SONG IN MY LIFE

SONG IN MY LIFE
Akal-akalannya Fairy


__ADS_3

Arnold menurunkan tubuh Fairy yang digendongnya saat keduanya sudah berada di dalam kamar.


Fairy terkesiap melihat isi kamar Arnold yang sangat berbeda dibandingkan waktu ia tidur di sini saat Arnold melamarnya. Dinding kamarnya sudah dicat berwarna putih, yang lalu berwarna biru muda. Ranjangnya sudah diganti dengan ranjang yang lebih besar. Sudah ada meja rias, sofa berwarna cream, dan di dinding kamar ada foto mereka berdua yang diambil minggu lalu saat keduanya ada di taman.


"Kamu suka?" tanya Arnold sambil memeluk Fairy dari belakang dan meletakan dagunya di bahu Fairy.


"Aku suka kamarnya. "


"Kalau foto pernikahan kita sudah jadi, aku ingin menaruhnya di dinding yang berhadapan dengan ranjang kita. Supaya setiap kali kita bangun tidur, kita akan mengingat hari bahagia ini" ujar Arnold lalu ia membalikan tubuh Fairy agar berhadapan dengannya.


"Kau bahagia?" tanya Arnold sambil membelai wajah Fairy.


"Haruskah aku menjawabnya? Tidakkah kau melihatnya di mataku?"tanya Fairy sambil beradu pandang dengan suaminya.


Arnold menatap mata indah didepannya dengan hati bergetar "Aku mencintaimu!" ujarnya sedikit berbisik, menggoda dengan tangannya yang sudah ada dipunggung Fairy dan perlahan menarik reslating gaun yang dikenakan Fairy.


"Eh....Arnold.., aku mau mandi dulu. Badanku rasanya bau dan lengket. Bolehkan?" tanya Fairy sambil mundur dua langkah.


"Aku juga mau mandi. Kita mandi bersama?" tanya Arnold menggoda dengan kepala yang sedikit miring menatap Fairy.


"Mandi bersama?" tanya Fairy dengan wajah merah merona.


"Kenapa? Apakah tidak boleh? Aku kan suamimu. Kita sudah sah menjadi suami istri. Arnold kembali menarik Fairy sehingga tubuh Fairy sudah menempel pada tubuh Arnold.


"Arnold,a.....ku, mandi sen...diri, ya?" Kata Fairy agak tersendat. Ia kemudian berlari menuju ke kamar mandi sambil menahan gaunnya yang hampir jatuh karena Arnold sudah berhasil menurunkan reslating bajunya.


Tawa Arnold langsung pecah melihat istrinya yang lari terbirit-birit memasuki kamar mandi.


Sabar Arnold. Dia masih 18 tahun....


**********


Fairy sudah selesai mandi. Saat ia sementara mengeringkan rambutnya, gadis itu baru sadar kalau ia tak membawa baju ganti.


Aduh...., bagaimana aku bisa keluar tanpa baju ganti? Masa iya harus pakai gaun yang tadi? Aku kan harus ganti dalaman juga.


Fairy menatap seluruh bagian kamar mandi ini dan ia langsung tersenyum melihat ada jubah handuk berwarna putih yang digantung disudut kamar mandi.


"Sayang, mandinya lama sekali. Sudah 40 menit berlalu. Aku juga mau mandi" terdengar suara Arnold yang berdiri di depan kamar mandi sambil mengetuk pintu kamar mandi secara perlahan.


"Iya. Aku sudah selesai!" kata Fairy lalu mengenakan jubah mandi itu. Setelah itu ia membungkus rambutnya yang masih basah dengan handuk, ia pun bergegas membuka pintu kamar mandi.


"Kau cantik !" puji Arnold yang masih berdiri di depan pintu kamar mandi.


"Terima kasih!" Fairy agak tersipu malu.


"Bajumu sudah siapkan oleh Rachel di dalam lemari. Aku mandi dulu ya...!" kata Arnold, lalu menghadiahkan satu kecupan di dahi Fairy sebelum masuk ke kamar mandi.


Fairy pun mengangguk dan segera melangkah ke arah walk in closet yang ada di sana. Saat ia masuk ke dalamnya, gadis itu terkejut. Hanya ada 2 gaun tidur yang tergantung di sana dan beberapa dalaman untuknya dan juga untuk Arnold. Di bagian lain ada juga beberapa kaos dan celana pendek milik Arnold.


Aku tak mungkin memakai pakaian milik Arnold kan? Itu terlalu besar untukku. Lalu, apakah aku harus memakai gaun tidur ini?

__ADS_1


Tangan Fairy terulur untuk mengambil gaun tidur itu. Modelnya sama hanya warnanya saja yang berbeda. Gaun tidur yang terbuat dari sutra. panjangnya hanya sebatas lutut, bagian belakang yang terbuka, belahan dadanya agak rendah dan hanya ada satu tali yang akan bergelantungan dipundaknya.


