinginya kemana saja ia akan pergi. Fairy punya mimpi yang tidak ada hubungannya dengan Arnold.
Kedua pasangan suami istri itu saling diam. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Bibiku akan dimakamkan hari ini. Jam 3 sore. Aku harap kau akan ada di sana. Kau adalah istriku." Kata Arnold. Ia berdiri. "Jika ada kesempatan untuk pulang. Temuilah nenekmu. Pesawatku selalu siap untukmu. Aku mau mandi dulu dan akan pergi ke kediaman Thomson."
Fairy menatap Arnold yang melangkah menuju ke kamar mandi. Dadanya sangat sesak dan tiba-tiba saja ia merasa pusing dan mual.
*********
Arnold meninggalkan rumah tanpa sarapan. Ia hanya memberikan kecupan di dahi Fairy dan segera berlalu dengan mobilnya.
Setelah Arnold pergi, Fairy segera mandi dan menelepon Cassie untuk menemaninya ke tempat Doroty berada. Namun Cassie ada ujian sehingga tak bisa menemani Fairy.
Fairy memang ingin menemui Doroty untuk mengetahui keadaan anaknya dan juga sangat penasaran dengan apa yang dikatakan oleh perempuan itu. Ia tahu masih punya banyak waktu sebelum pemakaman itu. Ia memutuskan untuk pergi sendiri dengan mobil tanpa ditemani Rio karena Rio pasti akan melaporkan pada Arnold apa yang dikerjakannya.
Saat mobil Fairy memasuki area pelaksanaan sirkus, suasana masih sepi karena sekarang masih jam 10 pagi. Fairy melihat tenda berwarna merah dan secara kebetulan Doroty sudah berdiri di depan tendanya.
"Bagaimana putrimu?" Tanya Fairy mengalihkan rasa takutnya.
"Putriku sudah membaik. Dia ada di tenda kakeknya untuk menjalani pengobatan ramuan keluarga kami. Ayolah masuk!"
Agak ragu Fairy melangkah masuk ke dalam tenda merah itu. Di dalamnya ada sebuah meja dengan dua buah kursi yang saling berhadapan diantara meja itu. Penerangannya cukup terang membuat Fairy sedikit tenang.
"Duduklah anakku. Kau sungguh membuatku tertarik sejak pertama kali melihatmu."
Fairy duduk di hadapan Doroty.
"Berikan tangan kananmu." Kata Doroty.
Fairy mengulurkan tangan kanannya. Doroty menerima tangan Fairy kedua tangannya. Memeluk tangan mungil itu diantara kedua tangannya. "Pejamkan matamu, biarkan aku masuk ke dalam dirimu. Arahkan saja pikiranmu padaku. Jangan takut!"
Fairy menarik napas panjang lalu memejamkan matanya. Ia berusaha melakukan apa yang Doroty perintahkan.
Agak lama Doroty memegang tangan Fairy lalu ia melepaskannya dan membuat Fairy membuka matanya.
"Ah, sayang sekali...." Doroty menggelengkan kepalanya dengan wajah sedih.
"Ada apa?"
__ADS_1
"Mengapa bayangan kematian itu tak mau pergi darimu? Kau sangat cantik dan luar biasa. Kau punya impian yang besar."
Dada Fairy berdetak dengan sangat cepat. "Apakah aku akan mati?"
"Aku tak tahu, sayang. Aku bahkan tak bisa melihat kematian siapa itu. Jalan di depanmu sangat gelap. Tapi aku bisa melihat bahwa seorang bayi laki-laki sedang tumbuh di perutmu."
"Laki-laki?"
"Ya. Dan keputusanmu untuk mempertahankan atau melepaskan bayi ini akan menentukan jalan hidupmu ke depan."
"Apa yang harus aku lakukan?"
"Aku tak bisa mengatakannya karena itu tak akan bisa merubah semua yang sudah ditentukan takdir untukmu. Nenekmu adalah kunci untuk membuka gerbang hitam yang tak bisa kutembus. Sebaiknya cepatlah jujur pada suamimu."
Fairy pergi dari tenda Doroty dengan pikirannya yang semakin kalut. Apakah suatu kesalahan ia datang ke tempat Doroty. Bukankah sebaiknya ia memutuskan sendiri?
Tangan Fairy mencengkeram stir mobilnya dengan sangat kuat. Ia berhenti dipinggir jalan dengan tangis yang semakin dalam. Jujur, ia begitu bingung. Haruskah ia menyesali pernikahannya dengan Arnold yang telah menyebabkan ia hamil saat ini? Tapi pernikahan yang mereka jalani begitu indah. Fairy merasakan cinta dan perhatian Arnold begitu besar padanya. Seharusnya bukan pernikahannya yang harus ia sesali tapi kecerobohannya yang dengan sengaja melupakan tanggal suntikan kontrasepsinya.
Bunyi ponselnya membuat Fairy menghapus air matanya. Ada panggilan videocall dari Arnold. Fairy menghapus air matanya dan menerima panggilan itu setelah memakai kacamata hitamnya.
"Sayang, kau ada dimana? Aku menelepon Rio dan dia mengatakan kalau kau susah pergi sendiri." suara Arnold yang lembut seolah menyatakan bahwa pertengkaran kecil mereka tadi pagi sudah terselesaikan.
Fairy tersenyum. "Eh, aku mengunjungi anak yang kutabrak kemarin."
"Dia tidak apa-apakan?"
"Ya. Tapi tetap saja aku merasa khawatir."
"Kau menangis lagi?"
Fairy menggeleng.
"Hidungmu merah sayang. Dan baru kali ini kau menerima teleponku dengan menggunakan kacamata hitam. Cepatlah datang ke sini. Setelah pemakaman bibiku, kita akan bicarakan hal penting yang kau sembunyikan dariku."
Fairy menjadi tegang. Apakah Arnold sudah tahu?
"Apakah kau sudah tahu?"
"Aku sebenarnya hanya menebak saja. Namun aku tahu sekarang bahwa kau memang menyembunyikannya. Kita bicara setelah pemakaman."
"Baiklah."
Fairy meletakan kembali hp nya ke dalam tasnya. Tangannya memegang perutnya dengan perasaan yang semakin gelisah. Aku harus bagaimana???
Tisue...mana tisue ya....
Kasih like, komen dan vote ya...
__ADS_1
part ini dan selanjutnya masih sedih2 dulu jangan menyerah utk baca ya...????