Agak terpaksa Fairy mengenakan gaun itu. Setelah baju itu terpasang di tubuh rampingnya, Fairy merasakan tubuhnya merinding. Rasanya seperti memakai baju dalam saja. Seumur hidup, Fairy tak pernah memakai gaun yang sangat terbuka seperti ini.


Ia membuka handuk yang membungkus kepalanya agar rambut panjangnya dapat menutupi punggungnya yang terekspos. Sebagian rambutnya ditariknya ke bagian depan untuk menutupi dadanya.


Setelah menarik napas panjang, Fairy keluar dari walk in closet sambil membawa handuk dan jubah mandi yang dipakainya tadi.


Ia berdiri si depan meja rias, menatap ke arah cermin.


Ya ampun! Gaun ini sungguh tak pantas ku gunakan. Terlalu tipis dan terlalu terbuka.


Pintu kamar mandi terbuka. Fairy menoleh. Ia tanpa sadar berteriak kaget saat melihat Arnold keluar hanya menggunakan boxer dan tangan kanannya memegang sebuah handuk kecil yang dipakai untuk mengeringkan rambutnya.


Fairy membalikan tubuhnya sambil menutup matanya dengan kedua tangannya.


"Arnold, ayo pakai bajumu!" seru Fairy.


Arnold mendekat. Melempar handuk yang ada ditangannya ke atas kursi kayu yang ada disampingnya meja rias, lalu memeluk tubuh Fairy dari belakang.


"Kenapa juga harus pakai baju kalau tak lama lagi aku harus membukanya?" ungkap Arnold sambil menyingkirkan rambut Fairy yang ada di bahunya, memberikan ciuman ringan di sana, seringan bulu, membuat Fairy sedikit bergidik merasakan sensasi asing yang baru pertama kali dirasakan olehnya.


"Ar......!" Fairy kehilangan kata-kata saat ciuman Arnold sudah mendarat ke lehernya sementara tangan Arnold membelai lembut perut Fairy dan membuat bulu kuduk gadis itu berdiri.


Arnold perlahan membalikan tubuh Fairy, keduanya kini saling berhadapan. Mata Arnold menatap manik coklat didepannya. Menunjukan perasaan cinta yang tak dapat dibendung lagi. Perlahan Arnold mendekatkan wajahnya, memberikan senyum menggodanya sebelum akhirnya ia menyentuh bibir Fairy dengan bibirnya. Menggesekkan bibirnya sebentar, seolah ingin menghirup manisnya bibir perempuan yang sudah menjadi istrinya itu, lalu secara perlahan Arnold menggerakkan bibirnya, hendak memperdalam ciuman itu, membuat tubuh mereka begitu erat.


Fairy sesaat terbuai. Ia menerima ciuman itu dengan rasa yang sama. Ia hampir saja terlena dan hampir menyerah pasrah dalam rangkulan Arnold. Namun akal sehatnya kembali menyadarkan dia dan perlahan ia melepaskan diri dari pelukan Arnold, mendorong tubuh atletis itu perlahan dengan napas yang tersengal-sengal.


"Aku lapar!" ujar Fairy berbohong. Ia tak tahu alasan apa yang harus diungkapkannya karena ia tak mau membuat Arnold tersinggung dengan penolakannya.


Arnold tersenyum "Maafkan aku, sayang. Aku begitu terburu-buru sampai lupa kalau kamu belum makan"


Fairy hanya tersenyum. Pura-pura malu pada hal hatinya lega karena Arnold bisa menghentikan hasratnya untuk menyatukan dirinya dengan Fairy.


Setelah memberikan ciuman manis di dahi Fairy, Arnold masuk ke dalam walk in closet untuk memakai bajunya.


"Ayo kita ke bawa untuk melihat makanan apa yang bisa kita makan!"


"Tapi gaunku!" Fairy sedikit risih dengan gaun tidurnya.


Arnold mendekati balkon kamar, melihat ke arah taman tempat pesta mereka baru saja berakhir.


"Sepertinya mereka sudah selesai bersih-bersih. Pasti paman Scott dan bibi Lun sudah pergi ke mansion ku. Jadi kita tinggal berdua di rumah ini. Ayo!" Arnold langsung menarik tangan Fairy. Keduanya pun menuruni tangga sambil berpegangan tangan.


Di meja makan ternyata sudah tersedia makan malam.


"Mereka telah menyediakan nya bagi kita." Kata Arnold lalu menarik kursi untuk diduduki oleh Fairy.


"Makasi, Ar" ujar Fairy. Gadis itu membuka penutup makanan dan berusaha untuk menunjukan rasa laparnya walaupun perutnya masih terasa penuh.


Arnold menuangkan anggur ke dalam gelas. Ia menyerahkan satu gelas kepada Fairy dan satunya lagi untuk diminumnya sendiri.

__ADS_1


Keduanya menikmati makan malam tanpa banyak bicara. Fairy sementara memutar otaknya, mencari jalan untuk membuat malam ini berlalu tanpa ada penyatuan.


Sementara Arnold, ia terus memandang Fairy, berusaha menikmati makanannya walaupun ia sudah tak sabar untuk membawa istrinya itu kembali ke kamar.


"Ar, biar aku yang bereskan mejanya." kata Fairy lalu segera mengambil peralatan makan yang mereka gunakan dan membawanya ke tempat pencucian piring.


"Biar aku membantu supaya agak cepat."kata Arnold yang sudah menempatkan dirinya di samping Fairy dan segera membantu Fairy memasukan peralatan makan ke mesin pencuci piring agar cepat kering.


10 menit kemudian, dapur sudah kelihatan rapih dan bersih.


"Ar, kita duduk di sini dulu. Perutku sangat kenyang karena makannya banyak!" ujar Fairy beralasan lagi lalu ia segera duduk di sofa ruang tamu sambil pura-pura membuka sebuah majalah yang ada di atas meja.


Arnold yang sudah bersiap untuk menaiki tangga menatap Fairy dengan sedikit menahan geramnya. Ia tahu kalau Fairy sedang membuat alasan. Karena ia melihat dengan jelas kalau Fairy makan sangat sedikit tadi.


Ia pun mengarahkan langkahnya menuju ke tempat Fairy duduk, lalu duduk di samping gadis itu sambil memperhatikan apa yang Fairy lakukan.


"Wah, di majalah ini ada berita tentangmu. Ini saat kamu menerima penghargaan ya?" tanya Fairy.


"Iya. Itu penghargaan untuk para pekerja musik di Jerman. Aku mendapatkan penghargaan sebagai penyanyi dari negara luar yang terbaik" jawab Arnold sedikit menahan rasa kesalnya.


"Oh...begitu!" Fairy menganggukkan kepalanya lalu membalikan halaman berikutnya. Ia pura-pura membacanya walaupun sebenarnya ia tidak konsentrasi. Beberapa kali Fairy mengajukan pertanyaan dan Arnold menjawabnya walaupun mulai bosan dengan tingkah istrinya itu.


"Sayang....!" Arnold memegang tangan Fairy, mengalihkan pandangan gadis itu dari majalah ke Arnold.


"Ada apa?" tanya Fairy.


"Kalau memang kamu belum siap melalui malam pengantin ini, aku tak akan marah. Aku mau ke kamar lebih dulu. Selamat malam!" Arnold mencium pipi Fairy lalu segera meninggalkan gadis itu sendiri.


Fairy menatap kepergian Arnold dengan perasaan yang tidak enak. Ia dapat melihat kalau tatapan mata Arnold begitu kecewa. Ia mengingat lagi percakapannya dengan Cassie semalam yang menasehatinya untuk berani melalui malam pengantin mereka.


Dia sudah sah menjadi suamiku. Aku tidak melanggar janjiku pada nenek Anna. Aku seharusnya tidak boleh seperti ini.


Fairy melepaskan majalah yang ada ditangannya. Ia melangkah perlahan menaiki tangga. Saat ia membuka pintu, dilihatnya Arnold sedang duduk di atas sofa sambil memainkan hp nya.


"Sayang.....!" panggil Fairy dengan suara yang bergetar. Sebenarnya ia sangat malu untuk mengatakan ini.


Arnold menoleh ke arah Fairy. Tatapan matanya terlihat lembut. Sepertinya rasa kesal Arnold sudah berkurang. "Ada apa? Kamu sudah mengantuk? Tidurlah. Aku mau memeriksa email dulu" kata Arnold lalu kembali mengarahkan pandangannya ke layar hpnya.


Dengan sangat pelan Fairy melangkah sampai akhirnya berdiri di depan tempat duduk Arnold.


"Ar, make me yours completely!"


Arnold terkejut mendengar perkataan Fairy. Ia melepaskan hp ditangannya lalu beranjak dari tempat duduknya. Kini keduanya saling berhadapan. Tatapan mata mereka bertemu. Ada senyum bahagia di wajah Arnold.


"Ok. Don't ask me to stop!" ujar Arnold lalu menarik gadis itu menuju ke ranjang pengantin mereka.


MAKASI SUDAH MEMBACA PART INI


APAKAH FAIRY DAN ARNOLD BISA MELEWATI MALAM PENGANTINNYA DENGAN BAIK?


jangan lupa like, komen, vote dan kasih bintang 5 ya??

__ADS_1


__ADS_2